Aceh Tamiang, IDN Times - Lepas subuh, sebelum embun di dedaunan mengering diterpa terik, Sella sudah menyelesaikan seluruh urusan domestik rumah tangganya. Lalu diantarnya dua buah hati ke sekolah.
Setelah itu ia bergegas ke Agro Eduwisata Melon di Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, tak jauh dari rumahnya. Jika terlambat, melon kuning di kebun milik Kelompok Tani Melon Mutiara seluas 3 rante bisa ludes jadi santapan monyet liar.
Perempuan 33 tahun bernama lengkap Nesya Gasella ini adalah satu dari 20-an anggota Kelompok Tani Melon Mutiara. Dua tahun terakhir, selain mengurus suami dan dua anak, ia aktif ikut sekolah lapang dan bertani melon kuning atau Melon Golden.
“Hitung-hitung bantu pemasukan rumah tangga. Setelah antar anak sekolah, dari pada di rumah saja mending di sini saya belajar bertani melon dan dapat penghasilan tambahan,” ujarnya yang ditemui IDN Times saat sedang menimbang melon kuning hasil panen, 12 Agustus 2026.
Sella sudah bergabung dengan Kelompok Tani Melon Mutiara atau biasa disebut Melonesia sejak 2025. Memang kebun Melon Kuning rintisan Chaidir Saleh sudah ada sejak beberapa tahun lalu.
Namun usia yang tak muda lagi dan penyakit yang menyerang, memaksa Chaidir menyerahkan pengelolaannya pada orang lain. Di bentuklah Kelompok Tani Melon Mutiara. Pertamina EP Rantau memberikan suntikan dukungan dan menjadikannya sebagai bagian dari Program Smart Agriculture.
Bagi Sella, keterlibatannya bukan sekadar pengisi waktu luang. Melainkan wujud kegigihan seorang wanita membantu menopang kesejahteraan keluarga di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.
Bergabungnya Sella ke dalam kelompok tani ini seakan memberi energi baru bagi dirinya. Mentransformasi sosok ibu rumah tangga biasa menjadi seorang pembudidaya yang memahami seluk-beluk pertanian modern.
“Pak Chaidir menjadi mentor kami, Pertamina EP Rantau juga terus memberi pendampingan dan rutin menggelar sekolah lapang. Dengan bergabung ke kelompok tani saya jadi paham bagaimana memanjemen keuangan kelompok, menyiapkan lahan pasca panen, menanam, memupuk, hingga memanen Melon,” ungkapnya.
Sebelum melangkah bersama kelompok tani Melonesia, Sella sebenarnya tidak benar-benar awam dengan dunia bercocok tanam. Di pekarangan samping dan belakang rumahnya, ia telah terbiasa memanfaatkan lahan sempit untuk menanam sayuran keluarga seperti kangkung dan bayam.
Namun, mengelola budidaya melon kuning dalam skala kelompok dengan jumlah 1.200 pohon memberikan tantangan serta pengalaman teknis yang jauh berbeda. Selain perawatan tanaman, Sella juga memperoleh wawasan baru mengenai efisiensi biaya dan manajemen media tanam konvensional versus modern.
Yang paling mengkhawatirkan adalah hama monyet liar. Jika sudah jam 7 pagi kebun tidak dijaga, maka melon-melon kuning yang baru tumbuh akan jadi santapan monyet.
“Jadi bertani melon ini seperti merawat bayi, harus benar-benar kita jaga dari pagi sampai sore. Selain itu pemupukan dan perawatannya juga ekstra agar rasa manisnya bisa terjaga,” jelas Sella.
Metode tanamnya juga sedikit berbeda, tidak langsung di tanah tapi menggunakan polibag. Dengan menggunakan media tanam dalam polibag yang mampu bertahan hingga 20 sampai 23 kali siklus penggunaan jauh melampaui teknik biasa yang umumnya hanya bertahan 2 hingga 4 kali pakai. Dengan polybag, memupuknya juga menjadi lebih gampang.
Dari aktivitas penjualan hasil panen raya, Sella memperoleh imbalan atas dedikasi usahanya. Pada panen pertama tahun 2025, ia berhasil mengantongi penghasilan sebesar Rp1,4 juta yang berasal dari akumulasi upah harian kerja bantu jual selama empat hari berturut-turut.
“Waktu itu ada 1.000 batang, lalu musim tanam selanjutnya kami tambah menjadi 1.200 batang. Baru 15 hari menanam, bencana datang dan semua tananam hancur,” kenangnya.
Bencana yang dimaksud Sella adalah banjir bandang hebat yang melanda Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025. Di Kebun Melonesia, banjir setinggi dua meter dan menghancurkan tanaman dan lahan. Rumah Sella dan beberapa anggota kelompok tani Melonesia tak luput dari bencana.
“Kami sekeluarga mengungsi di atas kanopi sebuah bangunan kantor. Selama dua hari tiga malam tanpa makanan dan hanya mengandalkan beberapa botol air mineral Aqua,” ungkapnya.
Saat air mulai surut pada hari ketiga, ujian belum sepenuhnya usai karena mereka belum bisa kembali ke dalam rumah yang dipenuhi lumpur. Sella dan keluarganya harus melanjutkan pengungsian selama dua hari di rumah keluarga. Baru pada hari kelima pascabanjir, mereka dapat melangkah masuk ke rumah untuk memulai proses pembersihan dan pemulihan kondisi hunian yang rusak terdampak banjir.
Selama beberapa bulan mereka fokus memperbaiki rumah masing-masing. Pasca lebaran 2026, kelompok tani bangkit lagi, lahan seluas 3 rante yang direndam lumpur mereka perbaiki lagi dan memulai semua dari awal.
Total 1.200 batang melon kuning berhasil mereka tanam. Pada siklus panen berikutnya, Seberat 2,1 ton melon kuning berhasil mereka jual. Dinamika pembagian hasil panen diatur secara proporsional berdasarkan tingkat kehadiran anggota dalam sekolah lapang serta kontribusi nyata di lapangan.
Hasil penjualan melon kuning kelompok mampu menembus angka penjualan hingga Rp40 juta dengan harga jual rata-rata Rp20 ribu per kilogram.
Dari panen ini, Sella membawa pulang imbalan kerja sebesar Rp700 ribu untuk tugas penjualan selama satu minggu, ditambah bagian keuntungan sebesar Rp200 ribu setelah dipotong alokasi modal penanaman kembali dan operasional kelompok.
“Gak menyangka juga kami bisa bangkit jika mau bekerja bersama-sama. Lahan yang dulunya tertutup lumpur bisa kami pulihkan lagi dan bisa menghasilkan panen lebih banyak dibanding tahun lalu. Melon kuning yang kami rawat seperti bayi ini ternyata membawa rejeki,” jelasnya.
Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara, Beni Fauzi mengakui sangat mustahil bisa pulih secepat ini tanpa bantuan dari Pertamina EP Rantau Field. Sebab, banjir setinggi 2 meter meninggalkan endapan lumpur setinggi 70 sentimeter.
"Jujur saja kalau secara mandiri kami mustahil bisa bangkit kembali. Semua yang kami miliki sudah hancur. Modal habis, peralatan pertanian juga hancur. Banjir ini membuat kami banyak kehilangan harta benda," ujarnya.
Tidak lama setelah banjir, Pertamina EP Rantau Field menyokong seluruh kebutuhan mulai dari pengolahan kembali media tanam yang rusak, penyediaan bibit Melon Golden Alisha F1. Bahkan, seluruh sarana dan prasarana turut didukung.
Berhasil bangkit pasca bencana membuat optimisme baru bertunas kembali. Kelompok Tani Melonesia akan menambah jumlah pohon melon yang ditanam menjadi 1.400 batang pohon pada musim tanam akhir tahun 2026.
Targetnya, kelompok tani akan mencari lahan yang lebih luas agar bisa bertani secara kelanjutan sepanjang tahun dan menjadikannya agrowisata yang bisa dikunjungi setiap hari oleh wisatawan.