Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rindu Ramadan di Sekumur yang Lebur

Kondisi  pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Kondisi pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Intinya sih...
  • Nursiah, penyintas banjir Aceh, merindukan Ramadan sebelum bencana
  • Tradisi Meugang yang meriah di Sekumur terganggu karena kekurangan logistik
  • Penyintas banjir di Sekumur ingin direlokasi karena trauma dan ketidakpastian dari pemerintah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

“Memang sedih bulan puasa ini, Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,”

Nursiah, 51, penyintas banjir Aceh

Selepas Zuhur, Nursiah kembali menyibukkan diri di dalam rumah. Menyusun pinggan, belanga, cangkir yang baru selesai dicucinya. Memilah sayuran yang baru saja diterimanya dari para relawan bencana.

Sehari sebelum Ramadan tiba, Nursiah masih bertahan di dalam rumahnya. Bersama suami, anak dan beberapa cucunya.

Rumah Nursiah tak luput dimakan bandang saat bahala 26 November 2025 lalu. Sekumur, desa di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, tempat Nursiah tinggal, kini tinggal cerita. Sebanyak 175 Kepala Keluarga (KK) tidak memiliki hunian. Sama seperti Nursiah, warga membangun kembali bangunan yang tersisa, menjadi tempat untuk berlindung dari panas dan hujan.

Tawa yang tadinya pecah ringan patah menjadi suara yang parau. Mata Nursiah langsung berkaca-kaca kala kembali mengingat kondisi rumahnya yang belum pulih dari bencana. Kesedihan Nursiah bercampur dengan Rindu dengan Ramadan tahun – tahun sebelum bahala. Saat rumah mereka masih utuh dinding dan atapnya.

“Yang paling saya rindukan itu yah rumah. Ini lihatlah kondisinya masih begini,” ujar Nursiah sambil menunjuk atap rumahnya.

Kesedihannya pun semakin menjadi. Sehari sebelumnya, hujan mengguyur Sekumur disertai angin. Atap – atap yang memanfaatkan seng bekas bocor. Nursiah hanya bisa berdoa dan pasrah saat hujan. Dia juga sempat khawatir, air kembali naik dari sungai.

“Kemarin hujan kami panik. Cucu sudah digendong semua. Rumah bocor semua. Memang sedih kali rasanya bulan-bulan puasa ini,” ujar perempuan yang karib disapa Mamak (ibu) oleh para relawan bencana di Sekumur.

Makmeugang yang lengang

Kondisi  pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Kondisi pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Makmeugang atau meugang selalu menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu Nursiah. Meugang menjadi tradisi Aceh saat menyambut Ramadan. Biasanya saat Meugang, masyarakat akan memasak daging lembu, sapi, atau kambing. Disantap bersama keluarga, sebelum tarawih pertama.

Di Sekumur, Meugang biasanya diadakan di masjid. Warga akan berkumpul, berkenduri dan makan bersama.

Kaum laki-laki akan menyembelih hewan kurban. Kaum perempuan akan memasaknya.

“Ini kita mau Meugang. Tapi kita tidak punya apa – apa untuk diolah,” kata Nursiah saat ditemui di dapur rumahnya, Selasa (18/2/2026).

Selama menjadi penyintas, Nursiah bertahan hidup dengan logistik seadanya. Dia bersyukur masih banyak relawan yang datang ke Sekumur, membawa berbagai bahan pangan dan kebutuhan lainnya. Membantu para penyintas bisa bangkit dari duka bencana.

“Ini bisa senang sedikit. Ada relawan yang membawa kambing tiga ekor. Bisalah kami masak untuk meugang. Kalau tidak ada, yah kami sudah pasrah,” ujarnya.

Nursiah langsung yang menerima kambing itu mewakili masyarakat. Kambing yang diterima Nursiah adalah hasil donasi para pegiat lari dari komunitas Selasapagi di Kota Medan. Tiga kambing itu kemudian didistribusikan lewat Relawan kemanusiaan Nusantara (RAWANTARA) yang dua bulan terakhir aktiv berkegiatan di Sekumur.

Sebelum berbincang dengan IDN Times, Nursiah sempat mengobrol dengan ibu-ibu lain sesama penyintas. Mereka saling bercurah perasaan sedih. Meugang di Sekumur bakalan lengang. Tidak semeriah seperti biasa.

“Meugang di sini biasanya meriah lah. Kami di sini kan (sebelum bencana) ada bikin lontong. Bikin timphan (kue khas Aceh) dan lainnya,” kata Nursiah.

Dia juga merindukan beberapa kegiatan saat Ramadan. Buka puasa bersama, tadarus di masjid dan mendengar ceramah ustaz, jadi kegiatan yang disukai Nursiah. Baru kali ini Nursiah harus menjalani Ramadan menjadi penyintas meski Sekumur sudah berulang kali diterjang banjir.

Kerinduan akan Ramadan yang semarak juga diungkap Rina, perempuan 40 tahun yang tinggal sekampung dengan Nursiah. Rina dan ibu-ibu lainnya saling menyemangati.

Dengan kondisi serba kekurangan, Rina dan kakaknya tidak ingin kehilangan keceriaan Ramadan. Mereka tengah sibuk memotongi daun pisang.

“Ini untuk bungkus lepat. Kalau di sini timphan namanya,” kata Rina.

Tidak seperti biasa, kali ini Rina hanya membuat sedikit timphan. Sekadar menjalankan tradisi menjelang Ramadan sekaligus pelipur duka di tengah bencana.

“Ya megang tahun ini karena disertai dengan keadaan yang seperti ini ya. Dengan musibah kondisi rumah pun yang kita banyak kekurangannya. Sebelumnya kami memang dari tahun ke tahun udah semangat kali. Memang kalau megang ayo kita berbelanja bersama-sama gitu kan. Kita pergi belanja ramai-ramai,” katanya.

Kerinduan itu belum bisa dibayarnya. Perekonomian mereka hancur diterjang bencana. Pertanian yang jadi andalan Rina untuk penghidupan keluarga kini sudah musnah.

“Perubahannya kita saksikan di rumah. Kita melihat keadaan rumah kita sendiri. Banyak yang berbeda lah dari sebelumnya memang,” kata Rina.

Tabah dan Istiqamah

Warga membawa logistik donasi dari para relawan di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
Warga membawa logistik donasi dari para relawan di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Abdul Muluk tengah duduk di depan rumah panggungnya. Rumah yang kembali dibangun menggunakan kayu gelondongan dari banjir November lalu.

Laki-laki sepuh Desa Sekumur itu baru saja kembali dari masjid, menunaikan Ashar berjamaah. Abdul Muluk langsung memberi sapaan.

Laki-laki 75 tahun itu cukup ramah. Meski dia masih trauma jika harus kembali bercerita soal bahala yang menimpa kampung.

Abdul pun kembali mengingat soal bagaimana meriahnya Ramadan di kampung Sekumur. Biasanya ada tiga sampai empat ekor lembu yang disembelih. Mereka kemudian berkenduri di masjid. Bersilaturahmi dengan jiran tetangga.

“Tapi sekarang apa yang kami boleh buat? Jangankan kenduri, tempat tinggal di rumah kami. Tak ada lagi,” katanya.

Di hunian papan itu, Abdul Muluk hanya bisa tabah. Dia hanya tinggal berdua dengan istrinya yang sedang sakit.

“Saya di rumah ini tinggal berdua sama ibu (istri). Ibu pun baru pulang kemarin dulu dari rumah sakit. Alhamdulillah saat ini sudah sembuh,” katanya.

Meski di tengah bencana, Abdul tidak ingin larut dalam sedih. Dia berpesan agar para penyintas bisa tabah dan istiqamah menghadapi situasi saat ini.

Rina dan Nursiah juga cuma bisa tabah. Saat ini hanya doa dan usaha untuk bisa bangkit yang bisa mereka lakukan.

“Alhamdulillah. Biar gini aja, kita tabah aja, ya. Allah yang udah memberi, kita terima aja apa adanya,” kata Nursiah.

Sementara, bagi Rina, Ramadan harus tetap bisa dijalani dengan sebaik mungkin. Bencana yang ada, bagi Rina adalah ujian dari Tuhan. Menguji seberapa sabar manusia menghadapi cobaan.  

“Itu yang utama kita harus mendekatkan diri sama Allah. Lebih kuatkan iman. Dekatkan diri sama Allah dengan adanya bencananya. Jangan hanya bisa pasrah,” katanya.

 

Menanti relokasi

SEKUMUR_1.jpg
Anak-anak di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, bermain kerajinan tangan manik-manik di Sekolah Rakyat, Selasa (24/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Nursiah, Rina dan Abdul Muluk kompak menjawab sepakat ketika ditanyakan ihwal relokasi. Menurut mereka Sekumur tidak bisa lagi dijadikan perkampungan. Mereka khawatir, bencana yang sama akan terjadi lagi kelak.

Selain itu, mereka sudah trauma. Bukan kali ini saja perkampungan mereka hilang. Bahkan tapak perkampungan sudah dua kali di relokasi. Sekumur pernah melakukan relokasi pada banjir 1996 dan 2006.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang menunjukkan, Sekumur masuk ke dalam peta rawan bencana. Bahkan rona warna indeks bahaya bencana Sekumur dalam peta itu masuk ke dalam kategori tinggi. BPBD juga merekomendasikan agar Sekumur direlokasi.

Sayangnya, sampai saat ini, warga Sekumur belum mendapat kepastian dari pemerintah. Baik soal hunian sementara (Huntara) atau relokasi.

“Kami sudah takut itu kan air sudah dekat. Ini paling parah. Kami selama di sini udah 20 tahun tidak pernah kena banjir. Ini kenapa kena,” ujar Nursiah membeberkan alasannya ingin pindah.

Kepala Desa Sekumur Sopian yang dikonfirmasi terkait kondisi desanya belum memberikan konfirmasi. Pesan singkat yang dilayangkan IDN Times, tidak direspon Sopian.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Sabu 2 Kg Dalam Kemasan Bika Ambon, Jaringan Internasional Terungkap

18 Feb 2026, 22:03 WIBNews