Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sumut Targetkan Asahan Hingga Labura Daerah Bebas Pasung ODGJ
( Ilustrasi ODGJ) IDN Times/Istimewa
  • Pemprov Sumut menargetkan Asahan, Tanjungbalai, dan Labura jadi wilayah bebas pasung ODGJ dengan penanganan langsung serta layanan antar-jemput menuju RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem.
  • RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem bekerja sama dengan Baznas membentuk UPZ untuk mendukung operasional program daycare, termasuk pengadaan kendaraan dan pelatihan keterampilan bagi pasien ODGJ.
  • Sebanyak 186 ODGJ di Sumut telah ditangani melalui program UHC, PROBIS, dan PHTC yang juga mendorong penghapusan stigma negatif terhadap gangguan jiwa serta deteksi dini kesehatan mental anak-remaja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN  Times – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menargetkan Kabupaten Asahan, Kota Tanjungbalai, dan Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) menjadi wilayah bebas pasung bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan ODGJ sekaligus menghapus praktik pemasungan yang masih dilakukan sebagian keluarga karena keterbatasan pemahaman maupun akses layanan kesehatan jiwa.

Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. Dr. Muhammad Ildrem Sumut, Sri Suriani Purnamawati, mengatakan tim akan turun langsung ke sejumlah daerah untuk menangani ODGJ yang masih dipasung oleh keluarganya.

“Minggu ini kita coba untuk turun ke daerah mengatasi masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan atau ODGJ yang dipasung pihak keluarganya. Selama ini mereka dipasung supaya tidak mengganggu, tidak meresahkan masyarakat, padahal itu dilarang dan tidak dibenarkan,” ujar Sri dalam konferensi pers di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Medan, Kamis (16/7/2026).

1. Pemprov Sumut jemput odgj yang masih dipasung untuk mendapat perawatan

Ilustrasi ODGJ (IDN Times/Sunariyah)

Program bebas pasung tersebut akan dilakukan dengan melibatkan layanan penjemputan khusus bagi pasien ODGJ yang masih dipasung. Pasien nantinya akan dibawa ke RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem untuk mendapatkan penanganan medis dan rehabilitasi.

Sri menjelaskan, setelah menjalani perawatan awal, pasien akan mengikuti program rehabilitasi psikososial atau daycare. Program ini bertujuan membantu pasien membangun rutinitas, meningkatkan kemampuan beraktivitas, serta melatih kemandirian.

Layanan tersebut dijalankan melalui kerja sama antara RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem, RSU Haji Medan, serta sejumlah rumah sakit umum daerah di kabupaten/kota.

“Rehabilitasi psikososial itu penting untuk ODGJ karena bertujuan membentuk kebiasaannya setiap hari dia melakukan aktivitas apa saja, ini menjadi strategi untuk kemandirian pasien, makanya kita berikan layanan ini di mana pasien pagi diantar dan sore dijemput keluarganya,” kata Sri.

Menurutnya, layanan antar-jemput menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program karena pasien ODGJ tidak selalu memungkinkan menggunakan transportasi umum. Sementara penggunaan ambulans masih memiliki kendala karena adanya retribusi.

2. Gandeng Baznas, RSJ Ildrem tambah armada antar-jemput pasien

Ilustrasi ODGJ/ Kemensos Bebaskan ODGJ Kakak Adik yang Dipasung 24 Tahun di Banten. (dok. Kemensos)

Untuk mengatasi kendala transportasi, RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) melalui pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ).

Kerja sama tersebut bertujuan mengelola zakat, infak, dan sedekah untuk mendukung kebutuhan operasional, termasuk pengadaan kendaraan yang digunakan untuk menjemput dan mengantar pasien ODGJ.

“Kerja sama ini membuat program daycare lebih masif, masyarakat merasa nyaman jika keluarganya yang ODGJ dijemput dan diantar kembali. Saat ini masih satu mobil, kita terus membuka donasi, mudah-mudahan mobil transportasi ini bisa bertambah,” katanya.

Selama mengikuti program daycare, pasien tidak hanya mendapatkan pengobatan, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan yang mendukung proses pemulihan.

Kegiatan tersebut meliputi pembinaan kerohanian, pengajian, melukis, hingga pelatihan keterampilan seperti membuat sabun cuci piring, eco enzyme, dan karbol. Produk hasil karya pasien juga dipamerkan serta dipasarkan melalui stan RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem dalam Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50.

Selain itu, pasien juga diberikan pelatihan bercocok tanam, seperti menanam kangkung dan pakcoi, hingga budidaya magot serta beternak ayam petelur.

“Pasien juga kita beri pelatihan menanam sayuran seperti kangkung, pakcoi dan kami ajarkan budidaya magot. Karena di RSJ ada instalasi gizi yang memiliki limbah organik, kami buat magot dan beternak ayam petelur yang satu kandang 15 ekor,” ujarnya.

3. Sumut Tangani 186 ODGJ, dorong hilangkan stigma gangguan jiwa

Ilustrasi ODGJ (IDN Times/Sunariyah)

Melalui program daycare, pasien ODGJ diharapkan mampu membangun kebiasaan positif melalui 20 kali kunjungan sehingga dapat kembali beraktivitas dan berkomunikasi dengan keluarga maupun lingkungan sekitar.

Sri menegaskan, stigma bahwa ODGJ tidak mampu melakukan aktivitas produktif perlu diubah. Menurutnya, gangguan jiwa tidak menghilangkan kemampuan berpikir seseorang, terutama ketika pasien mendapatkan penanganan yang tepat.

“Stigma kita selama ini bahwa orang dengan gangguan jiwa itu tidak bisa melakukan apa-apa, itu tidak benar. Sebab gangguan jiwa tidak mengubah dan tidak mengurangi kecerdasan. Sifat agresif dan halusinasinya bisa ditekan dengan obat-obatan sehingga mereka tetap bisa beraktivitas kembali,” terang Sri.

Selain program bebas pasung, RSJ Prof. Dr. Muhammad Ildrem juga menyiapkan program deteksi dini kesehatan mental bagi anak dan remaja. Program tersebut bertujuan menemukan lebih awal Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) agar mendapatkan penanganan lebih cepat.

“Kalau ada anak dan remaja yang mengalami masalah kejiwaan mungkin karena beban tugas di sekolah yang tinggi bisa datang ke RSJ untuk mendapatkan layanan kesehatan langsung dengan dokter psikiatri khusus untuk anak dan remaja,” kata Sri.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sumut Hery Valona Bonatua Ambarita mengatakan sebanyak 186 ODGJ yang tersebar di 33 kabupaten/kota di Sumut telah mendapatkan penanganan.

Menurut Hery, program tersebut merupakan bagian dari Universal Health Coverage (UHC), Program Berobat Gratis (PROBIS), dan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Gubernur Sumut. Melalui program itu, masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan jiwa tanpa biaya.

“Masyarakat yang terpasung akan kita bawa ke RS Jiwa, seperti di Tanjung Balai dari lima orang yang terpasung tinggal dua orang lagi yang keluarganya belum bersedia. Padahal, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) harus dibawa ke RS Jiwa untuk mendapatkan pelayanan yang standar,” kata Hery.

Curated For You

Editorial Team

Related Article