Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Balada Sopir Bus, Tak Bisa Lebaran Bareng Keluarga Demi Mudik Penumpang

Balada Sopir Bus, Tak Bisa Lebaran Bareng Keluarga Demi Mudik Penumpang
Bus Sempati Star bersiap berangkat ke tempat tujuan (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Intinya Sih
  • Ibnu, sopir bus antar provinsi asal Aceh Timur, kembali harus merayakan lebaran di dalam bus karena tuntutan pekerjaan dan aturan perusahaan yang membuatnya tak bisa pulang empat tahun berturut-turut.
  • Selama sembilan tahun bekerja, Ibnu hanya bisa pulang setiap tiga bulan sekali dan berencana kembali ke kampung bulan depan setelah masa sibuk lebaran usai dengan penghasilan meningkat hingga Rp600.000 per trip.
  • Berbeda dengan Ibnu, Irfandi sopir rute Medan–Jakarta bersyukur bisa lebaran bersama keluarga di rumah setelah dua tahun sebelumnya merayakan di jalan, sambil menantikan bonus lebaran dari perusahaannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN Times - Di warung makan sempit dekat loket bus Sempati Star, Ibnu AR (54 tahun) dan teman-teman sesama sopir menanti bedug berbuka puasa. Sesekali tatapannya gamang menatap layar ponsel kala bertukar kabar dengan anak dan istri. Sebab sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ia terpaksa harus "lebaran di dalam bus" lagi.

Meski pilu semakin menghimpit dadanya, namun ketika berjumpa dengan penumpang dan orang-orang, Ibnu tak pernah absen menerbitkan senyum. Sebab di satu sisi dari lubuk hatinya paling dalam, apa yang ia alami hari ini merupakan kewajiban seorang ayah dalam menghidupi keluarganya.

1. Sudah sering lebaran di bus, tahun 2026 Ibnu juga tak bisa lebaran bareng keluarga

IMG_20260319_112733.jpg
Ibnu AR sopir bus Sempati Star (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Ibnu merupakan sopir bus antar provinsi yang bekerja di Sempati Star. Kota yang biasa menjadi tujuan akhirnya adalah Aceh, Pekanbaru, Palembang, bahkan Jakarta.

Kepada IDN Times Ibnu bercerita bahwa tahun ini ia tak bisa merasakan hari pertama lebaran bersama keluarga. Momen "lebaran di dalam bus" akhir-akhir ini selalu dirasakannya sejak Covid-19.

"Iya, enggak bisa (pulang) Saya. Karena saya kan bekerja dan memenuhi peraturan perusahaan. Siap tugas di mana saja meski pulang untuk lebaran enggak bisa. Sudah empat tahun lah ini berturut-turut tidak lebaran di rumah," curhat Ibnu, Kamis (19/3/2026).

Ia merupakan ayah dari 4 anak. Untuk melepas kangen, Ibnu biasanya melakukan panggilan video call saat pagi hari di lebaran pertama. Keluarganya yang tinggal di Aceh Timur sudah paham betul kesibukan sopir berusia 54 tahun ini. Sebab, apa yang ia lakukan semata untuk menafkahi keluarganya di desa.

"Memang, inginnya kita kan kumpul keluarga. Tapi kita punya pekerjaan kan, jadi kita harus bekerja juga, ya. Jadi lebaran di bus aja, biarpun air mata kita menetes ingat anak-anak di sana. Ya bagaimana lagi? Karena kita di rantau," ujarnya bernada haru.

2. Baru bisa pulang kampung di bulan depan

IMG_20260319_112826.jpg
Bus Sempati Star (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Ibnu sudah menjadi sopir bus antar provinsi selama 9 tahun. "Sudah hampir dua kali mati SIM," katanya sembari berkelakar. Biasanya, Ibnu pulang ke rumah setiap 3 bulan sekali. Atau ia akan mampir menjenguk anak dan istri kala mendapat rute Medan-Aceh.

"Anak saya ada 4 orang di rumah. Yang besar sudah kuliah, ada yang masih SMA, ada yang masih kecil 5 tahunan. Lebaran ini anak-anak saya di rumah kumpul semua. Mereka sudah ngerti kondisi saya, karena saya dekat dan terbuka dengan keluarga. Mungkin nanti tanggal 5 bulan depan saya balik ke kampung," beber Ibnu.

Momen lebaran bagi perusahaan transportasi merupakan puncak kesibukan. Begitu juga dengan Ibnu selaku sopir antar provinsi yang gembira karena berangkat dengan kursi penumpang yang penuh.

"Gaji kami itu 10 persen dari pendapatan per-tripnya, sudah potong minyak dan potong semua. Nanti 10 persen itu kami bagi berempat dengan kernet. Kalau lagi lebaran ini, saya bisa dapat gaji Rp500.000 sampai Rp600.000 mungkin. Kalau hari normal cuma Rp200.000 sampai Rp250.000 saja. Tapi kadang-kadang di jalan, kita ada dapat sewa-sewa tambahan di jalan, lumayan untuk uang beli rokok," jelasnya.

3. Euforia sopir bus antar provinsi yang tahun ini bisa lebaran bareng keluarga di rumah

IMG_20260319_112742.jpg
Irfandi sopir bus Sempati Star rute Medan-Jakarta (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Berbeda dengan Ibnu, sopir bus rute Medan-Jakarta bernama Irfandi bisa lebih bernapas lega. Tahun ini, ia bisa merayakan lebaran bersama anak istri di rumahnya.

"Saya pulang pergi ke Jakarta. Saya tinggal di Jakarta, karena saya bawa rute Medan-Jakarta. Jadi anak istri di sana. Saya berangkat malam ini, mudah-mudahan lebaran pertama sampai di Jakarta kalau gak ada kendala. Dua tahun ini bersyukur bisa lebaran di rumah," ungkap Irfandi.

Ia bercerita bahwa sudah berkali-kali merasakan lebaran di jalanan. Bahkan kala euforia malam takbiran menggema, ia hanya bisa merasakannya bersama para penumpang saja.

"Senang tahun ini bisa lebaran bareng anak istri. Istri juga sudah menunggu, sudah menyiapkan masakan katanya," jelas sopir bus yang sudah mengarungi panasnya aspal sejak 2008.

Rute Medan-Jakarta biasanya ditempuh dalam tempo 3 hari. Dalam satu trip, gaji yang didapat Irfandi bisa sampai Rp1 juta. Di momen lebaran ini, selain bertatap muka dengan keluarga, yang paling Irfandi tunggu adalah bonus lebaran.

"Di masa lebaran ini ada bonusnya. Belum tahu berapa, saya belum ambil. Biasanya tahun lalu sampai Rp1 juta lebih," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More