Ketua IDAI Sumut Sebut Empat Dampak Fatal Karhutla pada Ibu dan Janin

Ketua UKK Kardiologi IDAI, Rizky Adriansyah, menegaskan kabut asap karhutla merupakan krisis kesehatan publik, bukan sekadar masalah ekologi, ekonomi, jarak pandang, atau penerbangan.
Asap karhutla mengandung PM2,5, PM10, NO2, SO2, dan CO yang mengancam ibu serta janin, termasuk meningkatkan risiko cacat jantung bawaan.
Risiko terbesar terjadi pada minggu ke-3 hingga ke-8 kehamilan; IDAI menyerukan penegakan hukum tegas terhadap pembakar lahan demi melindungi kesehatan generasi mendatang.
Medan, IDN Times - Peringatan keras soal bahaya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disampaikan Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rizky Adriansyah.
Dia menegaskan bahwa kabut asap bukan lagi sekadar isu ekologi atau kerugian kuartalan.
"Kabut asap bukan lagi sekadar isu ekologi atau kerugian kuartalan. Ini adalah KRISIS KESEHATAN PUBLIK tingkat tinggi," katanya, Minggu (18/10/2026).
1. Ada empat dampak fatal karhutla

Seorang wanita yang mengenakan masker wajah mengendarai sepeda menembus kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di Jembatan Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (7/10/2026). (AFP/Reina) Dalam infografis berjudul "Di Balik Kabut Asap Akibat Karhutla, Ada Jantung Janin Yang Tak Bisa Beradaptasi" itu, ia membeberkan empat dampak fatal karhutla, yakni mengancam kesehatan ibu dan janin, meningkatkan risiko jantung bawaan, merusak masa depan generasi kita, serta menghancurkan lingkungan dan kehidupan.
Dia menyebut, selama ini publik hanya fokus pada kerugian ekonomi, jarak pandang, hingga jadwal penerbangan yang kacau. Padahal, ada ancaman sunyi yang jarang dibahas, yaitu cacat jantung bawaan pada bayi dalam kandungan.
"Asap karhutla bukan polusi biasa. Ini adalah sup beracun yang mengandung campuran zat beracun dan partikel halus tingkat tinggi, seperti PM2,5, PM10, NO2, SO2, dan CO," jelasnya.
2. Fase paling berbahaya adalah trimester pertama kehamilan

Kabut Asap Besar London (commons.m.wikimedia.org/NT Stobbs) Menurutnya, fase paling berbahaya adalah trimester pertama kehamilan, tepatnya minggu ke-3 hingga ke-8, saat jantung janin mulai terbentuk dari nol. Saat ibu hamil menghirup asap, partikel halus masuk ke paru-paru, menembus aliran darah, memicu peradangan hebat, dan memotong suplai oksigen ke plasenta.
Kondisi itu mengganggu sinyal genetik pembentukan organ jantung janin, sehingga bayi berisiko terlahir dengan sekat jantung bocor atau kelainan struktur pembuluh darah.
Rizky pun menyerukan agar pemerintah berhenti berkompromi dengan pembakar lahan.
3. Janin 100 persen bergantung pada udara yang dihirup ibunya

Kabut asap semakin tebal akibat karhutla. (IDN Times/istimewa). Janin di dalam rahim, kata dia, adalah korban yang paling tidak berdaya karena tidak bisa memilih memakai masker N95 atau berlindung di kamar ber-air purifier. Mereka 100 persen bergantung pada udara yang dihirup ibunya.
"STOP BERKOMPROMI DENGAN EGO PEMBAKAR LAHAN DEMI MENYELAMATKAN DETAK JANTUNG GENERASI MASA DEPAN KITA," tegasnya dalam infografis tersebut.
"Membiarkan karhutla terus berulang setiap tahun tanpa penegakan hukum yang tegas sama saja dengan merampas hak paling mendasar seorang anak: hak untuk lahir dengan jantung yang sehat," pungkasnya.


















