- Atap ijuk melengkung seperti tanduk kerbau.
- Ornamen gorga warna merah-hitam-putih khas Toba-Angkola.
- Sopo godang atau balai sidang untuk musyawarah raja-raja luat.
- Alaman luas di depan istana untuk upacara adat horja.
- Peran Adat & Agama: Menyandingkan Dalihan Natolu dengan Islam
Istana Tunggang Bosar Jejak Kebangkitan Kesultanan Dhasa Nawalu

- Istana Tunggang Bosar di Tapanuli Selatan menjadi pusat pemerintahan adat Kesultanan Dhasa Nawalu yang berdiri tahun 2007 dan diresmikan pada 5 Juni 2008.
- Istana ini memadukan arsitektur bagas godang khas Batak Angkola dengan nilai Islam, mencerminkan filosofi Dalihan Natolu serta makna delapan arah mata angin sebagai simbol persatuan wilayah.
- Saat ini, istana berfungsi sebagai pusat adat, syiar Islam, diplomasi budaya, dan destinasi wisata yang memperkenalkan kembali marwah adat Batak Angkola ke tingkat nasional hingga internasional.
Medan, IDN Times - Istana Tunggang Bosar adalah pusat pemerintahan adat Kesultanan Dhasa Nawalu Tapanuli Bagian Selatan. Istana ini berdiri di Desa Janji Mauli, Muara Tais, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Secara administratif, Tapanuli Selatan beribukota di Sipirok dengan luas 6.030,47 km² dan penduduk 322.377 jiwa per Juni 2024. Mayoritas warga Batak Angkola beragama Islam 79,90%.
1. Sejarah berdirinya Kesultanan Dhasa Nawalu

Tahun 2007, raja-raja luat se-Tapanuli Bagian Selatan berkumpul dan bersidang. Hasilnya: membentuk Kesultanan Dhasa Nawalu yang artinya “delapan arah mata angin”.
Sultan pertama: Daulat Tuanku Sultan Haji Baharuddin Harahap, gelar lengkapnya: Ompu Toga Langit Raja Tuan Tua Patuan Nagaga Najungal Yang Dipertuan Dhasa Nawalu Tapanuli Bagian Selatan.
Permaisuri: Naduma Sari Gusti Raden Ayu Boru Siagian, cucu Sultan Hamengku Buwono IX dari Keraton Yogyakarta. Hubungan kekerabatan ini membuat Kesultanan Dhasa Nawalu dikenal di kalangan keraton se-Nusantara, Malaysia, Thailand, hingga Brunei Darussalam.
Istana dibangun atas inisiatif dan dana pribadi keturunan raja luat. Tujuannya sangat jelas:
Visi: “Membina dan melestarikan adat-istiadat dan budaya Dalihan Natolu – Kahanggi, Mora, Anak Boru – dalam orientasi kultur masyarakat Tabagsel, dengan bersendikan Islam”.
Peresmian: Kamis, 5 Juni 2008. Diresmikan oleh Wakil Bupati Tapsel Aldinz Rapolo Siregar. Prasasti peresmian ditandatangani Sultan Hamengku Buwono X yang diwakili adiknya Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadi Winoto.
Acara peresmian sekaligus syukuran 56 tahun usia Sultan Baharuddin Harahap. Disaksikan sultan-sultan se-Nusantara, keluarga Keraton Yogyakarta, dan unsur Muspida Plus se-Sumut.
2. Makna “Tunggang Bosar” dan “Dhasa Nawalu”

Tunggang Bosar: Dalam bahasa Angkola, “tunggang” = tempat tinggi/utama, “bosar” = besar. Jadi simbol pusat pemerintahan adat yang agung.
Dhasa Nawalu: Delapan penjuru mata angin. Filosofinya, kekuasaan adat kesultanan menaungi seluruh wilayah Tapanuli Bagian Selatan ke 8 arah mata angin.
Istana ini mengadaptasi bagas godang – rumah adat Batak Angkola-Mandailing – tapi dibuat lebih besar dan megah sebagai istana kesultanan. Ciri khas:
Ini yang bikin Tunggang Bosar unik. Pembangunan istana tidak hanya untuk adat, tapi juga disandingkan dengan agama Islam.
Di kompleks istana ada Pondok Pesantren Modern yang dinaungi Yayasan Bagas Godang. Pesantren ini jadi patron pendidikan agama bagi masyarakat Sumatera, khususnya Pantai Barat Sumut.
Jadi Sultan Baharuddin ingin menghidupkan kembali adat Dalihan Natolu yang “mati suri”, tapi tetap bersendikan Islam.
3. Fungsi Istana saat ini

Adapun fungsi Istana saat ini, yaitu:
- Pusat adat: Tempat sidang raja-raja luat Tabagsel, pelantikan pemangku adat, dan upacara mangupa, pesta adat.
- Pusat syiar Islam: Kegiatan pesantren, pengajian akbar, musabaqah.
- Diplomasi budaya: Menerima tamu sultan-sultan Nusantara & Melayu. Berkat kedekatan Sultan Baharuddin, adat Batak Angkola dikenal internasional.
- Wisata budaya: Jadi ikon wisata Tapsel. Wisatawan bisa lihat arsitektur bagas godang, foto di alaman, dan ikut horja kalau pas ada acara.
Sementara itu, hubungan Kesultanan Dhasa Nawalu dengan Yogya sangat erat karena permaisuri adalah cucu HB IX. Saat peresmian, HB X kirim adiknya KGP Haryo Hadi Winoto untuk tanda tangan prasasti. Ini simbol pengakuan dari salah satu keraton tertua di Nusantara.
Nah, untuk menuju ke lokasi dari Medan membutuhkan waktu selama 7 hingga 8 jam darat via Sidempuan ke Sipirok, lanjut ±1 jam ke Muara Tais, Batang Angkola. Kemudian, Transport bisa menggunakan dengan mobil travel Medan-Sipirok, lanjut sewa mobil lokal.
Berikut, tips jika ingin datang saat ada horja godang atau hari besar Islam biar lihat prosesi lengkap. Wajib ijin dulu ke pihak kesultanan kalau mau masuk istana.
Istana Tunggang Bosar bukan sekadar bangunan. Tapi, simbol bangkitnya marwah adat Batak Angkola lewat Kesultanan Dhasa Nawalu, sekaligus bukti adat dan Islam bisa berjalan beriringan di Tapanuli Selatan.


















