Dari Jual Es Dawet Harga Rp3 Ribu Naela Bisa Berangkat Haji Sekeluarga

- Keluarga Naela Uktuvia Rangkuti asal Deli Serdang berhasil berangkat haji sekeluarga setelah menabung selama delapan tahun dari hasil jualan es dawet.
- Naela, kini 19 tahun, menjadi jemaah termuda di kloter 15 dan telah mendaftar haji sejak usia 11 tahun dengan dukungan penuh dari orang tuanya.
- Sang ibu, Luluk Ima Khaaridah, berjuang menjual es dawet seharga Rp1.500–Rp3.000 sambil mengurus keluarga, membuktikan ketekunan dan keyakinan bisa mewujudkan impian ke Tanah Suci.
Medan, IDN Times – Impian berangkat haji sekeluarga akhirnya terwujud. Naela Uktuvia Rangkuti, mahasiswi 19 tahun, akan terbang ke Tanah Suci bersama orang tuanya tahun ini. Mereka berempat adalah Naela, Yanri Effendi (ayah), Luluk Ima Khaaridah (ibu), dan Anisyah Khoiroh Rangkuti (kakaknya).
Mereka merupakan kelompok terbang (kloter) 15 yang berasal dari Deli Serdang.
Menariknya dari kisah ini adalah sang ibu sehari-hari adalah penjual es dawet. Dari jualan segelas Rp1.500 sampai Rp3.000, keluarga ini nabung 8 tahun demi bisa ke Baitullah bareng.
1. Naela menjadi jemaah termuda di kloter 15 yang mendaftar haji sejak usia 11 Tahun

Naela jadi salah satu calon jemaah haji termuda. “Alhamdulillah saya sudah lama menabung semenjak 8 tahun lalu. Saya daftar dari tahun 2018,” kata Naela.
Saat itu usianya baru 11 tahun.
Dia menceritakan tahapan dalam menabung berawal dari dibantu hasil kerja orang tuanya.
Baginya, tidak ada keterpaksaan untuk berangkat ke tanah suci menjalankan rukun iman ini.
"Biar bisa nanti bareng sama Mama sama Ayah. Saya merasa senang, bahagia bisa bareng sama keluarga karena itu termasuk impian kami bersama," ungkap Naela sebagai motivasinya.
2. Sang Mama sebagai Ibu Rumah Tangga sekaligus lejuang es dawet

Di balik Naela, ada sosok ibu tangguh. Sambil urus rumah tangga, ia membantu suami untuk mencari nafkah dengan berjualan es dawet.
“Saya sebagai ibu rumah tangga tapi saya membantu suami mencari nafkah dengan cara menjual es dawet. Insyaallah, ini hasil jualan kami dari es dawet,” katanya.
Dia menjual es dawet mulai dari harga Rp1.500 perak sampai sekarang Rp3.000. Dari sanalah mereka mengumpulkan biaya haji sekeluarga.
“Dulu kami ada niat mau berangkat, saya pengin sama anak-anak, sama suami. Saya selalu berdoa tiap hari. Rupanya Insya Allah Allah mengijabah doa saya. Inilah hasilnya, kami berangkat satu keluarga menuju rumah Allah,” ucapnya sambil haru.
3. Selama delapan tahun penuh ujian

Perjalanan mereka tidak mudah. Menurut Luluk banyak sekali rintangan yang sudah dihadapi.
" Prosesnya sangat berat, ujian sangat banyak. Tapi saya yakin kalau setiap ujian pasti ada kelulusan,” kata sang mama.
Dia menyebutkan kuncinya adalah niat dan yakin. “Pokoknya ada niat bagus kita sampai ke sana. Ada niat bagus pasti Allah mendengarkan," ungkap Luluk.
Ia berpesan ke semua yang punya niat ke Baitullah: “Bawalah keluarga walaupun itu kayaknya enggak mungkin, tapi semua pasti mungkin. Walaupun enggak ada biaya, tapi kita yakin. Kalau kita yakin, Allah pasti mengabulkan," jelasnya.
Luluk hanya minta satu hal: “Saya berdoa di tanah suci semoga bisa menjadi haji yang mabrur, diterima amal ibadah di sana, bisa ke sana lagi. Semoga kita di sana sehat-sehat sekeluarga, ikhlas menjalankan ibadahnya, mendapatkan rida dari Allah.”
Selama 8 tahun menabung, dari es dawet Rp1.500, dari niat anak 11 tahun yang mau bareng keluarganya. Hari ini Allah mewujudkan.

















