Danielle Daphne, Sempat Dilarang Orang Tua Kini Masuk Skuat Timnas

Daphne sempat belajar di Gamba Osaka

Jakarta, IDN Times - Meski identik sebagai sebagai olahraga kaum adam, Dhanielle Daphne tak surut semangat untuk menjadi pesepakbola.

Ia malah bersemangat ingin membawa sepakbola Tanah Air terus berkembang layaknya Amrika Serikat, Jepang, Jerman, atau pun Prancis.

Dhanielle Daphne mulai mencintai dunia si kulit bundar sejak usianya baru menginjak enam tahun.

Ia baru menyukai sepakbola karena sebuah ketidaksengajaan, kala dirinya tak sengaja menonton sebuah pertandingan Piala Dunia 2006 di televisi.

"Pada pertandingan final Piala Dunia, keluarga besar aku kumpul untuk nonton match itu. Dari situ aku jadi bingung, kok ada ya orang ramai-ramai nonton bola sampai pagi. Aku juga bertanya bagaimana sepakbola bisa menyatukan orang banyak padahal hanya dari nonton melalui TV," kata Daphne kepada IDN Times.

1. Sempat dilarang orang tua untuk menggeluti dunia sepakbola

Danielle Daphne, Sempat Dilarang Orang Tua Kini Masuk Skuat TimnasInstagram/dhanielledaphne

Ia pun jadi sering melihat DVD pemain-pemain sepakbola legendaris. Ia mengamati bagaimana cara bermain sepakbola sesuai aturannya, bagaimana cara mencetak gol, melihat cara main idolanya.

Setelah itu, dirinya langsung memiliki keinginan untuk bermain bola layaknya orang-orang hebat yang ia lihat melalui televisi. Namun, banyak hambatan yang sudah ia lalui, salah satunya ketika ia sempat dilarang orang tuanya. Maklum, masih sangat jarang perempuan mau menekuni hobi tersebut di Tanah Air.

"Sempat gak dibolehkan sama orang tua menggeluti hobi itu. Untuk lihat ke stadion (Gelora Bung Karno) saja gak dibolehkan," ujarnya. Tapi, hal itu pun perlahan memudar. Berkat kegigihannya, Daphne akhirnya diizinkan bisa menjalani hobinya walau sekedar masuk tim sekolahnya.

"Aku minta terus ke orang tua, akhirnya umur sembilan tahun boleh masuk tim sekolah dan masuk tim inti," tutur perempuan yang gemar travelling.

2. Masuk timnas Indonesia U-12, belajar di Gamba Osaka, dan sempat ke Barcelona

Danielle Daphne, Sempat Dilarang Orang Tua Kini Masuk Skuat TimnasInstagram/dhanielledaphne

Terus menunjukkan bakatnya di lapangan hijau, orang tua Daphne pun langsung memasukan anaknya ke Sekolah Sepak Bola (SSB) GMSB Kuningan. Itu juga didorong karena desakan Daphne pribadi kepada orang tuanya untuk bisa mengarahkannya ke jalur yang lebih serius.

Alhasil, berkat dukungan orang tuanya, karier sepakbola Daphne justru terus mengilap. Tiga tahun berselangm dirinya mampu menembus skuat Timnas U-12. Padahal, ia harus berjuang melalui seleksi ketat yang diikuti 800 lebih pemain di seluruh pelosok Tanah Air.

Ia bersama pemain lainnya yang tergabung dalam 24 pemain timnas Garuda Muda yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pertandingan dan coaching clinic di Jepang. Mereka mendapatkan banyak ilmu saat menyambangi klub raksasa Jepang, Gamba Osaka.

Tak sampai di situ, perempuan berusia 18 tahun itu kembali menunjukan prestasinya. Bersama dengan Imran Soccer Academy, ia mengikuti turnamen internasional bertajuk Mediteranian International Cup (MIC Cup) di Negeri Matador, Barcelona. Dan yang luar biasa, ia mampu persembahkan gelar runner-up bagi klubnya meski di laga pamungkas ditaklukan wakil dari AS.

Uniknya, dalam skuat Imran Soccer Academy, Daphne jadi satu-satunya perempuan yang masuk dalam tim. Ia bahkan bisa menunjukan skill-nya yang begitu mencengangkan dalam turnamen tersebut.

3. Kemampuan Daphne diakui eks pelatih timnas futsal perempuan

Danielle Daphne, Sempat Dilarang Orang Tua Kini Masuk Skuat TimnasInstagram/dhanielledaphne

Atas kemampuannya tersebut, Andre Picessa pun sempat memasukannya dalam skuat bayangan timnas futsal jelang SEA Games 2017 di Malaysia. Sayang, ia akhirnya tak masuk skuat karena dianggap masih terlalu muda untuk ikut ajang multievent olahraga terbesar se-Asia Tenggara.

"Sebenarnya dia pemain lapangan besar, tapi saya coba ke sini (futsal). Dia (Daphne) punya potensi cukup bagus. Saya akui punya masa depan yang cerah di sepakbola," kata mantan pelatih timnas futsal perempuan, Andre Picessa.

Ia pun mendapatkan kesempatan besar membela timnas perempuan. Ia sempat tampil di Pertiwi Cup 2017. Ditambah, ia juga manggung di ajang Asian Games 2018 yang digelar di Indonesia. Ia merasa hal itu adalah prestasi tertinggi yang pernah ia raih selama berkiprah di dunia sepakbola walau secara prestasi masih kalah bersaing dengan tim Asia lainnya.

"Kita bertemu dengan tim-tim terkuat di Asia. Karena dari sana aku dapat banyak pengalaman bagaimana level permainan sepakbola yg dibina dengan serius," ungkapnya.

4. Daphne sempat mendapatkan diskriminasi

Danielle Daphne, Sempat Dilarang Orang Tua Kini Masuk Skuat TimnasInstagram/dhanielledaphne

Disinggung mengenai perjalanan kariernya sejauh ini, Daphne mengungkapkan banyak sekali kesulitan yang harus dihadapinya sampai sekarang. Apalagi, hobi yang dijalaninya mayoritas disukai laki-laki.

Sejak awal, Daphne memang terbiasa bermain sepakbola dengan laki-laki, di mana dirinya adalah satu-satunya perempuan yang main sepak bola.

"Mencari klub sepakbola perempuan di Indonesia cukup sulit, ya akhirnya harus masuk klub bersama tim laki-laki," kata Daphnie.

"Pastinya ada diskriminasi. Bahkan dari orang-orang di sekitar yang meragukan aku saat mereka tahu kalau aku bermain sepakbola," sambungnya. Namun, ia beranggapan kalau mereka (laki-laki) bisa main, dirinya juga bisa main dan mampu menunjukan kualitas sama seperti laki-laki.

Di luar kesulitannya itu, ia mengaku banyak pelajaran yang didapat Daphne dalam mengarungi kariernya tersebut. Berkat kebiasaannya bermain bola bersama laki-laki, dirinya mampu mengasah kemampuan dengan cepat. Apalagi, sepakbola terbilang olahraga yang keras dan membuatnya lebih kuat.

5. Sempat akan meninggalkan dunia si kulit bundar

Danielle Daphne, Sempat Dilarang Orang Tua Kini Masuk Skuat TimnasInstagram/dhanielledaphne

Perempuan yang sangat menyukai Manchester United tersebut pun mengklaim kariernya tak selancar yang dibayangkan orang-orang. Bahkan, ia mengakui sempat berada di persimpangan jalan kala diminta menyeimbangkan sekolah dan sepakbola. Hal itu diperparah dengan masih adanya pihak yang meremehkan dia untuk tetap mantap geluti profesinya sebagai pesepakbola.

"Itu jadi titik terendah dalam karier, karena sempat terpikir untuk tak melanjutkannya di sepak bola. Tapi, saya terus memotivasi diri dan dukungan orang tua yang membuat saya tetap ada di sini," bebernya.

6. Daphne ingin bermain di Amerika Serikat

Danielle Daphne, Sempat Dilarang Orang Tua Kini Masuk Skuat TimnasInstagram/dhanielledaphne

Kini, Daphne pun masih memendam harapan untuk bisa berkarier di luar negeri. Ia sangat menginginkan bisa menembus kompetisi UCLA. Sebab, lanjutnya, kompetisi kasta kedua MLS putri AS itu sangat kompetitif dan bisa membuatnya bisa jauh lebih berkembang.

Namun, banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan terutama dalam hal akademis.

Lebih jauh, Daphne berharap federasi semakin serius membangun sepakbola perempuan di Indonesia. Ia ingin agar segera ada kompetisi reguler untuk bisa mewadahi tim perempuan, sehingga, itu membuat sepakbola perempuan semakin berkembang.

"Banyak yang sebenarnya ingin membela timnas Indonesia dan belum banyak yang tahu mereka punya peluang untuk mewakili Indonesia. Jadi, kompetisi reguler itu bisa memunculkan mereka," tutur perempuan yang mengidolakan David Beckham itu.

Ia pun berpesan kepada perempuan yang ingin serius menggeluti dunia sepakbola untuk tetap berlatih serius sambil menunggu kesempatan datang. Ia meminta semua perempuan untuk semangat, tetap latihan keras, dan terus mengejar mimpi. "Jangan pernah menyerah karena kesempatan akan datang suatu saat nanti," tukasnya.

Baca Juga: Timnas Putri Gagal Bersinar, PSSI Rencana Adakan Liga Sepak Bola Putri

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Just For You