Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sella Tak Menyangka Melon Mutiara Bisa Bangkit Pasca Diterjang Bencana
Nesya Gasella anggota Kelompok Tani Melon Mutiara Aceh Tamiang memanen Melon Kuning, Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • Kelompok Tani Melon Mutiara di Aceh Tamiang bangkit setelah banjir bandang November 2025 menghancurkan lahan, tanaman, peralatan, serta rumah sejumlah anggotanya.

  • Pasca pemulihan lahan 3 rante, kelompok menanam 1.200 batang melon dan menjual 2,1 ton panen senilai hingga Rp40 juta.

  • Pertamina EP Rantau mendukung modal, sarana, sekolah lapang, dan pelatihan manajemen; kelompok menargetkan 1.400 pohon serta pengembangan agrowisata dan greenhouse.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aceh Tamiang, IDN Times - Lepas subuh, sebelum embun di dedaunan mengering diterpa terik, Sella sudah menyelesaikan seluruh urusan domestik rumah tangganya. Lalu diantarnya dua buah hati ke sekolah.

Setelah itu ia bergegas ke Agro Eduwisata Melon di Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, tak jauh dari rumahnya. Jika terlambat, melon kuning di kebun milik Kelompok Tani Melon Mutiara seluas 3 rante bisa ludes jadi santapan monyet liar.

Perempuan 33 tahun bernama lengkap Nesya Gasella ini adalah satu dari 20-an anggota Kelompok Tani Melon Mutiara. Dua tahun terakhir, selain mengurus suami dan dua anak, ia aktif ikut sekolah lapang dan bertani melon kuning atau Melon Golden.

“Hitung-hitung bantu pemasukan rumah tangga. Setelah antar anak sekolah, dari pada di rumah saja mending di sini saya belajar bertani melon dan dapat penghasilan tambahan,” ujarnya yang ditemui IDN Times saat sedang menimbang melon kuning hasil panen, 12 Agustus 2026.

Sella sudah bergabung dengan Kelompok Tani Melon Mutiara atau biasa disebut Melonesia sejak 2025. Memang kebun Melon Kuning rintisan Chaidir Saleh sudah ada sejak beberapa tahun lalu.

Namun usia yang tak muda lagi dan penyakit yang menyerang, memaksa Chaidir menyerahkan pengelolaannya pada orang lain. Di bentuklah Kelompok Tani Melon Mutiara. Pertamina EP Rantau memberikan suntikan dukungan dan menjadikannya sebagai bagian dari Program Smart Agriculture.

Bagi Sella, keterlibatannya bukan sekadar pengisi waktu luang. Melainkan wujud kegigihan seorang wanita membantu menopang kesejahteraan keluarga di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.

Bergabungnya Sella ke dalam kelompok tani ini seakan memberi energi baru bagi dirinya. Mentransformasi sosok ibu rumah tangga biasa menjadi seorang pembudidaya yang memahami seluk-beluk pertanian modern.

“Pak Chaidir menjadi mentor kami, Pertamina EP Rantau juga terus memberi pendampingan dan rutin menggelar sekolah lapang. Dengan bergabung ke kelompok tani saya jadi paham bagaimana memanjemen keuangan kelompok, menyiapkan lahan pasca panen, menanam, memupuk, hingga memanen Melon,” ungkapnya.

Nesya Gasella anggota Kelompok Tani Melon Mutiara Aceh Tamiang menimbang Melon Kuning hasil panen, Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Sebelum melangkah bersama kelompok tani Melonesia, Sella sebenarnya tidak benar-benar awam dengan dunia bercocok tanam. Di pekarangan samping dan belakang rumahnya, ia telah terbiasa memanfaatkan lahan sempit untuk menanam sayuran keluarga seperti kangkung dan bayam.

Namun, mengelola budidaya melon kuning dalam skala kelompok dengan jumlah 1.200 pohon memberikan tantangan serta pengalaman teknis yang jauh berbeda. Selain perawatan tanaman, Sella juga memperoleh wawasan baru mengenai efisiensi biaya dan manajemen media tanam konvensional versus modern.

Yang paling mengkhawatirkan adalah hama monyet liar. Jika sudah jam 7 pagi kebun tidak dijaga, maka melon-melon kuning yang baru tumbuh akan jadi santapan monyet.

“Jadi bertani melon ini seperti merawat bayi, harus benar-benar kita jaga dari pagi sampai sore. Selain itu pemupukan dan perawatannya juga ekstra agar rasa manisnya bisa terjaga,” jelas Sella.

Metode tanamnya juga sedikit berbeda, tidak langsung di tanah tapi menggunakan polibag. Dengan menggunakan media tanam dalam polibag yang mampu bertahan hingga 20 sampai 23 kali siklus penggunaan jauh melampaui teknik biasa yang umumnya hanya bertahan 2 hingga 4 kali pakai. Dengan polybag, memupuknya juga menjadi lebih gampang.

Dari aktivitas penjualan hasil panen raya, Sella memperoleh imbalan atas dedikasi usahanya. Pada panen pertama tahun 2025, ia berhasil mengantongi penghasilan sebesar Rp1,4 juta yang berasal dari akumulasi upah harian kerja bantu jual selama empat hari berturut-turut.

“Waktu itu ada 1.000 batang, lalu musim tanam selanjutnya kami tambah menjadi 1.200 batang. Baru 15 hari menanam, bencana datang dan semua tananam hancur,” kenangnya.

Bencana yang dimaksud Sella adalah banjir bandang hebat yang melanda Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025. Di Kebun Melonesia, banjir setinggi dua meter dan menghancurkan tanaman dan lahan. Rumah Sella dan beberapa anggota kelompok tani Melonesia tak luput dari bencana.

“Kami sekeluarga mengungsi di atas kanopi sebuah bangunan kantor. Selama dua hari tiga malam tanpa makanan dan hanya mengandalkan beberapa botol air mineral Aqua,” ungkapnya.

Saat air mulai surut pada hari ketiga, ujian belum sepenuhnya usai karena mereka belum bisa kembali ke dalam rumah yang dipenuhi lumpur. Sella dan keluarganya harus melanjutkan pengungsian selama dua hari di rumah keluarga. Baru pada hari kelima pascabanjir, mereka dapat melangkah masuk ke rumah untuk memulai proses pembersihan dan pemulihan kondisi hunian yang rusak terdampak banjir.

Selama beberapa bulan mereka fokus memperbaiki rumah masing-masing. Pasca lebaran 2026, kelompok tani bangkit lagi, lahan seluas 3 rante yang direndam lumpur mereka perbaiki lagi dan memulai semua dari awal.

Total 1.200 batang melon kuning berhasil mereka tanam. Pada siklus panen berikutnya, Seberat 2,1 ton melon kuning berhasil mereka jual. Dinamika pembagian hasil panen diatur secara proporsional berdasarkan tingkat kehadiran anggota dalam sekolah lapang serta kontribusi nyata di lapangan.

Hasil penjualan melon kuning kelompok mampu menembus angka penjualan hingga Rp40 juta dengan harga jual rata-rata Rp20 ribu per kilogram.

Dari panen ini, Sella membawa pulang imbalan kerja sebesar Rp700 ribu untuk tugas penjualan selama satu minggu, ditambah bagian keuntungan sebesar Rp200 ribu setelah dipotong alokasi modal penanaman kembali dan operasional kelompok.

“Gak menyangka juga kami bisa bangkit jika mau bekerja bersama-sama. Lahan yang dulunya tertutup lumpur bisa kami pulihkan lagi dan bisa menghasilkan panen lebih banyak dibanding tahun lalu. Melon kuning yang kami rawat seperti bayi ini ternyata membawa rejeki,” jelasnya.

Pertamina EP Rantau dan Kelompok Tani Melon Mutiara Aceh Tamiang menggelar acara panen raya Melon Kuning, Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara, Beni Fauzi mengakui sangat mustahil bisa pulih secepat ini tanpa bantuan dari Pertamina EP Rantau Field. Sebab, banjir setinggi 2 meter meninggalkan endapan lumpur setinggi 70 sentimeter.

"Jujur saja kalau secara mandiri kami mustahil bisa bangkit kembali. Semua yang kami miliki sudah hancur. Modal habis, peralatan pertanian juga hancur. Banjir ini membuat kami banyak kehilangan harta benda," ujarnya.

Tidak lama setelah banjir, Pertamina EP Rantau Field menyokong seluruh kebutuhan mulai dari pengolahan kembali media tanam yang rusak, penyediaan bibit Melon Golden Alisha F1. Bahkan, seluruh sarana dan prasarana turut didukung.

Berhasil bangkit pasca bencana membuat optimisme baru bertunas kembali. Kelompok Tani Melonesia akan menambah jumlah pohon melon yang ditanam menjadi 1.400 batang pohon pada musim tanam akhir tahun 2026.

Targetnya, kelompok tani akan mencari lahan yang lebih luas agar bisa bertani secara kelanjutan sepanjang tahun dan menjadikannya agrowisata yang bisa dikunjungi setiap hari oleh wisatawan.

Langkah Tangguh Merawat Kedaulatan Tani

Pertamina EP Rantau dan Kelompok Tani Melon Mutiara Aceh Tamiang menggelar acara panen raya Melon Kuning, Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah mengatakan bantuan yang disalurkan perusahaan pascabanjir bandang November 2025 menjadi langkah awal membantu masyarakat untuk pulih. Kala itu kondisi lahan pertanian mengalami kerusakan parah hingga seluruh polibag hancur dan sobek tak tersisa.

Dalam kondisi krisis tersebut, Pertamina EP (PEP) Rantau hadir mengambil peran strategis sebagai motor penggerak pemulihan dengan menginisiasi proses restorasi lahan secara menyeluruh, menggemburkan kembali tanah yang memadat, serta mengucurkan bantuan modal modal awal CSR berupa benih, pupuk, hingga peralatan pertanian yang baru.

Perusahaan juga mendorong agar warga sekitar operasional terus tumbuh dan mandiri lewat berbagai program pemberdayaan.

"Berbagai program pemberdayaan masyarakat yang sudah direalisasikan ini sebagai wujud nyata perusahaan memberikan manfaat secara berkelanjutan," ujarnya.

Ia menambahkan, Kelompok Tani Melon Mutiara harus menjaga semangat untuk belajar dan mengembangkan usahanya. Keberhasilan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) membutuhkan kolaborasi dengan stakeholder seperti pemerintah, akademisi dan berbagai pihak lainnya.

"Kami berharap mitra binaan bisa berkembang dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Jadi program PPM dibangun bersama masyarakat bukan dibangun oleh Pertamina sendiri," katanya.

Intan Lukfia Indriyani, PIC Program Smart Agriculture Melonesia menjelaskan peran mendasar Pertamina EP Rantau tidak berhenti pada penyaluran bantuan materi belaka. Perusahaan menyadari betul pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkesinambungan melalui penyelenggaraan program sekolah lapang.

“Inisiatif edukasi ini dirancang berjalan beriringan dengan proses penanaman, yang mencakup 14 hingga 16 kali pertemuan setiap periodenya. Langkah intensif ini diambil karena pemahaman teknik budidaya yang presisi tidak dapat diraih hanya dalam satu siklus pembelajaran, melainkan membutuhkan pengawalan berkala dari awal tanam hingga masa panen,” ujarnya.

Memasuki tahun kedua dan berjalan di periode ketiga penanaman, cakupan manfaat dari program sekolah lapang ini kian diperluas. Pertamina EP Rantau mulai merambah pemberdayaan ke wilayah luar dengan membuka kesempatan belajar bagi warga desa serta merangkul kelompok disabilitas. Langkah inklusif ini menjadi wujud komitmen perusahaan dalam memastikan bahwa pengetahuan agribisnis modern dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Melon Kuning hasil panen Kelompok Tani Melon Mutiara, Aceh Tamiang, Agustus 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Dalam sekolah lapang tersebut, para petani dibekali berbagai teknik budidaya unggulan yang aplikatif dan ramah lingkungan. Salah satunya adalah penerapan teknik pengocoran pupuk serta penyiraman presisi menggunakan takaran gelas kecil yang tertanam di tanah.

Metode takar ini memastikan efisiensi konsumsi air dan nutrisi tanaman secara pas tanpa berlebihan, sekaligus mengikis bertahap penggunaan bahan kimia demi mengejar target sertifikasi mutu pangan Prima 2 hingga Prima 1 (organik utuh).

“Selain sektor teknis bercocok tanam, Pertamina EP Rantau turut membekali para petani dengan manajemen keuangan modern melalui pelatihan pencatatan digital. Penggunaan aplikasi khusus diperkenalkan untuk merapikan pembukuan operasional, mendokumentasikan bukti transaksi (eviden), serta memetakan strategi pemasaran digital secara lebih tertata,” ungkapnya.

Langkah ini, tambah Intan, krusial untuk mentransformasi pola piker petani tradisional menuju pengelolaan usaha tani yang transparan, akuntabel, dan profesional.

Sistem tata kelola kelompok dibina secara transparan melalui mekanisme evaluasi rutin setiap kali masa panen usai. Kelompok tani wajib melaporkan hasil tonase panen, pencatatan keuangan, hingga memformulasikan pembagian persentase pendapatan secara adil.

Hasil penjualan dialokasikan untuk membagi keuntungan bagi pengurus, anggota, mentor, dana kas desa, serta alokasi modal bergulir yang diamankan guna membiayai siklus penanaman berikutnya.

“Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan harga di tingkat petani, Pertamina EP Rantau mendorong pengembangan konsep agrowisata petik melon langsung. Pilihan penyerapan pasar ini menjadi solusi strategis guna menghindari permainan harga oleh para agen atau pengepul yang acap kali menawar jauh di bawah standar pasaran,” tambahnya.

Tak dinyana, kehadiran agrowisata melon kuning ini rupanya mendapat sambutan hangat dari warga setempat, mengingat alternatif sarana rekreasi di daerah tersebut terbilang masih minim. Keindahan hamparan buah melon kuning berpadu daya tarik cita rasa buah yang jauh lebih manis dan segar dibanding produk komersial pasar menjadi magnet utama kedatangan para wisatawan lokal.

“Penjualan langsung berbasis business-to-consumer (B2C) maupun mouth-to-mouth (M2M) ini sukses mengamankan margin keuntungan tertinggi bagi para petani,” ungkapnya.

Ke depannya, menurut Intan, Pertamina EP Rantau telah menyusun cetak biru pengembangan kawasan dengan merencanakan pembangunan fasilitas green house di lokasi baru. Fasilitas penanaman tertutup ini disiapkan untuk mendongkrak kapasitas produksi nasional kelompok secara drastis.

Pembangunan green house juga ditujukan untuk meningkatkan keterlibatan anggota kelompok secara aktif harian. Sehingga mereka tidak lagi hanya bekerja secara musiman menjelang masa panen tiba.

“Dampak jangka panjang yang ingin dicapai oleh Pertamina EP Rantau melalui seluruh rangkaian program ini adalah mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat, menciptakan kedaulatan harga bagi petani lokal, serta menghadirkan model pemberdayaan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan,” terangnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article