Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Hal yang Membuat Imlek di Medan Terasa Berbeda

Vihara Maitreya Cemara Asri (Mangara Wahyudi)
Vihara Maitreya Cemara Asri (Mangara Wahyudi)
Intinya sih...
  • Perayaan Imlek di Medan tidak berhenti di hari pertama, malam ke-9 menjadi puncak keramaian dengan ritual Pai Thi Kong yang dipenuhi suara petasan dan tebu sebagai bagian dari ritual keselamatan leluhur.
  • Lontong Cap Go Meh di Medan hadir dengan rasa tegas yang mencerminkan karakter kota tersebut, dengan kuah pedas dan isian beragam yang mencerminkan keberanian dan keterbukaan dalam memadukan budaya.
  • Masjid Gang Bengkok di kawasan Kesawan menjadi simbol toleransi dan kerja sama antar keyakinan, sering didatangi saat Imlek untuk mengenang sejarah kebersamaan dan toleransi hangat di Medan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Imlek di Medan selalu meninggalkan kesan yang sulit dirangkum dengan satu kalimat. Diksi 'Angpao' pun akan selalu menggaung di sekitar kita. Ada keramaian, ada kebisingan, tetapi juga ada rasa akrab yang tumbuh dengan sendirinya. Perayaan ini tidak hanya berlangsung di ruang-ruang privat etnis yang merayakan, melainkan terasa hidup di jalanan, di dapur rumah, hingga dalam obrolan sehari-hari.

Sebagai kota yang sejak awal dibentuk oleh perjumpaan banyak etnis, Medan memiliki cara sendiri yang otentik dalam merayakan Imlek. Tradisi Tionghoa, khususnya Hokkien, bertemu dan berbaur dengan budaya Melayu, Batak, India dan lainnya. Dari pertemuan itulah lahir perayaan yang tidak sepenuhnya seragam, namun justru terasa lebih manusiawi dan dekat dengan kehidupan.

Semua akulturasi yang rumit itu berjalan bersama di tumbuh kembangnya kota Medan. Dengan semua nilai otentik yang membuat penasaran, IDN Times akan berikan kamu hal unik terkait perayaan imlek di Medan. Mari simak!

1. Malam ke-9 yang Lebih Menyita Perhatian

ilustrasi merayakan imlek (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi merayakan imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Di Medan, perayaan Imlek tidak berhenti di hari pertama. Justru pada malam ke-9, suasana kota mencapai titik paling ramai. Malam Pai Thi Kong kerap dipenuhi suara petasan yang bersahut-sahutan, jalanan yang padat, serta rumah-rumah yang tampak sibuk sejak sore hari.

Di depan banyak rumah, tebu berdiri tegak sebagai bagian dari ritual. Di balik kebiasaan ini, tersimpan cerita lama tentang keselamatan leluhur yang bersembunyi di ladang tebu. Cerita tersebut terus diwariskan dan dijalani tanpa banyak dipertanyakan, menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

2. Lontong Cap Go Meh dengan Rasa yang Tegas

Ilustrasi lontong cap go meh (IDN Times/Istimewa)
Ilustrasi lontong cap go meh (IDN Times/Istimewa)

Lontong Cap Go Meh di Medan tidak hadir dengan rasa yang setengah-setengah, sebagaimana selera lidah masyarakat Sumut pada umumnya. Kuahnya cenderung pedas, isinya beragam, mulai dari tauco, udang balado, kari, hingga rendang. Dalam satu piring, berbagai pengaruh budaya bertemu tanpa harus diseragamkan.

Hidangan ini sering kali menjadi pusat perhatian saat Cap Go Meh. Bukan hanya karena rasanya yang kuat, tetapi juga karena ia mencerminkan karakter Medan itu sendiri, berani, terbuka, dan tidak ragu memadukan banyak hal dalam satu kesatuan.

3. Masjid dengan Wajah yang Tak Biasa

Masjid Lama GG Bengkok (Mangara Wahyudi)
Masjid Lama GG Bengkok (Mangara Wahyudi)

Di kawasan Kesawan, berdiri Masjid Gang Bengkok yang kerap membuat orang berhenti sejenak. Atap melengkung dan ornamen khas Tionghoa membuatnya sekilas tampak seperti kelenteng. Namun di balik bentuknya, masjid ini menyimpan kisah panjang tentang toleransi.

Dibangun dengan dukungan tokoh Tionghoa, bangunan ini menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kerja sama dan rasa saling percaya. Saat Imlek, masjid ini sering didatangi bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk melihat dan mengenang sejarah kebersamaan dan toleransi yang hangat di Medan.

4. Kue Bakul yang Diolah dengan Cara Sehari-hari

Proses Pembuatan Kue Bakul di Toko Kue Phin Phin Jalan Dewa Ruci Medan (Mangara Wahyudi)
Proses Pembuatan Kue Bakul di Toko Kue Phin Phin Jalan Dewa Ruci Medan (Mangara Wahyudi)

Di banyak rumah, kue bakul tidak selalu disajikan dengan cara formal. Potongannya dicelupkan ke telur, lalu digoreng hingga bagian luarnya renyah. Sederhana, tanpa banyak aturan.

Aroma kue bakul goreng telur biasanya muncul saat keluarga berkumpul atau ketika tamu datang berkunjung. Tidak ada seremoni khusus, hanya camilan yang menemani obrolan. Dalam kesederhanaannya, makanan ini justru terasa paling dekat dengan suasana rumah.

5. Pai Cia yang Terbuka dan Inklusif

ilustrasi merayakan imlek (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi merayakan imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Tradisi Pai Cia di Medan tidak terbatas pada satu kelompok. Kunjungan saat Imlek sering melibatkan teman dan tetangga dari berbagai latar belakang. Rumah-rumah terbuka, obrolan mengalir, dan kebersamaan tercipta tanpa perlu banyak penjelasan.

Kesadaran akan keberagaman terlihat dari cara tuan rumah menyiapkan hidangan. Makanan halal disediakan, minuman disajikan untuk semua, dan semua orang dapat duduk bersama tanpa rasa canggung. Di momen inilah Imlek terasa sebagai perayaan bersama, bukan milik satu komunitas saja.

Imlek di Medan tidak selalu tampil rapi atau seragam. Kadang terlalu ramai, kadang terasa berisik. Namun justru dari situlah perayaan ini hidup. Ia tumbuh dari cerita-cerita kecil, dari dapur rumah, dari kunjungan singkat, dan dari kebiasaan saling menghormati.

Ketika perayaan berakhir, yang tersisa bukan hanya jejak petasan atau lampion, melainkan ingatan tentang sebuah kota yang merayakan perbedaan tanpa perlu banyak penjelasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Nilai Tukar Petani Membaik saat Konsumsi Rumah Tangga Petani Turun

08 Feb 2026, 17:22 WIBNews