Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inovasi USAT, Modal Hemat Untung Berlipat

Kota Medan
7 min read
Inovasi USAT, Modal Hemat Untung Berlipat
Inovasi USAT Pertamina EP Rantau Field (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • PEP Rantau Field mengembangkan Ultimate Sand Trap (USAT) untuk menahan pasir pada sumur berpompa ESP, mengatasi kepasiran yang menyumbang sekitar 65 persen kendala operasional.
  • USAT dibuat mandiri seharga sekitar Rp2,7 juta per unit; pada tiga sumur uji, inovasi ini menekan LPO P-420 dari 23 persen menjadi 4 persen.
  • Penerapan Januari 2024–September 2025 memperpanjang usia pompa dari 120 menjadi 462 hari, menciptakan nilai Rp30,3 miliar, serta meraih penghargaan Platinum UIIA 2025.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

ACEH TAMIANG, IDN Times - Ketika sebagian besar orang memilih menikmati ketenangan akhir pekan bersama keluarga, langkah kaki Andi Surianto Sinurat berderap tegas menuju area operasional PT Pertamina EP (PEP) Rantau Field, 25 Oktober 2025. Dengan binar semangat yang membakar rasa lelahnya pada Sabtu sore itu, Andi rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk menemui jurnalis IDN Times.

Ia antusias memaparkan kelahiran Ultimate Sand Trap (USAT). Ibarat mahakarya perangkap pasir berbiaya hemat yang kini berhasil memaksa ancaman kepasiran berlutut dan bertekuk lutut di Rantau Field, Kabupaten Aceh Tamiang.

Sejak beberapa bulan terakhir, benak Petroleum Engineer ini begitu terusik dan tak bisa berhenti memikirkan cara membebaskan sumur-sumur minyak tua yang tengah merintih kedinginan akibat cengkeraman lumpur dan pasir tajam di kedalaman perut bumi.

Masalah kepasiran tercatat menjadi benalu utama operasional Rantau Field dengan menyumbang sekitar 65 persen dari seluruh kendala pengeboran. Pasir yang terikut dalam aliran fluida sering kali melahap keandalan pompa Electric Submersible Pump (ESP) dan memicu hentian produksi atau Loss Production Opportunity (LPO).

"USAT fokus pada penyelesaian masalah kepasiran yang mengakibatkan LPO produksi minyak dan gas di PEP Rantau, dengan fokus utama pada sumur dengan Artificial Lift ESP. Fungsi utamanya menahan pasir yang mengalami fallback agar tidak jatuh atau merusak pompa," terang Andi sambil membenarkan letak kacamatanya.

Ia sadar, waktu dan usia mulai menggerogoti keandalan sumur-sumur migas matang di Rantau Field. Namun ia dan tim perwira PT Pertamina EP menolak untuk menyerah pada keadaan. Dahaga pasir di dalam sumur yang selama ini melumpuhkan pompa pengeboran dan mencuri potensi produksi minyak bumi, kini berhasil diredam oleh alat penyelamat bernama USAT.

Inovasi perangkap pasir yang dibidani langsung oleh Andi Sunirat ini tak sekadar melumpuhkan hambatan teknis yang menghantuinya selama bertahun-tahun, tetapi juga berhasil menyelamatkan nilai produksi hingga puluhan miliar rupiah.

Melalui sentuhan inovasi USAT, ancaman pasir yang menjadi hantu bagi efisiensi produksi migas berhasil diredam. Alat sederhana namun berdaya guna tinggi ini terbukti mampu memulihkan keandalan operasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi Pertamina EP Rantau.

  1. Menjawab Tantangan Sumur Mature

    ARFL9266.JPG
    Petroleum Engineer, Andi Surianto Sinurat memaparkan Inovasi USAT yang diterapkan oleh Pertamina EP Rantau, Sabtu (25/10/2025). (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

    Masalah kepasiran bukan persoalan sepele bagi unit operasi PT Pertamina EP (PEP) Rantau Field, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang mengelola wilayah kerja hulu migas di bawah Subholding Upstream. Dari total 87 sumur aktif yang dikelola PEP Rantau Field, sebanyak 29 sumur mengandalkan sistem pengangkatan buatan atau Artificial Lift berjenis pompa ESP.

    Data internal menunjukkan bahwa gangguan kepasiran menyumbang angka fantastis sebagai penyebab utama hambatan produksi, yakni mencapai sekitar 65 persen dari total kendala operasional yang ada. Pasir yang terangkut bersama fluida menyebabkan kerusakan komponen berputar pada pompa. Efek dominonya adalah tingginya LPO, sebuah kondisi hilangnya potensi produksi akibat sumur yang harus mendadak mati (off) untuk penanganan perbaikan.

    Andi menjelaskan bahwa karakteristik lapangan tua yang mature membutuhkan terobosan yang cermat dan adaptif.

    "Permasalahan kepasiran ini dampaknya sangat signifikan. Saat pasir masuk ke komponen sensitif pompa, alat akan macet, lalu produksi terhenti. Dari situlah tim Petroleum Engineering dan Well Service berkolaborasi mencari formula teknis yang paling efisien," ujarnya.

    Sebelum merilis USAT, tim teknis PEP Rantau Field sejatinya telah memperkenalkan metode pengeboran dan penanganan pasir berjuluk 'We Are Fines' pada tahun 2023. Metode tersebut terbukti ampuh dan diterapkan di seluruh sumur produksi. Namun, guna menyempurnakan proteksi mekanis pada sumur berpompa ESP, lahirlah inovasi pelengkap bernama USAT pada awal 2024. +---------------+

  2. Mekanisme Sederhana berefek Raksasa

    ARFL9196.JPG
    Inovasi USAT Pertamina EP Rantau Field (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

    Prinsip kerja alat USAT bertumpu pada hukum fisika fluida dan pemisahan gravitasi. Dipasang tepat di rangkaian pipa produksi (tubing) pada sistem pompa ESP, USAT bertindak sebagai jebakan pasir interaktif.

    Saat fluida yang bercampur pasir tersedot dan terdorong naik melewati lubang perporasi (perforated hole) pada aksesoris USAT, pola aliran fluida secara otomatis berubah menjadi turbulen. Perubahan dinamika fluida ini memicu pemisahan massa: butiran pasir yang memiliki berat jenis lebih padat terpisah dari aliran utama minyak mentah.

    Pasir tersebut kemudian jatuh dan terperangkap di celah antara celah luar USAT dan pipa tubing, menghambat fenomena fallback atau guguran pasir kembali ke dalam rongga pompa.

    "USAT menahan pasir agar tidak sampai masuk ke dalam jantung pompa. Dengan begitu, fluida bersih dari pasir dapat terdorong lancar menuju rangkaian pipa produksi di permukaan," terang Andi.

    Menariknya, perangkat ini juga dilengkapi keunggulan fleksibilitas operasional. Jika terjadi penyumbatan sementara, sistem dapat melakukan pendorongan balik aliran (reverse circulating) untuk membersihkan hambatan tanpa perlu mencabut seluruh rangkaian pipa dari dalam sumur. Selain itu, USAT juga dapat berfungsi sebagai katup penahan balik (check valve) alternatif.

  3. Biaya Minimum, Hasil Maksimum

    WhatsApp Image 2026-08-16 at 13.04.00 (1).jpeg
    Perwira PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) saat melaksanakan aktivitas dalam mendukung ketahanan energi di Zona Rokan. (Dok. PHR)

    Satu hal yang paling menyita perhatian dari inovasi ini adalah efisiensi biayanya yang sangat ekstrem. Inovasi ini tidak dirancang melalui pembelian perangkat mahal impor, melainkan difabrikasi secara mandiri oleh para pekerja lokal di bengkel kerja (workshop) PEP Rantau Field.

    Material yang dibutuhkan pun relatif sederhana dan mudah didapatkan, seperti kawat khusus, tubing, tubing coupling, serta mata bor. Proses perakitan satu unit alat USAT hanya memakan waktu sekitar tiga hari kerja.

    "Biaya pembuatan USAT sangat hemat, tidak sampai Rp 3 juta tepatnya hanya sekitar Rp 2,7 juta per unit, yang mencakup biaya material dan tenaga kerja (manpower)," katanya.

    Meskipun bermodal biaya produksi seharga peranti elektronik kelas menengah, dampak finansial dan operasional yang dihasilkan justru berlipat ganda. Terhitung sejak diterapkan secara bertahap pada periode Januari 2024 hingga September 2025 di tiga sumur percontohan yakni Sumur P-420, P-383, dan P-406, alat ini sukses mengubah peta efisiensi lapangan.

    Sebelum USAT dipasang, tingkat LPO pada Sumur P-420 menyentuh angka 23 persen. Setelah pemasangan, angka kehilangan potensi produksi tersebut merosot tajam menjadi hanya 4 persen. Rentang usia operasional (lifetime) pompa dan pipa pengeboran pun melonjak signifikan dari yang semula rata-rata hanya bertahan 120 hari, kini menembus angka 462 hari dan masih terus beroperasi secara optimal.

    Penurunan frekuensi kerusakan sumur berbanding lurus dengan penghematan anggaran perawatan. Biaya operasi rig penanganan sumur yang sebelumnya menelan dana Rp 1,65 miliar per tahun, berhasil ditekan hingga tinggal Rp 411 juta per tahun alias menghemat pengeluaran operasional sebesar lebih dari 50 persen.

    Secara keseluruhan, akumulasi efisiensi biaya rig, penyelamatan kehilangan produksi minyak, serta penambahan pendapatan dari optimalisasi tiga sumur tersebut menghasilkan penciptaan nilai (value creation) yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp 30,3 miliar.

  4. Komitmen Keselamatan Kerja yang Utama

    WhatsApp Image 2026-08-16 at 13.04.00.jpeg
    Perwira PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) saat melaksanakan aktivitas dalam mendukung ketahanan energi di Zona Rokan. (Dok. PHR)

    Selain berdampak besar pada profitabilitas perusahaan, keberhasilan inovasi ini memegang teguh standar keselamatan kerja yang ketat. Sepanjang proses fabrikasi di bengkel hingga implementasi di lapangan terbuka, proyek perbaikan ini mencatatkan nihil kecelakaan kerja (zero incident), atau meraih pencapaian Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) Excellence sebesar 100 persen.

    Atas capaian beruntun tersebut, tim perancang yang tergabung dalam PC Prove Alumni Pasir dari Pertamina EP Rantau dianugerahi penghargaan predikat Platinum dalam ajang Upstream Improvement & Innovation Award (UIIA) 2025 yang digelar oleh Subholding Upstream Pertamina. Forum tahunan ini menjadi wadah adu gagasan terbaik yang diikuti oleh 108 delegasi inovator dari seluruh lini usaha hulu migas nasional.

    Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengungkapkan rasa bangganya atas dedikasi dan kreativitas internal para perwira Pertamina di lapangan. Inovasi USAT, menurut dia, merupakan wujud nyata adaptasi teknologi tepat guna dalam menjaga ketahanan energi nasional dari lapangan-lapangan tua.

    “Inovasi USAT lahir murni dari buah pikir perwira internal kami di lintas fungsi Petroleum Engineering dan Well Service. Langkah ini adalah komitmen nyata kami untuk terus mempertahankan dan meningkatkan keandalan produksi minyak demi mendukung target produksi migas nasional yang ditetapkan pemerintah,” tutur Tomi.

    Tomi menambahkan, kesuksesan uji coba pada tiga sumur utama ini menjadi pijakan optimistis bagi manajemen untuk memperluas penerapan USAT ke sumur-sumur berbasis pompa ESP lainnya pada tahun-tahun mendatang. Dengan penanganan masalah kepasiran yang makin terintegrasi, sumur-sumur tua di Rantau terbukti masih mampu memberikan kontribusi secara efisien, ekonomis, dan berkelanjutan.(*)

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More