anak-anak sekolah adat Sihaporas menari tor-tor bersama (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Tampak ratusan masyarakat adat bersama-sama melakukan ritual adat, menyaksikan Gondang Mula-mula, Somba, dan Mangaliat, hingga melakukan renungan teologia. Perhelatan yang semua pesertanya kompak mengenakan pakaian hitam dan ulos ini menunjukan betapa solidnya masyarakat adat dalam membela hak-haknya.
"Acara ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kesewenangan dan perampasan hak-hak terhadap masyarakat adat. Beberapa dekade bahkan sampai saat ini, janji untuk berpihak kepada masyarakat masih dipertanyakan. Melalui malam solidaritas, kita Aliansi Gerak Tutup TPL bersama seluruh masyarakat adat kembali melihat situasi yang terjadi di negeri ini khususnya Danau Toba," kata Anggiat Sinaga, Ketua Aliansi Tutup TPL.
Tak hanya ritual-ritual adat, malam solidaritas ini juga diisi beragam pertunjukan lain seperi atraksi mossak, puisi kolaborasi, hingga menggelar nonton bareng. Semua dihelat sebagai upaya memantik semangat masyarakat adat untuk berani memperjuangkan hak-haknya.
"Kita refleksikan kehancuran lingkungan atau kriminalisasi malam ini. Saya selalu menegaskan jika perjuangan ini tetap dilakukan. Bersama kita mendorong dan mengajak seluruh warga negara untuk memberikan dukungan terhadap situasi yang kita alami di sini," ujarnya.