Womandocumentary Ruang Baru Dokumentasi Budaya dari Dalam Keluarga

- Womandocumentary menghadirkan program Jembatan Waktu untuk memberi ruang bagi remaja perempuan mengekspresikan budaya keluarga melalui video dokumenter inklusif.
- Sebanyak 20 peserta, terdiri dari teman tuli dan teman dengar, mengikuti pelatihan hingga menghasilkan karya yang menggambarkan dinamika budaya lintas generasi dalam keluarga.
- Program ini membuka dialog antar generasi sekaligus memperkuat peran perempuan dan penyandang disabilitas sebagai pencipta narasi budaya melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif.
Medan, IDN Times - Komunitas Womandocumentary menghadirkan ruang baru bagi remaja perempuan untuk bersuara melalui karya visual. Lewat program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga, mereka mendorong lahirnya narasi budaya dari dalam keluarga yang selama ini jarang terdokumentasi.
Workshop yang digelar beberapa waktu lalu melibatkan 20 peserta, terdiri dari 10 teman tuli dan 10 teman dengar. Para peserta mengikuti pelatihan video dokumenter berbasis inklusi hingga kini memasuki tahap produksi karya.
Program ini tidak sekadar pelatihan teknis. Ia lahir dari kegelisahan atas minimnya ruang bagi perempuan terutama perempuan muda dan penyandang disabilitas dalam dunia produksi media dokumenter yang masih didominasi laki-laki.
Selain itu, kesenjangan generasi dalam keluarga juga menjadi latar belakang kuat dibentuknya komunitas ini.
1. Ruang alternatif bagi perempuan untuk tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pencipta narasi

Founder Womandocumentary Fadilla menyampaikan, komunitas ini dibentuk sebagai ruang alternatif bagi perempuan untuk tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pencipta narasi.
“Selama ini, suara perempuan dalam cerita budaya keluarga masih sangat minim. Kami ingin mereka punya ruang untuk merekam, memahami, dan menyampaikan ulang pengalaman budayanya sendiri,” ujarnya.
Melalui pendekatan video jurnalistik partisipatif, peserta diajak mengeksplorasi hubungan lintas generasi dalam keluarga mulai dari nilai, tradisi, hingga cara pandang hidup lalu menerjemahkannya dalam bentuk video dokumenter pendek.
2. Hasilkan sejumlah karya yang mengangkat dinamika budaya keluarga

Proses produksi yang berlangsung sekitar satu bulan ini menghasilkan sejumlah karya, yang mengangkat dinamika budaya keluarga. Meski menghadapi tantangan komunikasi antara teman tuli dan teman dengar, kolaborasi tetap berjalan.
Pendekatan inklusif yang digunakan, termasuk penggunaan juru bahasa isyarat dan metode pelatihan adaptif, memungkinkan seluruh peserta terlibat aktif dalam setiap tahapan produksi.
Tak hanya menghasilkan karya, program ini juga menargetkan dampak jangka panjang. Womandocumentary mendorong terbentuknya komunitas dokumenter perempuan inklusif sebagai ruang berkelanjutan bagi para peserta untuk terus berkarya dan berjejaring.
“Ke depan, karya-karya yang telah dihasilkan akan melalui tahap kurasi sebelum diputar dalam forum publik yang melibatkan keluarga peserta, komunitas budaya, hingga pemangku kebijakan,” jelasnya.
3. Tidak hanya menciptakan karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog lintas generasi dalam keluarga

Melalui program ini, Womandocumentary tidak hanya menciptakan karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog lintas generasi dalam keluarga sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai pelaku aktif dalam pelestarian budaya.
“Keresahan mereka terhadap kebiasaan yang muncul ditengah keluarga dituangkan dalam bentuk visual. Selain menuangkan isi pikiran disisi lain para peserta juga terlihat sangat antusias dalam belajar memproduksi video,” ungkapnya.
Founder Khadijah Sharaswaty Indonesia, Dewi Natadiningrat, yang turut terlibat dalam program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia menilai, antusiasme peserta difabel, khususnya teman tuli, sangat tinggi dalam mengikuti proses pelatihan hingga produksi video.
“Ini pengalaman pertama bagi mereka. Belajarnya bersama dengan teman dengar, mendapat ilmu baru dalam memproduksi video, dan mereka sangat antusias. Kami berterima kasih kepada tim yang sudah melibatkan teman-teman difabel dalam kegiatan kreatif ini,” ujarnya.


















