Diego saat diberi infus dan obat-obatan setelah kondisi fisiknya menurun (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)
Ujang menyebut, Diego terlihat sakit pertama kali pada 10 September 2026. Saat itu, Diego mengalami penurunan kondisi kesehatan dengan kotoran mencret dan nafsu makan berkurang.
"Tim medis BBKSDA Riau saat itu langsung melakukan pemeriksaan. Dalam diagnosa awal, Diego mengalami cacingan, karena ditemukan beberapa cacing dalam kotoran yang dikeluarkan. selanjutnya tim medis memberi obat antibiotik, antiradang antiinflamasi dan pemberian obat cacing," sebut Ujang.
Dilanjutkannya, setelah beberapa hari pengobatan secara intensif oleh tim medis BBKSDA Provinsi Riau, Diego terlihat mulai meningkat nafsu makannya. Selain itu, kotoran Diego juga sudah berbentuk. Meskipun begitu, tim medis BBKSDA Provinsi Riau terus memantau dan memberi pengobatan hingga Diego membaik.
"Selanjutnya dilakukan pemeriksaan feses di Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru. Hasilnya dinyatakan negatif dari cacing," lanjut Ujang.
Pada Selasa (15/9/2026), Diego kembali dilaporkan oleh mahoutnya dalam kondisi sakit. Adapun gejalanya, tidak mau makan, diare, fisik lemah dan aktivitas minum yang minim.
"Tim medis BBKSDA Riau kembali melakukan pengobatan dengan pemberian cairan infus, obat-obatan supportif (vitamin) dan antiradang serta antiinflamasi. Kemudian dilakukan pengambilan sampel berupa feses untuk dilakukan pemeriksaan parasit," terang Ujang.
Pada Rabu (16/9/2026), tim medis BBKSDA Provinsi Riau kembali melakukan pengobatan lanjutan terhadap Diego. Saat tim medis hendak melakukan treatment dengan pengambilan sampel darah dan pemberian cairan infus serta obat-obatan lain, Diego tiba-tiba terduduk dan tumbang.
"Tak lama berselang tanda - tanda vital hilang dan Diego dinyatakan dalam kondisi mati," ujar Ujang.