Sebanyak 2,5 ton kopi asal Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, disiapkan untuk diekspor ke Singapura pada awal September 2026. Kopi tersebut dikembangkan masyarakat di Kecamatan Marancar dengan pendekatan pertanian regeneratif dan agroforestri yang tetap mempertahankan fungsi lingkungan. (Dok: GJI)
Pengembangan kopi di Marancar juga mulai diarahkan ke tahap hilirisasi. Rumah Produksi/Dry House dibangun untuk mendukung proses pascapanen, pengolahan, pengemasan, dan peningkatan kualitas kopi sebelum dipasarkan.
Sebelumnya, masyarakat tidak hanya didorong menghasilkan kopi, tetapi juga membangun sistem usaha yang dapat memberikan nilai ekonomi lebih besar dari komoditas yang mereka kelola. Pendekatan tersebut dilakukan melalui penguatan kelembagaan dan kelompok usaha perhutanan sosial.
Sekretaris Daerah Tapanuli Selatan, Sofyan Adil, mengatakan peningkatan nilai tambah menjadi salah satu pekerjaan yang harus dilakukan agar kopi lokal tidak berhenti dijual sebagai biji mentah atau green bean.
“Kita harus melangkah lebih jauh membuat inovasi dengan masuk ke tahap hilirisasi,” kata Sofyan yang hadir mewakili Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu.
Menurut Sofyan, rumah produksi tersebut diharapkan dapat mendukung modernisasi pengolahan, pengemasan, dan standardisasi. Dengan begitu, kopi Tapanuli Selatan memiliki peluang lebih besar bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Ia juga meminta fasilitas tersebut tidak hanya menjadi tempat produksi kopi. Rumah produksi diharapkan menjadi ruang belajar serta inkubator bisnis bagi UMKM, pelaku ekonomi kreatif, dan generasi muda.
“Jadikan tempat ini sebagai wadah kolaborasi, ruang belajar dan inkubator bisnis bagi pelaku UMKM, ekonomi kreatif serta generasi muda,” ujarnya.