Musabaqah Tilawatil Quran atau MTQ ke-40 tingkat Provinsi Sumatra Utara (Sumut) di Lapangan Astaka, Kabupaten Deli Serdang (Dok. Kemenag Sumut)
Dalam sambutan, Wamenag mengutip pernyataan Menteri Penerangan Budiarjo tahun 1970 tentang pentingnya keseimbangan pembangunan lahiriah dan batiniah melalui jalur agama. Tujuannya melahirkan masyarakat bermoral, berakhlak tinggi, dan bermental kuat.
Romo Syafii juga menilik sejarah MTQ nasional pertama 1968 di Makassar. Saat itu, Indonesia baru pulih pasca-gejolak 1965 di tengah ketidakpastian Perang Dingin.
"Kita membutuhkan suasana kebatinan yang mengkonstruksi keutuhan bangsa, menyatukan elemen yang terpecah. Dari situlah tercetus ide MTQ untuk menularkan spirit Al-Qur'an demi bangsa dan negara," ujarnya.
Menurutnya, situasi pelik dulu mirip tantangan global dan domestik saat ini di era Presiden Prabowo Subianto. Karena itu ia berharap MTQ ke-40 jadi media merajut persatuan, menjaga kondusivitas, dan melahirkan duta-duta Al-Qur'an Sumut yang bersaing di level nasional hingga internasional.