Sekolah Daring di Medan karena Asap, Siswa: Lebih Enak Tatap Muka

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memberlakukan PJJ di Medan pada 16–21 Oktober 2026 untuk PAUD hingga SMA/SMK akibat kabut asap karhutla.
MAN 1 Medan menjalankan pembelajaran daring pukul 07.15–14.15 WIB, melibatkan pemantauan wali kelas dan orang tua; ekstrakurikuler serta pembagian MBG dihentikan sementara.
Siswa menilai PJJ lebih sulit dan kurang efektif dibanding tatap muka, meski menerima belajar dari rumah demi kesehatan serta berharap karhutla segera ditangani agar sekolah normal.
Medan, IDN Times – Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlaku di Kota Medan sejak 16 Oktober 2026 lalu. Meski memahami alasan kesehatan, sejumlah siswa mengaku lebih nyaman belajar tatap muka.
Pemerintah Provinsi Sumatra Utara menetapkan PJJ hingga 21 Oktober 2026 untuk semua jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga SMA/SMK sederajat.
Salah satunya di MAN 1 Medan, kebijakan tersebut langsung diterapkan. Namun, pada hari pertama, ratusan siswa masih masuk sekolah karena informasi baru diterima pagi hari. Pihak madrasah akhirnya memulangkan siswa pada pukul 10.30 WIB.
1. Wali kelas diminta berkoordinasi dengan orang tua agar siswa tetap aktif

Kondisi kabut asap di Kota Medan. (IDN Times/Prayugo Utomo) Wakil Kepala MAN 1 Medan Bidang Akademik, Herry Afandi Limbong, mengatakan pembelajaran daring akan berlangsung mulai pukul 07.15 hingga 14.15 WIB. Wali kelas diminta berkoordinasi dengan orang tua agar siswa tetap aktif.
"Kami sediakan dua tautan, untuk guru yang mengajar dan untuk wali kelas yang memonitor keaktifan. Guru boleh mengajar dari rumah atau dari madrasah," ujarnya.
Seluruh aktivitas madrasah, termasuk ekstrakurikuler dan pembagian makan bergizi gratis (MBG), dihentikan sementara.
2. Siswa keluhkan PJJ

Potret Kota Medan dari kawasan Jalan Kapten Muslim, Kecamatan Helvetia, diselimuti kabut asap, Rabu (14/10/2026). (Mahdiyyah Ardhina for IDN Times) Bagi siswa, PJJ bukan kabar gembira. Keyzhia, 15 tahun, siswi kelas X, mengaku materi lebih sulit dipahami jika tidak bertemu langsung dengan guru.
"Kalau PJJ materinya lebih susah dipahami karena tidak tatap muka langsung dengan guru. Kalau offline bisa jumpa teman, jadi lebih seru offline," katanya.
Khalifatu, 17 tahun, siswi kelas XII yang akan menghadapi rangkaian tes akhir, menilai PJJ kurang efektif. Ia khawatir persiapan tes dan les tambahan terganggu.
"Untuk belajar daring kurang efektif. Tapi melihat kondisi sekarang yang memprihatinkan, lebih baik belajar dari rumah," ujarnya.
Ia mengaku prihatin melihat banyak warga, terutama anak-anak, yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap hingga harus dirawat di rumah sakit.
3. Siswa berharap kembali masuk seklah tatap muka

Sejumlah siswa-siswi mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui daring di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (IDN Times/Bagus F) Para siswa berharap asap segera menghilang dari langit Kota Medan, dan pemerintah bergerak cepat mengatasi karhutla agar sekolah kembali normal.
"Semoga semuanya menjadi lebih baik," kata Khalifatu.
Pantauan IDN Times, Senin (19/10/2026), langit Kota Medan mulai terlihat biru. Matahari juga terlihat terik pada siang tadi, sebelum akhirnya hujan kembali turun.











![[BREAKING] Jalan Amblas Tapsel, Jalur Sipirok-Medan Ditutup Sementara](https://image.idntimes.com/post/20261019/whatsapp-image-2026-10-18-at-23_ade23c8a-625e-4f0f-a8db-6fce832a5076.jpeg)





