Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Banjir Medan: Warga Terjun Terisolir, Bantuan Pemerintah Nihil

BANJIR _MEDAN_2.jpg
Relawan Medan Lawyer Footbal Club (MLFC) mendistribusikan bantuan logistik kepada pengungsi banjir di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sabtu (29/11/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Intinya sih...
  • Kondisi pengungsi meprihatinkan, bergelap-gelapan di pengungsian
  • Tidak ada posko tanggap bencana di daerah terdampak banjir
  • Tidak ada bantuan logistik, masyarakat berbagi makanan seadanya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Meski beberapa daerah berangsur surut, banjir yang melanda Kota Medan  masih terpantau tinggi di beberapa titik. Di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, sebagian pemukiman warga masih terendam, Sabtu (29/11/2025).

Pantauan IDN Times, banjir masih merendam kawasan itu dengan ketinggian mulai dari 1 sampai 1,5 meter. Pada beberapa titik pemukiman, warga masih bertahan di dalam rumah. Warga terisolir karena air masih tinggi.

Sejumlah warga juga memilih mengungsi ke rumah tetangga yang memiliki lantai dua. Di salah satu titik ada warga yang mengungsi di dalam masjid hingga langgar.

1. Kondisi pengungsi meprihatinkan, bergelap-gelapan di pengungsian

BANJIR _MEDAN_1.jpg
Kondisi pengungsi di Masjid Nurul Yaqin Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sabtu (29/11/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

IDN Times sempat melihat bagaimana warga memanfaatkan langgar milik tarekat Naqsabandiyah menjadi titik pengungsian. Masyarakat berkumpul di lantai dua langgar. Karena lantai satu langgar itu sempat terendam banjir.

Di lantai dua itu, ada sekitar 40 orang pengungsi. Tidak sedikit dari mereka adalah anak-anak hingga lansia.Kondisi pengungsian gelap. Masyarakat hanya menggunakan lilin sebagai penerangan. “Nanti kalau balik lagi bawa lilin ke sini yah bang. Kami digigiti nyamuk di sini,” kata seorang pengungsi kepada relawan dari komunitas Medan Lawyer Footbal Club (MLFC) yang menyambangi lokasi itu.

2. Tidak ada bantuan logistik, masyarakat berbagi makanan seadanya

BANJIR _MEDAN_3.jpg
Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sabtu (29/11/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Mereka terpaksa mengungsi di sana karena sama sekali tidak ada posko tanggap bencana di daerah itu. Di tempat itu, masyarakat kesulitan logistik pangan. Warga harus berbagi makanan dengan sesama pengungsi. Bahkan air untuk minum, mereka juga sulit mendapatkannya. Pemerintah yang diharap-harapkan datang melihat, pun tidak ada.

“Belum ada bantuan apa-apa dari pemerintah. Baru ini lah dari komunitas ada datang. Kami sangat bersuyukur. Sebelumnya, kami yah kumpul-kumpul uang sesama warga. Beli mie instan di makan bersama,” kata Irwan warga setempat.

Sudah empat malam sejak hari pertama banjir mereka mengungsi. Rumah-rumah mereka terendam banjir seluruhnya. Masyarakat kaget karena selama ini tidak pernah ada banjir besar seperti yang terjadi sejak Selasa (25/11/2025).

“Jarang banjir di sini. Kalu pun banjir paling sebetis orang dewasa. Tidak pernah sebesar ini sampai dua meter ketinggiannya. Rumah hancur,” kata Irwan.

3. Masyarakat khawatir anak-anak mulai terserang penyakit

BANJIR _MEDAN_5.jpg
Banjir merendam sejumlah kecamatan di Kota Medan sejak Selasa (30/11/2025). Banjir ini disebut-sebut yang paling besar dalam satu dekade terakhir.

Di titik lain pada daerah itu, ada 300-an masyarakat yang menjadikan lantai dua masjid sebagai tempat pengungsian. Di Masjid Nurul Yaqin salah satunya. Lantai dua masjid itu dijadikan tempat tinggal sementara warga yang terdampak. Di lokasi itu, banyak anak-anak yang menjadi pengungsi. Usianya mulai dari balita.

“Kami khawatir, kalau tidak segera ditangani, anak-anak nantinya sakit,” kata Ruslan, warga setempat.

Di masjid itu, mereka juga kesulitan logistik. Baik untuk makan-minum hingga obat-obatan. “Kami tolong diperhatikan. Kami butuh obat-obatan. Di sini sudah mulai diserang gatal-gatal. Ini logistik kami tinggal mampu bertahan sehari lagi,” kata Ruslan.

Beberapa korban banjir sudah ada yang dievakuasi oleh relawan karena sakit. Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Waas disebut sudah datang ke masjid itu. Rico datang memberikan nasi bungkus dan mie cepat saji.

Disela proses distribusi bantuan, Koordinator relawan MLFC Gumilar Aditya menyatakan keprihatinannya. Sudah dua hari terakhir mereka mendistribusikan logistik ke kawasan Kelurahan Terjun.

“Kami dapat informasi bahwa daerah ini belum ada bantuan dari pemerintah. Makanya kami dua hari ini fokus mengumpulkan logistik dan mendistribusikannya ke sini,” kata Agum –sapaan akrabnya--.

Untuk diketahui, banjir merendam sejumlah kecamatan di Kota Medan sejak Selasa (30/11/2025). Banjir ini disebut-sebut yang paling besar dalam satu dekade terakhir.

Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Banjir Tapteng, Aksi Penjarahan Berlanjut ke Gudang Bulog

30 Nov 2025, 06:30 WIBNews