Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bangkit dari Tragedi dengan Inovasi

Kota Medan
9 min read
Bangkit dari Tragedi dengan Inovasi
Perwira PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) saat melaksanakan aktivitas dalam mendukung ketahanan energi di Zona Rokan. (Dok. PHR)
  • Banjir besar Aceh Tamiang akhir 2025 melumpuhkan Pertamina EP Rantau, termasuk 95 sumur minyak, fasilitas listrik, pengolahan air, serta permukiman pekerja yang tertutup lumpur.
  • Tim Rantau memprioritaskan kebutuhan pengungsi, lalu mengaktifkan gas untuk listrik mandiri dan air bersih; inovasi NGC di SP5 menggantikan HPCS dengan biaya Rp18 juta.
  • Seluruh sumur kembali beroperasi pada April 2026; produksi sempat mencapai 2.000 barel per hari, sementara fasilitas didesain ulang agar lebih tahan banjir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

ACEH TAMIANG, IDN Times - Di bawah pekatnya endapan lumpur yang menyisakan keheningan mencekam dan deru Sungai Tamiang yang mengamuk, detak kehidupan Aceh Tamiang seakan mati suri. Napas industrinya terhenti seketika, dipaksa bungkam oleh banjir bah terbesar dalam sejarah Aceh Tamiang. Termasuk operasional Pertamina EP Rantau Field.

Namun, di tangan Tomi Wahyu Alimsyah, Pertamina EP Rantau Field menolak menyerah. Ia dibangunkan secara perlahan lewat denyut reaktivasi yang presisi, menuntun kembali fasilitas produksi dan puluhan sumur minyak yang sempat membisu.

Banjir tahun 2025 itu bukanlah banjir biasa. Kompleks perumahan hingga area operasional Pertamina EP Rantau benar-benar tenggelam. Ketika air perlahan surut, yang tersisa bukanlah tanah yang siap dipijak, melainkan pekatnya lumpur tebal melebihi setengah meter yang menutup seluruh akses kehidupan.

Rumah-rumah tertutup rapat oleh sedimen cokelat, kelistrikan mati total, dan fasilitas pengolahan air tak berfungsi. Kabupaten Aceh Tamiang lumpuh total, dan jantung operasional Rantau seolah terhenti tanpa detak.

Semua merasa hancur dan kehilangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, termasuk Tomi. Namun sebagai Field Manager, ia sadar tak boleh terlihat lemah serta harus bertindak cepat dan sistematis.

“Saat bencana saya ngungsi juga di PDSI bersama ratusan pekerja yang lain, hanya dengan pakaian yang ada di badan dan celana pendek. Terus pindah ke RTC, karena itu tepat paling bersih dan memiliki air. Saya waktu itu harus kerja di toilet perempuan, karena itu tempat yang paling bersih,” ungkapnya.

Ruang toilet sepetak itu seketika menjadi ruang kerja sekaligus ruang tidur. Di tempat ini Tomi memikirkan para pekerja, keluarga pekerja, dan keberlangsungan Pertamina EP Rantau. Ia sadar betul para pekerja masih terganggu mentalnya, bahkan mendengar suara hujan saja langsung khawatir. Namun ia berusaha menabahkan dan menguatkan semua, termasuk diri sendiri dan keluarga.

“Kami bergantian tidur dengan yang lain di tempat yang sepetak itu. Saat komisaris datang, saya itu hanya berpakaian seadanya dan bercelana pendek, langsung saya bilang waktu itu ‘mohon maaf pak tidak bisa menyambut dengan baik’,” kenangnya kala itu.

Pihak SKK Migas kala itu juga datang. Mereka memprediksi perlu waktu 3 tahun untuk bisa mengembalikan operasional PEP Rantau ke posisi normal.

“Nah, kami menjawab dengan mempercepat semua prediksi itu,” beber Tomi.

Ia sadar, memulihkan sebuah ladang minyak yang lumpuh tidak bisa dilakukan dengan ketergesaan tanpa arah. Ia membagi langkah penyelamatan ke dalam empat tahapan besar: emergensi, reaktivasi, pemulihan (recovery), dan keberlanjutan (sustainability).

Lokasi HPCS dan SP-5 Pertamina EP Rantau.jpg
Lokasi HPCS dan SP-5 Pertamina EP Rantau (Dok. Google Earth)

Tahap pertama adalah menjamin napas dasar para pekerja dan warga. Sebelum memikirkan kilat aliran minyak atau angka-angka produksi, kebutuhan manusiawi harus diselesaikan terlebih dahulu. Kebutuhan medis, makanan, air minum, tempat tinggal sementara, dan kelistrikan menjadi benteng pertama yang harus ditegakkan di tengah puing-puing bencana.

Tomi memahami siklus unik di Rantau: untuk mendapatkan air bersih, dibutuhkan listrik. Namun, mengandalkan jaringan listrik PLN yang turut rubuh diterjang banjir adalah sebuah kemewahan yang mustahil. Dari sinilah strategi reaktivasi berputar.

Tomi dan tim bergegas mengaktifkan kembali sumur-sumur yang kaya akan gas terasosiasi (associated gas). Gas yang berhasil dialirkan kemudian dikonversi menjadi energi listrik mandiri. Begitu listrik menyala, WTP (Water Treatment Plant) kembali bergetar, mengolah air keruh Sungai Tamiang menjadi air bersih untuk kebutuhan domestik dan sanitasi ribuan warga yang terisolasi.

Proses reaktivasi itu dirancang bagaikan simfoni yang bertahap. Tomi membaginya ke dalam tiga fase strategis: dimulai dari area Rantau yang kaya akan pasokan gas. Setiap fase diselesaikan dengan tingkat ketelitian tinggi demi memastikan keamanan pekerja dan keandalan fasilitas.

“Listrik menjadi target utama untuk diselesaikan. Kalau listrik sudah menyala, pengolahan air akan bisa dilakukan, kebutuhan air bersih bisa dipenuhi dan pengungsi terhindar dari penyakit. Listrik juga akan menggerakkan pembangkit di sumur-sumut produksi. Ini jadi jantung operasi sehingga menjadi prioritas,” ungkapnya.

  1. Biaya Minimum, Hasil Maksimum

    WhatsApp Image 2026-08-16 at 13.04.00.jpeg
    Perwira PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) saat melaksanakan aktivitas dalam mendukung ketahanan energi di Zona Rokan. (Dok. PHR)

    Supervisor HPSC Tanjung Seumantah, Edi Setiawan menjadi orang yang berperan penting dalam pengalihan sistem High Pressure Compressor Station (HPCS) Pertamina EP Rantau kala itu.

    Ia menjelaskan HPCS Seumantah sebelum hancur dihantam banjir, berfungsi menerima suplai gas produksi dari seluruh stasiun penampung (SP) dan mengalirkannya kembali sebagai fuel gas pembangkit listrik di Sistem Pembangkit Hidrokarbon/Generator (SPH). Lalu menggerakkan artificial lift (pompa gas) pada sumur-sumur produksi di seluruh area PEP Rantau.

    Sebelum banjir terdapat 13 fasilitas stasiun penampung utama, yaitu SP1, SP4, SP5, SP7, SP8, SP10, SP12, SP13, SP15, SP17, P3, WTIP, dan WIP. Namun HPCS mengalami kerusakan paling parah karena lokasinya hanya berjarak 60 meter dari sungai.

    Empat hari pasca bencana, Edi beserta tim bantuan dari Jambi turun ke lapangan dan menerbangkan drone untu mengecek kondisi HPCS. Kondisinya mengejutkan, tak pernah terjadi sebelumnya.

    “Pasir menutupi setengah bagian kompresor, pagar tumbang, dan beberapa fasilitas ambruk. Kami menghitung reaktivasi HPCS membutuhkan estimasi waktu hingga 6 bulan dan biaya sekitar Rp16 miliar. Tetapi banjir ini ibarat menciptakan seleksi alam, kami mengeliminasi 3 fasilitas produksi, sehingga total fasilitas penampung/produksi berkurang dari 13 menjadi 10 stasiun,” jelasnya.

    Untuk mempercepat recovery, tambah Edy, tim memutuskan tidak memperbaiki HPCS. Melainkan mengalihkan fungsi sentral gas ke SP5 melalui inovasi bernama NGC (New Central Gas Compressor). Pemilihan SP5 didasarkan pada studi dan simulasi.

    Pertama, SP5 memiliki 3 unit kompresor (Ajax DPC-80, Ajax DPC-280, dan LC) yang memiliki kapasitas cukup besar untuk menampung dan mengompres gas. Berdasarkan riwayat banjir (bobot 35%), jarak dari sungai, pembatas topografi, serta elevasi tanah, SP5 tergolong medium risk dan lokasinya lebih aman dari bencana dibanding SP1, SP8, maupun HPCS.

    Kedua, simulasi membuktikan kompresor SP5 mampu mengalirkan gas dengan tekanan minimum 20 psi ke area terjauh agar sumur-sumur dapat beroperasi.

    Ketiga, untuk mengatasi masalah kondensasi gas menjadi cairan di dalam pipa, dipasang scrubber discharge di SP5. Lalu diujicoba, gas yang telah dikompresi dialirkan kembali dari SP5 ke pembangkit listrik SPH dan ke sumur-sumur untuk menggerakkan artificial lift.

    Keempat, estimasi biaya mengubah peran SP5 menjadi New Central Gas Compressor sangat murah dibanding memperbaiki HPCS, yakni hanya Rp18 juta. Sedangkan biaya memperbaiki HPCS mencapai Rp16 miliar.

    “Ternyata dengan biaya yang sangat terjangkau ini berhasil, inovasi ini kami sebut NGC atau New Central Gas Compressor. Tim yang dibentuk waktu itu diberi nama RTU 001 (Rantau 001). Kami mengubah Peran SP5 dari yang semula hanya stasiun penyalur, kini menjadi pengepul sekaligus penyalur sentral. Ini Memangkas waktu downtime operasi dari estimasi 6 bulan, jika perbaiki HPCS, kini menjadi hanya sekitar 2-3 minggu pengerjaan pembersihan dan reaktivasi di SP5,” ungkapnya.

    Hasilnya, pada April 2026 seluruh sumur minyak Pertamina EP Rantau sudah beroperasi. Bulan Mei dan Agustus 2026, produksi PEP Rantau bahkan menyentuh angka 2.000 barel per hari. Artinya, lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum banjir. Saat ini produksi minyak PEP Rantau Field stabil diangka 1.700 barel per hari.

    Atas keberhasilan itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memberikan penghargaan terhadap Pertamina EP Rantau Field pada Rabu 8 April 2026. Penghargaan ini sebagai apresiasi atas kinerja percepatan pemulihan produksi pascabanjir besar Aceh Tamiang akhir November 2025.

    Diketahui sebelumnya, banjir besar pada akhir tahun lalu dengan ketinggian berkisar 4-4,5 meter dan endapan lumpur 30-80 sentimeter berdampak terhadap fasilitas produksi, perkantoran dan permukiman pekerja.

  2. Menyembunyikan Duka di Balik Ketegaran

    WhatsApp Image 2026-05-21 at 15.12.36 (1).jpeg
    Pekerja Pertamina EP Pangkalan Susu Field sedang melakukan koordinasi di area operasionalnya. (Dok. PEP Pangkalan Susu Field)

    Di balik ketegasan keputusan dan langkah terukurnya di lapangan, Tomi adalah seorang manusia biasa yang menyimpan luka mendalam. Ia sendiri merupakan salah satu korban yang harus mengungsi, meninggalkan kenyamanan rumahnya yang hancur diterjang banjir. Namun, sebagai seorang pimpinan di garda depan, Tomi merasa tidak memiliki ruang untuk meratapi nasibnya sendiri.

    Ada malam-malam hening di posko pengungsian PDSI ketika riuk pikuk kerja mulai mereda. Di sudut remang ruang pengungsian, Tomi kerap terduduk sendirian memandang pekatnya malam. Hatinya teriris setiap kali mendengar cerita dari para ibu dan anak-anak pekerja. Trauma mengintai di setiap sudut kamp pengungsian. Seorang ibu pernah menghampirinya sambil menangis, menceritakan anaknya yang kerap terbangun di tengah malam, melindur dan berteriak ketakutan sembari memohon agar banjir tidak datang lagi.

    Peristiwa itu menjadi pukulan batin yang amat berat bagi Tomi. Kesedihan mendalam menggelayut di dadanya, rasa perih melihat rekan-rekan kerjanya yang kehilangan harta benda, serta anak-anak kecil yang harus menanggung beban trauma psikologis sedemikian hebat.

    Di saat ia harus berdiri tegar memberi instruksi operasional setiap pagi, malam harinya ia harus menelan sendiri kepedihan dan air mata yang disembunyikan dari pandangan anak buahnya. Ia tahu, jika ia terlihat rapuh, harapan ribuan orang yang bergantung pada kebangkitan Rantau akan ikut runtuh.

    Oleh karena itu, di tempat pengungsian, Tomi tidak hanya memastikan ketersediaan logistik teknis, tetapi juga menginstruksikan pembuatan ruang bermain khusus bagi anak-anak. Ia ingin menghadirkan sebersit keceriaan di tengah tumpukan lumpur, memeluk trauma mereka dengan perhatian dan rasa aman sebelum bantuan profesional psikolog didatangkan.

    "Kami ingin membuktikan bahwa Rantau memiliki semangat bangkit yang tinggi. Kami ingin menunjukkan bahwa kami bisa bangkit lebih kuat dan lebih cepat," tegasnya.

    Tomi seakan memangkas kerumitan pekerjaan besar menjadi potongan-potongan fase kecil yang lebih fokus. Ia juga tidak berjalan sendirian. Kerendahan hatinya untuk membuka pintu bantuan menjadi kunci penting. Bantuan teknisi ahli kelistrikan didatangkan dari Lirik dan Prabumulih, sementara pakar mekanikal didatangkan dari Ramba. Semua potensi dan keahlian disatukan dalam satu barisan perjuangan.

    Hasilnya sangat mengejutkan. Hanya dalam kurun waktu kurang lebih empat bulan, tepat di akhir April, prediksi bertahun-tahun itu terpatahkan. Seluruh 95 sumur minyak yang sebelumnya mati total akibat banjir berhasil dihidupkan kembali.

    Menghidupkan kembali sumur minyak yang sempat mati tidaklah semudah menekan sakelar listrik. Di dalam perut bumi, dinamika fluida telah berubah. Banyak sumur yang ketika dihidupkan justru mengeluarkan air terlebih dahulu akibat proses pemisahan alamiah (settling) selama sumur ditutup. Tidak hanya itu, kendala pasir yang mengendap di dalam sumur merusak pompa-pompa artifisial (ESP) saat coba diaktifkan kembali.

    Tomi dan tim teknik merespons tantangan alam ini dengan melahirkan berbagai inovasi teknis. Mereka mengadopsi penggunaan ESP spesifikasi ekstrem yang tahan terhadap gesekan pasir, serta mengaplikasikan berbagai teknologi pemisahan air dan pasir langsung di permukaan. Dari produksi yang sempat merosot hingga 1.500-an barel per hari pada bulan April, kerja keras tanpa kenal lelah berhasil mengembalikan produksi ke angka normal sebesar 1.900 barel per hari pada bulan Mei dan Agustus.

    Kini, perjuangan Tomi telah melangkah ke tahap keberlanjutan (sustainability). Ia tidak ingin Rantau kembali lumpuh jika bencana serupa menerjang di masa depan. Redesain fasilitas produksi dilakukan, sistem penyekatan (sealing) dan insulasi peralatan ditingkatkan agar tahan terendam air tanpa mengalami kerusakan fatal.

    Kisah Tomi dan Pertamina EP Rantau adalah cermin dari ketangguhan manusia di hadapan amukan alam. Di balik keberhasilan teknis merestorasi puluhan sumur minyak dalam waktu singkat, terukir kisah kehangatan seorang pimpinan yang berjuang menyembunyikan duka pribadinya demi menjadi penopang harapan bagi sesama. Rantau kini tidak sekadar bangkit dan berdiri tegak; ia telah tumbuh menjadi jauh lebih tangguh dari sebelumnya.(*

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More