Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Tanda Bumi Sedang Masa Kritis, Perlu Diperhatikan!

5 Tanda Bumi Sedang Masa Kritis, Perlu Diperhatikan!
ilustrasi Bumi (freepik.com / nijieimuart)
Share Article

Dalam beberapa tahun terakhir, Bumi telah mengirimkan banyak sinyal mendesak pada kita, yang secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tidak dapat dipungkiri hal ini juga disebabkan oleh keserakahan manusia yang terus menerus mengeksploitasi sumber daya alam.

Dari meningkatnya emisi gas rumah kaca hingga perubahan suhu laut yang belum pernah terjadi sebelumnya, tanda-tanda ini menyoroti kenyataan pahit tentang Bumi yang sedang dalam kesulitan. Untuk lebih jelasnya, simak di bawah ini, ya!

1. Peningkatan suhu global

ilustrasi pemanasan global (pexels.com / Pixabay)
ilustrasi pemanasan global (pexels.com / Pixabay)

Seperti yang kita sadari, iklim telah banyak berubah. Salah satu tandanya yaitu Bumi yang makin panas. Sejak tahun 1880, rata-rata suhu global telah meningkat sekitar 1 derajat Celsius (1,7 derajat Fahrenheit). Kemudian makin meningkat menjadi 1,5 derajat Celsius (2,7 derajat Fahrenheit) pada tahun 2050, dan 2-4 derajat Celsius (3,6 - 7,2 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100.

Retensi panas dan iklim Bumi yang meningkat secara langsung disebabkan oleh emisi gas rumah kaca. Setiap hari kita melepaskan gas-gas seperti karbon dioksida (CO2), belerang dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), gas metana (CH4), dan klorofluorokarbon (CFC) ke atmosfer. Karena kawasan hijau juga mulai berkurang, tumbuhan jadi tidak bisa menyerap gas-gas itu sebagaimana harusnya. Alhasil, gas-gas tersebut terakumulasi di atmosfer dan memerangkap energi panas Matahari.

2. Kenaikan suhu dan pengasaman laut

potret terumbu karang di laut (pexels.com / Asad Photo Maldives)
potret terumbu karang di laut (pexels.com / Asad Photo Maldives)

Laut berperan sangat penting bagi Bumi. Laut merupakan rumah bagi sekitar 500.000 hingga 10 juta spesies laut, dengan kata lain ia memberikan kontribusi besar terhadap keanekaragaman hayati di planet kita.

Sejak tahun 1970-an, lautan telah menyerap 93% energi panas dari emisi gas rumah kaca. Kini suhu di laut telah meningkat dan perairan menjadi lebih asam karena menyerap gas-gas karbon tersebut.

Ketika karbon dioksida larut dalam air laut, ia membentuk asam karbonat dan menurunkan pH air. Jika sudah begitu nantinya akan mempersulit organisme pengapuran seperti karang, kerang, dan beberapa plankton untuk tumbuh, bereproduksi, dan membuat cangkang serta kerangka pelindungnya. Yang jelas hal itu akan sangat mengganggu ekosistem laut dan bisa makin berbahaya jika terus terjadi.

3. Mencairnya es di Antartika

potret bongkahan es di Greenland (pexels.com / Jean-Christophe André)
potret bongkahan es di Greenland (pexels.com / Jean-Christophe André)

Antartika juga sedang menunjukan masa-masa kritis. Fungsi es yaitu sebagai lapisan pelindung di atas Bumi dan lautan kita. Ia memantulkan kembali panas berlebih ke luar angkasa dan menjaga planet agar tetap dingin. Saat ini, hampir 90 persen es gletser berada di Antartika, sedangkan 10 persen sisanya berada di lapisan es Greenland.

Namun lagi-lagi sebab pemanasan suhu global, kini perlahan es-es tersebut mencair. Ketika es mencair atau terpisah, air akan mengalir ke lautan. Jika semua gletser dan lapisan es mencair, permukaan laut global akan naik lebih dari 195 kaki (60 meter). Saat itu terjadi, potensi badai seperti topan akan lebih sering terjadi dan lebih dahsyat dibanding sebelumnya.

Faktanya 95 persen es tertua dan tertebal di Kutub Utara saat ini sudah menghilang. Bahkan jika kita secara signifikan mengurangi emisi dalam beberapa dekade mendatang, lebih dari sepertiga gletser yang tersisa di dunia tetap akan mencair sebelum tahun 2100.

4. Deforestasi atau hilangnya hutan

potret hutan di Rochester, New York (pexels.com /  Tom Fisk)
potret hutan di Rochester, New York (pexels.com / Tom Fisk)

Deforestasi adalah perusakan atau penebangan pohon dengan cara yang disengaja, alami, atau tidak disengaja. Deforestasi dapat terjadi di area mana pun yang ditumbuhi pepohonan, tetapi sebagian besarnya saat ini terjadi di hutan-hujan Amazon.

Hutan berperan sangat penting dalam pengaturan iklim global, karena pepohonan bisa menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Jika mereka terus menerus ditebang hanya demi kepentingan pembangunan, nantinya tidak ada yang bisa membantu kita lagi untuk menyejukkan planet.

FAO (Food and Agriculture Organization), bagan khusus dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, sendiri memperkirakan bahwa 10 juta hektar hutan ditebang setiap tahun.

5. Bencana alam meningkat

potret banjir (pexels.com / Helena Jankovičová Kováčová)
potret banjir (pexels.com / Helena Jankovičová Kováčová)

Ada beberapa bencana yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, di antaranya yaitu banjir, kebakaran hutan, badai, dan tornado. Khususnya banjir merupakan bencana alam yang paling sering terjadi. Dari tahun 1990 hingga 2019, total ada 9.924 bencana alam yang terjadi secara global, 42 persen di antaranya adalah banjir.

Di tahun 2024 sendiri, tahun yang tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, telah terjadi kebakaran hutan yang mematikan di Texas hingga banjir yang dahsyat di Carolina Utara. Bencana tersebut telah mengguncang jutaan jiwa dan menyebabkan kerugian miliaran dolar.

Menurut laporan terbaru IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tentang adaptasi iklim, bencana yang dipicu oleh krisis iklim sudah lebih buruk daripada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya. Bahkan jika kita berhasil membatasi emisi gas rumah kaca, resiko bencana akan tetap meningkat.

Kondisi Bumi yang memburuk merupakan konsekuensi dari kerakusan manusia. Jika sekarang saja sudah seburuk ini, lantas bagaimana kondisinya 100 tahun kemudian? Sadarilah, apapun yang kalian lakukan hari ini, akan berdampak ke generasi cucu-cucu kalian di masa depan. Semoga dengan tulisan ini dapat mengedukasi sekaligus mendorong kita semua agar lebih menjaga Bumi lagi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan

Latest News Sumatera Utara

See More

Galian C Bakal Ditutup Karena Sebabkan Jalan Rusak di Galang

26 Jun 2026, 01:00 WIBNews