Ilustrasi gajah mati (pexels.com/Katie Hollamby)
Dia menyampaikan EEHV merupakan jenis virus mematikan yang sangat rentan menyerang anak gajah.
Kondisi kesehatan Yuna, kata Ujang, memburuk dalam waktu sangat cepat. Pada Selasa pagi hingga siang, anak gajah itu masih terpantau aktif dan beraktivitas seperti biasa.
Namun, kondisi berbeda terlihat sekitar pukul 16.00 WIB. Mahout atau pawang gajah mendapati Yuna dalam keadaan lemas dengan mata bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat kebiruan.
Tim dokter hewan BKSDA Aceh bersama mahout kemudian memberikan penanganan medis darurat berupa cairan infus dan multivitamin.
"Namun, kondisi Yuna terus mengalami penurunan secara drastis. Satwa tersebut akhirnya terjatuh dalam kondisi lemas dan tidak tertolong pada pukul 20.48 WIB," ujar Ujang.
Dia mengatakan, tim medis langsung melakukan prosedur nekropsi usai Yuna dinyatakanmati. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemakaman yang selesai sekitar pukul 00.30 WIB.
Ujang menyampaikan, sebelum kematiannya, kondisi kesehatan Yuna sebenarnya berada dalam pemantauan rutin harian dan evaluasi medis setiap tiga bulan.
Bahkan, berdasarkan pemeriksaan terakhir pada Juni 2026, Yuna dinyatakan dalam kondisi sehat dengan nilai Body Condition Index Score (BCIS) 5,5. Nilai ideal untuk gajah jinak berada pada kisaran 5 hingga 7.
"Dalam dua hari sebelum peristiwa duka ini pun tidak ditemukan indikasi gejala sakit maupun penurunan kondisi fisik," ujarnya.
Menurut Ujang, seluruh gajah binaan BKSDA Aceh di PLG Saree, Conservation Response Unit (CRU) Peusangan, maupun CRU Trumon mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Namun, kondisi Yuna mengalami penurunan dalam waktu sangat singkat.
"Kondisi Yuna drop sangat cepat, yang berdasarkan diagnosa awal dipicu oleh serangan virus mematikan bagi anak gajah," katanya.