“Sejak tanggal 18 Oktober kemarin sudah tidak terdeteksi,” kata Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Nofrida Handayani, saat dikonfirmasi IDN Times, Senin (19/10/2026).
BMKG Sebut Asap Karhutla Tak Terdeteksi Lagi di Aceh, Udara Membaik

- BMKG menyatakan asap karhutla tidak lagi terdeteksi di langit Aceh sejak 18 Oktober 2026, berdasarkan pemantauan citra sebaran asap terbaru.
- Kualitas udara Aceh pada 19 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB berada dalam kategori baik, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 7,1 µg/m³.
- Potensi hujan tinggi membantu mengurangi partikel di udara, sementara asap karhutla masih terpantau di sejumlah provinsi Sumatera dan meluas menuju Malaysia serta Singapura.
BANDA ACEH, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak lagi terdeteksi di langit Aceh sejak 18 Oktober 2026. Kondisi ini didukung tingginya potensi hujan di sejumlah wilayah Tanah Rencong dalam beberapa hari terakhir.
1. Sebaran asap hari ini, tak ada wilayah Aceh

Sebaran asap di wilayah Sumatera. (Dokumentasi BMKG untuk IDN Times) Berdasarkan analisis citra sebaran di wilayah Sumatera pada 19 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB, kata Nofrida, asap masih terdeteksi di sejumlah provinsi, meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.
Sebaran asap di wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga utara. Pantauan juga mendeteksi asap lintas batas atau transboundary haze yang membentang dari Sumatera menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura.
Pergerakan asap dipengaruhi angin yang secara umum bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara, dengan kecepatan berkisar 5–20 knot.
Meski demikian, berdasarkan pantauan terbaru yang disampaikan BMKG, citra sebaran asap di wilayah Aceh tidak terdeteksi. Hasil pemantauan konsentrasi partikulat halus PM2.5 juga menunjukkan kualitas udara berada dalam kategori baik.
2. Kualitas udara Aceh terpantau baik

Kualitas udara yang dikeluarkan BMKG. (Dokumentasi BMKG untuk IDN Times) Data pemantauan kualitas udara hingga pukul 18.00 WIB pada 19 Oktober 2026 menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada di angka 7,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³), yang masuk kategori baik.
Sepanjang hari, kualitas udara didominasi kategori baik dengan konsentrasi sekitar 7–14 µg/m³. Peningkatan ke kategori sedang sempat tercatat pada pukul 01.00 WIB dengan konsentrasi sekitar 19 µg/m³, serta pada pukul 12.00–14.00 WIB dengan kisaran 17–17,5 µg/m³.
Hingga pukul 18.00 WIB, tidak ditemukan catatan kualitas udara dalam kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, maupun berbahaya.
Pengukuran konsentrasi partikulat tersebut menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring (BAM), dengan satuan mikrogram per meter kubik.
3. Potensi hujan dukung perbaikan kondisi

(Tangkap layar situs Windy.com terkait indeks kualitas udara di Aceh melalui satelit. (IDN Times/Muhammad Saifullah) Tingginya potensi hujan di Aceh dalam beberapa hari terakhir turut mendukung membaiknya kondisi sebaran asap. Hujan dapat membantu mengurangi partikel yang melayang di udara melalui proses pencucian atmosfer atau wet deposition.
Meski sebaran asap tidak terdeteksi di Aceh dan kualitas udara terpantau baik, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi cuaca serta pemantauan kualitas udara terbaru, mengingat asap karhutla masih terdeteksi di sejumlah wilayah lain di Sumatera.

















![[BREAKING] Jalan Amblas Tapsel, Jalur Sipirok-Medan Ditutup Sementara](https://image.idntimes.com/post/20261019/whatsapp-image-2026-10-18-at-23_ade23c8a-625e-4f0f-a8db-6fce832a5076.jpeg)