Pameran Foto-Lukisan Sajikan Jejak Sejarah Indonesia-Jerman di Tapanul

- Pameran foto-lukisan di Medan memamerkan 100 arsip sejarah Indonesia-Jerman
- Pameran ini merupakan ruang refleksi sejarah hubungan bilateral kedua negara, khususnya di Sumatera Utara
- Alumni Jerman Indonesia ingin memperluas wawasan masyarakat tentang dimensi hubungan Indonesia–Jerman yang lebih beragam
Medan, IDN Times- Hubungan panjang Indonesia dan Jerman tak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga terekam dalam karya visual. Alumni Jerman Indonesia (Al Jerin) menghadirkan 100 arsip sejarah berupa lukisan dan foto dalam sebuah pameran di Warung Budaya Tangga, Jalan Letjen Suprapto, Medan, Senin (16/2/2026). Pameran ini terbuka untuk umum dan berlangsung hingga 20 Februari 2026 tanpa dipungut biaya.
Ketua Al Jerin Sumatra Utara sekaligus Ketua Panitia, Freddy Siahaan, menyebut kegiatan ini bukan sekadar pameran seni, melainkan ruang refleksi sejarah hubungan bilateral kedua negara, khususnya jejaknya di Sumatera Utara.
“Saya berbangga dan bersuka cita. Hari ini banyak generasi muda yang peduli dan meminati seni serta sejarah Sumatera Utara, mulai dari Darma Agung, Unimed, hingga USU. Mengapa tema ini yang kami ambil? Karena kami dari Alumni Jerman Indonesia di Medan melihat banyak hal yang bisa kami sumbangkan, terutama pemikiran dari para alumni perguruan tinggi, dari mana pun mereka berada, khususnya dari Jerman," kata Freddy.
1. Hubungan Indonesia-Jerman

Menurutnya, hubungan Indonesia–Jerman selama ini identik dengan kerja sama di bidang sains dan teknologi. Namun, kontribusi di sektor pendidikan, seni, dan kebudayaan juga memiliki peran penting yang jarang terangkat ke publik.
"Banyak yang memiliki talenta dan keahlian, dan itu yang coba kami himpun untuk memberikan kebaikan bagi Provinsi Sumatera Utara. Selama ini orang mengenal Jerman dari teknologi, sains, dan kedokteran. Namun ada satu hal yang sering terlupakan, yakni sejarah hubungan Jerman dengan Sumut, terutama dalam bidang seni dan karya-karya mereka. Nanti kita akan bersama-sama menikmati jejak peninggalan sejarah Jerman di provinsi ini, termasuk karya seni dari Walter Spies yang lama berkarya di Bali dan mengakhiri kisah hidupnya di Sumut," tambahnya.
2. Sebanyak 100 karya dipamerkan

Sebanyak 100 karya yang dipamerkan telah melalui proses kurasi untuk memastikan nilai historis dan kualitas artistiknya. Arsip-arsip tersebut menampilkan dokumentasi hubungan sosial, pendidikan, hingga kontribusi teknologi Jerman di Indonesia pada berbagai periode.
Jimmi Siahaan, pemilik sekaligus pengelola Rumah Budaya, mengaku bangga dapat memercayakan tempatnya sebagai lokasi pameran Satu Abad Tapanuli dalam Pandangan Pelukis dan Fotografer Jerman.
“Bagi saya, ini peristiwa yang sangat bagus. Rumah budaya ini memang saya dedikasikan sebagai ruang bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan. Kita di Medan ini harus semakin sadar budaya, dan punya saluran untuk memberikan jasa bakti bagi kota kita, khususnya untuk Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa budaya memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
“Budaya itu hal yang penting. Semua berakar dari budaya. Karena itu, kegiatan seperti ini harus kita dukung bersama,” katanya.
3. Generasi muda tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga melanjutkan hubungan baik yang telah terjalin.

Ketua Al Jerin Indonesia, Benny Soetrisno, yang turut hadir dalam pembukaan, mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai bentuk diplomasi budaya yang relevan di tengah perkembangan zaman.
“Ini kegiatan yang luar biasa. Kita bisa melihat bagaimana relasi Indonesia dan Jerman berkembang dari masa ke masa, termasuk kontribusi dalam pembangunan teknologi dan pendidikan,” ujarnya.
Ia berharap generasi muda tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga melanjutkan hubungan baik yang telah terjalin.
“Harapan kami, generasi muda bisa melihat ini sebagai inspirasi. Hubungan Indonesia dan Jerman bukan hanya cerita masa lalu, tetapi peluang kolaborasi masa depan di bidang teknologi, budaya, dan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

















