BNPT: 746 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan, 300 Terpapar Terorisme

BNPT mencatat sekitar 746 anak di 26 provinsi terpapar ideologi kekerasan pada 2026, dengan sekitar 300 anak terindikasi terkait jaringan terorisme.
Internet, media sosial, video pendek, dan grup percakapan disebut menjadi saluran penyebaran paham kekerasan kepada anak.
Guru diminta mengawasi perubahan perilaku siswa, memperkuat literasi digital, serta membangun lingkungan belajar yang damai dan menghargai perbedaan.
Medan, IDN Times — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan sekitar 746 anak di 26 provinsi terpapar ideologi kekerasan pada 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 anak terindikasi telah terpapar jaringan terorisme berdasarkan data Densus 88 Antiteror Polri yang disampaikan BNPT.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT, Irjen Wawan Ridwan, mengatakan internet dan media sosial menjadi salah satu saluran penyebaran paham ekstremisme berbasis kekerasan.
Karena itu, ia meminta guru ikut mengawasi dan membentengi siswa dari pengaruh paham tersebut, termasuk melalui pendekatan literasi digital dan penguatan karakter.
1. Ratusan anak terindikasi terpapar jaringan terorisme

Ilustrasi terorisme. IDN Times/Sukma Shakti Wawan menyampaikan data tersebut saat menghadiri kegiatan literasi digital berbasis moderasi untuk memperkuat peran guru dalam menangkal kekerasan pada siswa di Kota Medan, Selasa (20/10/2026). Menurutnya, paparan ideologi kekerasan tidak selalu terjadi melalui pertemuan langsung dengan jaringan terorisme, tetapi juga bisa melalui konten yang beredar di internet.
“Dari setiap itu, ada 300-an yang benar-benar terpapar oleh jaringan (terorisme) bayangkan, seolah-olah kita tidak ada masalah. Makanya saya katakan ini merupakan tugas berat bapak-Ibu sekalian, kita semua maksudnya para guru sekalian yang hadir pada saat ini,” ujar Wawan.
Ia mengatakan penelitian BNPT di Sumatra Utara menunjukkan internet dan media sosial termasuk saluran penyebaran ekstremisme berbasis kekerasan. Tingginya keterpaparan, menurut Wawan, berkaitan dengan rendahnya literasi digital.
2. Paham kekerasan bisa menyebar lewat gawai

Ilustrasi kekerasan. (IDN Times/Arief Rahmat) Wawan menjelaskan, pesan-pesan yang memuat paham kekerasan dapat disisipkan melalui media sosial, video pendek, hingga grup percakapan. Anak-anak yang tidak terhubung langsung dengan jaringan terorisme pun dapat terpengaruh oleh narasi kekerasan yang ditemukan di ruang digital.
Ia mencontohkan sejumlah kasus yang disebutnya berkaitan dengan kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk kasus bom rakitan yang melibatkan siswa SMA 72 Jakarta dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Padang.
“Walaupun sebagian tidak terpapar langsung oleh jaringan terorisme atau pelaku terorisme tetapi mereka sudah terpapar paham ideologi kekerasan, mereka mengambil bagaimana (nilai-nilai) kekerasan-kekerasan yang dihasilkan oleh di dunia luar,” katanya.
Menurut Wawan, anak yang merasa tidak didengar, tidak diterima dalam lingkungan sosial, atau kehilangan pegangan berpotensi menjadi sasaran pesan yang menawarkan rasa memiliki. Karena itu, guru perlu memahami perubahan perilaku siswa dan membangun hubungan yang membuat mereka nyaman untuk bercerita.
3. Guru diminta menjadi tempat siswa bercerita

ilustrasi guru dan siswa (pexels.com/ROMAN ODINTSOV) Wawan mengingatkan bahwa peran guru tidak berhenti pada kegiatan mengajar di kelas. Guru juga diharapkan membentuk karakter, menanamkan nilai kebangsaan, menjadi teladan, serta menciptakan lingkungan belajar yang menghargai perbedaan.
“Artinya bahwa anak-anak lebih banyak meniru daripada mendengar, cara kita menyikapi perbedaan cara kita bermedia sosial dan cara kita mencari informasi akan menjadikan pelajaran yang paling membekas,” ujarnya.
Ia meminta guru menjadi pendengar yang baik ketika siswa mengalami masalah atau menunjukkan perubahan perilaku. Menurutnya, siswa yang mulai menarik diri, memusuhi teman, atau menyimpan persoalan tanpa bercerita perlu mendapat perhatian dari lingkungan sekolah.
“Banyak dari awal keretakan muncul dalam bentuk sederhana yaitu anak yang menarik diri mulai memusuhi temannya atau menyimpan sesuatu yang tidak ia ceritakan, guru yang dekat dan dipercaya adalah benteng pertama yang paling efektif menangkal (ideologi kekerasan),” kata Wawan.
Selain membangun kedekatan dengan siswa, guru juga diminta menyebarkan pesan positif tanpa menghakimi atau memprovokasi. Wawan menilai nilai perdamaian, toleransi, dan kemerdekaan dapat menjadi narasi tandingan untuk menghadapi pesan kebencian yang beredar di ruang digital.
“Guru mestinya mengajak dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia siswa, nilai damai, toleransi dan kemerdekaan adalah bahan terbaik untuk narasi tandingan terhadap narasi-narasi kebencian,” tutupnya.





















