Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berbagi Takjil Bubur Sup di Masjid Raya Medan, Sisa Tradisi Sultan Deli

Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)
Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)

Medan, IDN Times - Bubur pedas merupakan menu khas berbuka puasa setiap tahun di Masjid Raya Al Mashun Medan sejak jaman Kesultanan Deli masih berjaya dibawah kepemimpinan Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alam sultan kesembilan dari Kesultanan Deli.

Hamdan sebagai pengurus Masjid Raya Al Mashun Medan menjelaskan, hadirnya dahulu bubur pedas sekitar 50 tahunan yang lalu dan kini menjadi bubur sup.

Makanan khas Melayu ini dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar, sebagai salah satu menu takjil berbuka puasa.

Hamdan juga menjelaskan bubur pedas telah beralih menjadi bubur sup karena dalam pembuatannya, dapat dikategorikan cukup rumit. Sebab, ada kesulitan yang ditemukan seperti meramu puluhan jenis rempah ditambah umbi-umbian yang mengandung banyak khasiat.

Kemudian, ada campuran daging cincang dan sayur-sayuran seperti kentang, wortel, ubi, kacang, termasuk juga beras, lalu diaduk menjadi satu.

1. Bubur sup memang telah menjadi menu andalan dan favorit di Masjid Raya Al Mashun Medan

Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)
Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)

Bubur sup memang telah menjadi menu andalan dan favorit di Masjid Raya Al Mashun Medan. Hal ini dikarenakan kualitas cita rasa yang tetap terjaga dan keunikannya.

Namun, bubur sup ini tidak sembarangan, sebab dibuat khusus di masjid peninggalan Sultan Deli itu. Setiap bulan Ramadan, di pelataran menyediakan bubur sup bagi jemaah.

"Tradisi kesultanan sejak diresmikan sudah puluhan tahun. Dijaman dulu memang sedekah sultan, bedanya tidak lagi sedekah pribadi sultan tapi terbuka untuk masyarakat yang mau berbagi," ucap Hamdan sebagai salah satu pengurus Masjid Raya Al Mashun pada IDN Times.

2. Resep bubur sup ini tak berubah cita rasa yang disajikan seperti tahun-tahun sebelumnya

Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)
Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)

Lanjutnya, ada sebanyak 1.500 porsi bubur sup yang disiapkan pihak Masjid Raya Al Mashun dan akan dibagi menjadi dua kategori.

Untuk kategori pertama adalah bubur yang dibagikan untuk dibawa pulang oleh jemaah dan kategori kedua disiapkan bagi jemaah yang makan langsung di area yang telah disiapkan di Masjid Raya Al Mashun.

Diketahui, resep bubur sup ini tak berubah cita rasa yang disajikan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan yang memasak termasuk orang khusus yang diwariskan secara turun-menurun.

Bubur sup yang dimasak ini menghabiskan 10 kg daging sapi tanpa tulang, beras 30 kg, dan sayur mayur seperti kentang bisa mencapai 15 kg.

Selain bubur sup yang disajikan ada tambahan lainnya. Meskipun demikian dirinya mengatakan bahwa sebenarnya bubur sup yang disajikan sudah enak dan siap disantap.

3. Dahulu bubur ini tidak bisa semua orang memakannya karena tidak diperuntukkan kepada masyarakat

Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)
Pembagian bubur sup di Masjid Raya Al Mashun Medan(IDN Times/Indah Permata Sari)

Hamdan mengatakan bahwa ada perbedaan bubur Masjid Raya yang dulu dan sekarang. Contohnya disebutkan Hamdan adalah bubur ini tidak bisa semua orang memakannya. Sebab, tidak diperuntukkan kepada masyarakat.

"Dulu sedikit dibuat, masa saya 30 tahun sekian lebih cuma 50 atau 60 orang yang bisa makan bubur ini. Tidak dibagi ke masyarakat tapi sekarang masyarakat bisa dibagi dan membawanya" tegasnya.

Selain itu juga, hingga kini banyak yang mengira bubur yang dibagikan adalah bubur pedas. Padahal, kata Hamdan yang benar adalah bubur sup.

Maski begitu, Hamdan tidak membantah jika pada awalnya bubur pada jaman kesultanan deli adalah bubur pedas. Sebab, bahan yang lebih sulit maka saat ini diganti menjadi bubur sup.

"Kalau kita lihat sejarahnya iya dulu memang bubur pedas namanya. Tapi karena bubur pedas ini kan dari segi bahan banyak dan bumbunya sulit didapatkan, dan yang memasak juga bukan orang sembarangan. Jadi kita ganti menjadi bubur sup, bubur sup ini juga tidak kalah bergizi," ucapnya.

Menurutnya, perubahan ini sudah dilakukan sejak 40-45 tahun yang lalu, karena itu tadinya, bumbunya susah dan tidak ada di pasar biasa.

Dikatakannya, sejak hari pertama sampai 27 ramadan pembagian sup bubur ini dilakukan. Nah, untuk tanggal 28 sampai hari akhir buka puasa dilakukan dengan nasi bungkus.

"Tapi tetap ada tapi pakai nasi bungkus karena sibuk zakat fitrah," ucapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Murid TK di Langkat Diperkenalkan Keselamatan Lalu Lintas Sejak Dini

19 Feb 2026, 22:15 WIBNews