Sapi Warga Diduga Diterkam Harimau di Humbahas

- BBKSDA Sumut dan COP memantau satwa liar yang diduga Harimau Sumatera di Desa Tukka, Humbahas.
- Jejak berukuran sekitar 13 sentimeter teridentifikasi sebagai famili Felidae, sementara dugaan jenis satwa masih perlu diverifikasi.
- Warga diminta mengamankan ternak, tidak mendekati satwa liar, serta melapor kepada aparat atau petugas BBKSDA Sumut.
Humbanghasundutan, IDN Times – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara bersama Center for Orangutan Protection (COP) memasang kamera jebak untuk memantau satwa liar yang diduga Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Tukka, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).
Penanganan dilakukan pada 5–6 September 2026 setelah BBKSDA Sumut menerima laporan adanya ternak warga yang diserang satwa liar. Jejak kaki satwa teridentifikasi sebagai famili Felidae atau kucing besar. Jejaknya berukuran sekitar 13 sentimeter ditemukan di sekitar lokasi.
1. Sapi warga ditemukan mati, ada jejak diduga harimau

Tim gabungan memasang kamera jebak untuk memantau pergerakan diduga harimau sumatra yang menerkam ternak warga di Kabupaten Humbahas. (Dok: BBKSDA Sumut) Laporan mengenai ternak warga diterima BBKSDA Sumut dari Camat Pakkat dan Kepala Desa Ambobi pada 4 September 2026. Sehari kemudian, tim dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV bersama COP menuju Desa Tukka Dolok untuk memeriksa lokasi.
Berdasarkan keterangan masyarakat, bangkai seekor anak sapi pertama kali ditemukan pada Kamis (3/9/2026). Lokasinya berada di ladang warga sekitar 3 kilometer dari Kantor Desa Tukka Dolok.
Area tersebut berupa hamparan rerumputan sekitar 100 x 100 meter yang masuk Areal Penggunaan Lain (APL). Lokasi juga berjarak sekitar 300 meter dari kawasan Hutan Lindung Sibauminyak.
“Berdasarkan karateristik jejak dan kondisi habitat di sekitar lokasi, tim menduga satwa tersebut merupakan Harimau Sumatera. Namun dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemantauan kamera trap dan data lapangan lainnya,” ujar Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Sumut Andar Abdi Saragih dalam keterangan pers, Kamis (10/9/2026).
2. Dua camera trap dipasang untuk memantau keberadaan satwa

Tim gabungan memasang kamera jebak untuk memantau pergerakan diduga harimau sumatra yang menerkam ternak warga di Kabupaten Humbahas. (Dok: BBKSDA Sumut) Tim menemukan bangkai sapi sekitar 127 meter dari titik yang diduga menjadi lokasi penerkaman. Jejak kaki serupa juga ditemukan dalam radius sekitar 20 meter dari bangkai.
Untuk memastikan keberadaan dan pergerakan satwa, tim kemudian memasang dua unit kamera jebak. Satu kamera ditempatkan di sekitar bangkai sapi, sedangkan kamera lainnya dipasang di jalur yang diduga menjadi lintasan satwa.
Tim juga menggunakan drone untuk memetakan tutupan lahan dan mencari jalur yang berpotensi menjadi perlintasan satwa liar.
Pada 6 September 2026, kamera pertama merekam aktivitas anjing yang memakan bangkai sapi. Sementara kamera kedua belum merekam keberadaan satwa liar.
“Kamera kedua kemudian dipindahkan ke lokasi yang dinilai lebih strategis. Pemantauan dengan kamera jebak akan dilanjutkan selama tujuh hari ke depan,” ujarnya.
3. Warga diminta amankan ternak dan tidak memburu satwa

Tim gabungan memasang kamera jebak untuk memantau pergerakan diduga harimau sumatra yang menerkam ternak warga di Kabupaten Humbahas. (Dok: BBKSDA Sumut) BBKSDA Sumut bersama COP tidak hanya memasang kamera jebak, tetapi juga melakukan mitigasi bersama pemerintah desa dan kecamatan. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan karena lokasi penggembalaan ternak berbatasan dengan kawasan hutan lindung yang menjadi habitat alami satwa liar.
Pemerintah Desa Tukka juga diminta kembali mengingatkan masyarakat mengenai potensi interaksi negatif. Pasalnya, di lokasi yang sama disebut pernah terjadi interaksi negatif dengan satwa liar sekitar satu bulan sebelumnya.
Warga diminta membawa ternak kembali ke sekitar permukiman pada sore hari dan tidak meninggalkannya terlalu lama di lokasi yang berdekatan dengan kawasan hutan.
Selain itu, masyarakat diingatkan tidak melakukan perburuan atau tindakan yang dapat membahayakan satwa liar.
BBKSDA Sumut meminta warga tetap tenang dan tidak mendekati atau melakukan tindakan langsung terhadap satwa liar apabila menemukannya. Informasi mengenai keberadaan satwa diminta segera dilaporkan kepada aparat pemerintah setempat atau petugas BBKSDA Sumut untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur.
“Penanganan sementara masih berfokus pada memastikan apakah satwa yang meninggalkan jejak tersebut benar merupakan Harimau Sumatera. Bukti dari kamera jebak dan pemantauan lapangan akan menjadi bagian penting dalam memastikan dugaan tersebut,” pungkasnya.










![[BREAKING] Kecelakaan Beruntun di Sibolangit, 4 Rumah dan SD Rusak](https://image.idntimes.com/post/20260910/whatsapp-image-2026-09-10-at-09_27a453e4-c884-4064-945a-206b27ab0491.jpeg)







