Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Melayani dengan Hati, Kisah Muzammil dari Balik Kemudi KT Hang Tuah II

Kota Medan
Melayani dengan Hati, Kisah Muzammil dari Balik Kemudi KT Hang Tuah II
Muhammad Muzammil, Kapten Kapal Tunda Hang Tuah II sedang berkomunikasi dengan kapal lain saat membantu MV MTT Reya bersandar di Dermaga Peti Kemas Belawan, Medan, 5 Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Share Article

Medan, IDN Times - Tet, tet, tet! Notifikasi pada gawai berukuran 12 inchi di meja ruang utama Kapal Tunda Hang Tuah II menyala. Saat itu waktu menunjukkan pukul 15.05 WIB, Rabu (5/8/2026).

Muhammad Muzammil dan kru yang tengah mengobrol langsung bergegas pergi ke kamar masing-masing. Dalam waktu singkat mereka sudah mengenakan seragam dinas. Muzammil melangkah naik ke ruang kemudi. Satu kru mengikutinya, beberapa kru lainnya turun ke haluan dan ruang mesin.

Muzammil adalah kapten KT Hang Tuah II. Dengan cekatan ia membuat Hang Tuah II sudah melaju ke tengah laut. Ada Kapal Motor MTT Reya sudah menunggu untuk disandarkan ke terminal Peti Kemas Belawan.

“Kapal tunda banyak fungsinya, enggak hanya membantu kapal besar untuk bersandar dan memandu ke tengah laut, tapi juga jadi pemadam kebakaran saat ada kapal atau dermaga terbakar hingga emergency kapal kandas,” ujar Muzzamil membuka pembicaraan pada IDN Times yang ikut bersama kru, 5 Agustus 2026.

MTT Reya berbendara Malaysia mengangkut peti kemas dari Port Klang. Meski kapal ini tergolong baru dan canggih tapi tidak bisa sandar sendiri ke dermaga. Mereka membutuhkan kapal pandu dan tunda yang memiliki teknologi Azimuth Stern Drive (ASD) untuk bisa masuk dan keluar dengan aman.

“Kapal besar itu enggak bisa bermanuver, baling-balingnya bertenaga besar. Akan sangat sulit untuk sandar ke dermaga dan bisa menabrak kapal lain. Sedangkan kapal tunda dengan ASD Tug ini bisa bermanuver, gak pakai kemudi yang bulat seperti kapal besar, itu alasannya kapal tunda penting bagi kapal-kapal besar,” terang pria yang akrab disapa Zammil ini.

Jasa pandu dan tunda di Pelabuhan Belawan Medan ini disediakan oleh Pelindo Jasa Maritim (PJM) Wilayah 1 Area Sumatera 1 Unit Belawan, Kota Medan, bagian dari PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IDX: IPCM). Hang Tuah II adalah satu dari enam kapal tunda yang dimiliki Unit Belawan.

KT Hang Tuah II (3).JPG
Kapal Tunda Bayu II menunggu KT Hang Tuah II untuk menyandarkan kapal MSC bersandar di terminal peti kemas Pelabuhan Belawan, Medan, 5 Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Zammil sudah 6 tahun bekerja untuk PJM. Meniti karir dari kru dan dua tahun terakhir ia dipercaya sebagai Kapten.

Asyik bercerita, tak terasa Hang Tuah II sudah berada di hadapan MTT Reya. KT Hang Tuah III sampai lebih dulu, sudah sandar di buritan.

Dengan cekatan dan penuh ketelitian, Hang Tuah II perlahan menempel di badan kapal MTT Reya. Kru dengan gesit menambat tambang ke kapal itu. Radio di ruang kemudi Muzzammil sahut-menyahut dengan Kapten Hang Tuah III dan kru kapal MTT Reya untuk berkoordinasi.

Dalam hitungan menit MTT Reya sudah sandar di Dermaga Peti Kemas Belawan. Crane berukuran raksasa stand by menurunkan peti kemas.

Begitu tambang MTT Reya tertambat di demaga, tugas KT Hang Tuah II dan III selesai. Kru melepaskan tambang dari MTT Reya, lalu perlahan menjauh. Jika ingin dipandu ke tengah laut, MTT Reya akan melakukan permohonan lewat aplikasi. Permintaan jasa pandu atau tunda akan langsung masuk ke gawai Hang Tuah II atau kapal lain yang sedang stand by.

“Ini kapal LBN pengangkut semen request memutar badan kapal di dermaga lama. Kamu masih mau ikut?” tanya Zammil pada IDN Times sambil memutar arah kapal. Tanpa ragu IDN Times ikut melaju bersama Hang Tuah II sore itu.

Sekilas ruang kemudi Hang Tuah II seperti ruang pilot pesawat terbang, memiliki puluhan tombol. Satu per satu fitur di ruang kemudi diperkenalkan Zammil secara singkat. Dari mulai fungsi layar dan tombol, hingga menunjukkan cara kapal bermesin 2.000 HP ini melakukan manuver.

KT Hang Tuah II (4).JPG
Kru KT Hang Tuah II menambatkan tambang ke Kapal MSC sebelum membantu sandar ke terminal peti kemas Pelabuhan Belawan, Medan, 5 Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Zammil bercerita ia adalah lulusan Akademi Maritim Indonesia (AMI) Medan. Lulus tahun 2011 dan langsung bekerja di dunia maritim. Sejak awal memilih AMI untuk menimba ilmu ia sudah menyadari risiko pekerjaan yang akan dihadapi di dunia kerja nanti. Laut kini jadi karibnya.

Berada di kapal selama 4 pekan beruntun sudah jadi rutinitas. Meski begitu, Zammil sangat mencintai pekerjaannya. Kadang terasa lelah dan jenuh. Namun begitu panggilan tugas datang dan duduk di kursi kemudi, semua dikerjakan dengan sepenuh hati dan penuh hati-hati.

Walau sudah 15 tahun bekerja di dunia maritim, bagi Muzzamil, laut bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan. Untuk itu setiap awal bulan ia selalu memimpin kru untuk safety brief. Menguji alat keselamatan, alat pemadam kebakaran dan lain sebagainya. Karena keselamatan tim adalah yang utama.

“Di laut situasi bisa berubah berbahaya dalam hitungan detik, cuaca, angin bisa berubah. Kapal yang dilayani bentuknya juga berbeda-beda, jika tidak hati-hati tiang kapal bisa patah, bisa juga terjadi hal lain seperti kebakaran,” bebernya.

Selain kapal tunda, Hang Tuah II akan berubah menjadi pemadam kebakaran jika terjadi insiden di dermaga atau di tengah laut. Dengan dua alat semprot air berjarak 30 meter, Zammil dan kru harus siap siaga jika ada kebakaran.

Teranyar Hang Tuah II terjun membantu memadamkan kebakaran kapal kargo KM Bintang Mas HSB 7 yang memuat ribuan ton pupuk di Dermaga 202 Ujung Baru, Pelabuhan Belawan pada 10 April 2026.

“Yang paling saya kenang waktu kebakaran MT Jag Leela, itu kapal sangat besar terbakar di galangan kapal. Semua kapal tunda dikerahkan untuk bantu memadamkan api. Api sangat besar, sangat mengerikan. Tetapi sudah tanggung jawab kami sebagai kapal tunda untuk membantu memadamkan api, maka kami lakukan dengan sepenuh hati,” kenangnya.

Penelusuran IDN Times, MT Jag Leela adalah kapal tanker pengangkut minyak mentah berbendera India, terbakar pada 2020. Memiliki panjang 244 meter, lebar 42 meter, serta kapasitas bobot mati 105.525 ton. Insiden kebakaran itu menewaskan 7 orang pekerja dan melukai 22 orang lainnya.

Berbagai situasi sudah dilalui Zammil bersama kedelapan krunya. Baginya, Asril Fauzi, Danil Saputra, Didik Ginanjar, Bambang Syahputra, Salomon Sembiring, Kusianto, Suwandi, dan Rian Batubara lebih dari sekadar kru, sudah seperti keluarga sendiri. Mereka saling dukung dan saling mengingatkan dalam setiap situasi.

“Kadang kalau lagi tukar shift gak di kemudi, saya bantu juga menambat tali. Walaupun saya kapten, ada kru yang usianya lebih tua dan pengalamannya lebih lama daripada saya. Keberhasilan setiap pekerjaan di kapal ini tidak ada yang hasil kerja pribadi tetapi hasil kerja sama tim,” ujar pria 34 tahun ini.

KT Hang Tuah II (6).JPG
Kapal Tunda Hang Tuah II membantu MV MTT Reya bersandar di Dermaga Peti Kemas Belawan, Medan, 5 Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Tak terasa sudah tiga kapal dilayani Hang Tuah II dalam waktu tiga jam: MTT Reya, LBN, dan MSC. Langit sudah mulai memerah, tepat azan magrib, Zammil menyandarkan Hang Tuah II di dermaga.

Asisten Manager Penyiapan Armada PJM Wilayah I Unit Belawan, Rahmad Hidayat menjelaskan di perairan Belawan PJM memiliki 6 unit kapal tunda bertenaga 2000 NP.

Menurutnya PJM bergerak dalam bidang pelayanan jasa pemanduan dan jasa penundaaan dengan pangsa pasar utama yaitu melayani kegiatan pelayanan kapal di seluruh wilayah kerja Regional PT Pelabuhan Indonesia.

“Selain berfokus pada peningkatan kualitas layanan pada pelanggan, PJM juga berkomitmen untuk terus mengintegrasikan prinsip-prinsip Quality, Health, Safety, Security, and Environment (QHSSE) di seluruh aktivitas operasional untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, andal, serta berkelanjutan,” ujarnya.

KT Hang Tuah II (2).JPG
Muhammad Muzammil, Kapten Kapal Tunda Hang Tuah II saat membantu MV MTT Reya bersandar di Dermaga Peti Kemas Belawan, Medan, 5 Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Konsistensi di semua unit bisnis ini mengantarkan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun buku 2025.

Dalam siaran pers 24 Juni 2026, Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita membeberkan sepanjang 2025, kontribusi pendapatan terbesar berasal dari jasa penundaan senilai Rp1,32 Triliun atau 89,51 persen dari total pendapatan. Jasa pemanduan menyumbang Rp105,07 Miliar atau 7,12 persen, sementara sisanya berasal dari jasa pengangkutan dan lainnya sebesar Rp49,67 Miliar atau 3,37 persen.

"Pertumbuhan kinerja IPCM pada tahun 2025 menunjukkan ketahanan model bisnis perusahaan serta komitmen kami dalam memberikan layanan maritim yang andal dan berdaya saing. Ke depan, IPCM akan terus memperkuat sinergi dalam ekosistem Pelindo Group serta mengembangkan peluang bisnis baru guna menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan," ujar Shanti.

Sebagai perusahaan jasa kepelabuhanan yang berfokus pada layanan pemanduan, penundaan kapal, pengepilan, serta layanan maritim lainnya, Shanti optimis pertumbuhan industri maritim nasional akan terus berkembang seiring peningkatan aktivitas perdagangan dan logistik di Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More