Banjir Medan: Warga Terjun Terisolir, Bantuan Pemerintah Nihil

- Kondisi pengungsi meprihatinkan, bergelap-gelapan di pengungsian
- Tidak ada posko tanggap bencana di daerah terdampak banjir
- Tidak ada bantuan logistik, masyarakat berbagi makanan seadanya
Medan, IDN Times – Meski beberapa daerah berangsur surut, banjir yang melanda Kota Medan masih terpantau tinggi di beberapa titik. Di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, sebagian pemukiman warga masih terendam, Sabtu (29/11/2025).
Pantauan IDN Times, banjir masih merendam kawasan itu dengan ketinggian mulai dari 1 sampai 1,5 meter. Pada beberapa titik pemukiman, warga masih bertahan di dalam rumah. Warga terisolir karena air masih tinggi.
Sejumlah warga juga memilih mengungsi ke rumah tetangga yang memiliki lantai dua. Di salah satu titik ada warga yang mengungsi di dalam masjid hingga langgar.
1. Kondisi pengungsi meprihatinkan, bergelap-gelapan di pengungsian

IDN Times sempat melihat bagaimana warga memanfaatkan langgar milik tarekat Naqsabandiyah menjadi titik pengungsian. Masyarakat berkumpul di lantai dua langgar. Karena lantai satu langgar itu sempat terendam banjir.
Di lantai dua itu, ada sekitar 40 orang pengungsi. Tidak sedikit dari mereka adalah anak-anak hingga lansia.Kondisi pengungsian gelap. Masyarakat hanya menggunakan lilin sebagai penerangan. “Nanti kalau balik lagi bawa lilin ke sini yah bang. Kami digigiti nyamuk di sini,” kata seorang pengungsi kepada relawan dari komunitas Medan Lawyer Footbal Club (MLFC) yang menyambangi lokasi itu.
2. Tidak ada bantuan logistik, masyarakat berbagi makanan seadanya

Mereka terpaksa mengungsi di sana karena sama sekali tidak ada posko tanggap bencana di daerah itu. Di tempat itu, masyarakat kesulitan logistik pangan. Warga harus berbagi makanan dengan sesama pengungsi. Bahkan air untuk minum, mereka juga sulit mendapatkannya. Pemerintah yang diharap-harapkan datang melihat, pun tidak ada.
“Belum ada bantuan apa-apa dari pemerintah. Baru ini lah dari komunitas ada datang. Kami sangat bersuyukur. Sebelumnya, kami yah kumpul-kumpul uang sesama warga. Beli mie instan di makan bersama,” kata Irwan warga setempat.
Sudah empat malam sejak hari pertama banjir mereka mengungsi. Rumah-rumah mereka terendam banjir seluruhnya. Masyarakat kaget karena selama ini tidak pernah ada banjir besar seperti yang terjadi sejak Selasa (25/11/2025).
“Jarang banjir di sini. Kalu pun banjir paling sebetis orang dewasa. Tidak pernah sebesar ini sampai dua meter ketinggiannya. Rumah hancur,” kata Irwan.
3. Masyarakat khawatir anak-anak mulai terserang penyakit

Di titik lain pada daerah itu, ada 300-an masyarakat yang menjadikan lantai dua masjid sebagai tempat pengungsian. Di Masjid Nurul Yaqin salah satunya. Lantai dua masjid itu dijadikan tempat tinggal sementara warga yang terdampak. Di lokasi itu, banyak anak-anak yang menjadi pengungsi. Usianya mulai dari balita.
“Kami khawatir, kalau tidak segera ditangani, anak-anak nantinya sakit,” kata Ruslan, warga setempat.
Di masjid itu, mereka juga kesulitan logistik. Baik untuk makan-minum hingga obat-obatan. “Kami tolong diperhatikan. Kami butuh obat-obatan. Di sini sudah mulai diserang gatal-gatal. Ini logistik kami tinggal mampu bertahan sehari lagi,” kata Ruslan.
Beberapa korban banjir sudah ada yang dievakuasi oleh relawan karena sakit. Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Waas disebut sudah datang ke masjid itu. Rico datang memberikan nasi bungkus dan mie cepat saji.
Disela proses distribusi bantuan, Koordinator relawan MLFC Gumilar Aditya menyatakan keprihatinannya. Sudah dua hari terakhir mereka mendistribusikan logistik ke kawasan Kelurahan Terjun.
“Kami dapat informasi bahwa daerah ini belum ada bantuan dari pemerintah. Makanya kami dua hari ini fokus mengumpulkan logistik dan mendistribusikannya ke sini,” kata Agum –sapaan akrabnya--.
Untuk diketahui, banjir merendam sejumlah kecamatan di Kota Medan sejak Selasa (30/11/2025). Banjir ini disebut-sebut yang paling besar dalam satu dekade terakhir.



















