Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sakit Infeksi Saluran Pencernaan, Gajah Jinak di PLG Minas Riau Mati
Diego, Gajah Sumatra binaan PLG Minas Riau dinyatakan mati setelah berjuang melawan penyakitnya (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)

Pekanbaru, IDN Times - Kabar duka kembali menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Seekor Gajah Sumatra mati lagi di Provinsi Riau. Gajah yang dimaksud bernama Diego, merupakan binaan atau jinak di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Gajah jantan itu tutup usia diumur 17 tahun setelah tim dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau berjuang secara intensif memberikan perawatan medis selama beberapa hari. Demikian dikatakan Plh Kepala BBKSDA Provinsi Riau Ujang Holisudin, Kamis (17/9/2026).

"Benar, gajah Diego telah mati. Dia merupakan gajah binaan PLG Minas, gajah jinak," kata Ujang.

1. Tiba-tiba terduduk dan tumbang, tanda vital hilang dan dinyatakan mati

Diego saat diberi infus dan obat-obatan setelah kondisi fisiknya menurun (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)

Ujang menyebut, Diego terlihat sakit pertama kali pada 10 September 2026. Saat itu, Diego mengalami penurunan kondisi kesehatan dengan kotoran mencret dan nafsu makan berkurang.

"Tim medis BBKSDA Riau saat itu langsung melakukan pemeriksaan. Dalam diagnosa awal, Diego mengalami cacingan, karena ditemukan beberapa cacing dalam kotoran yang dikeluarkan. selanjutnya tim medis memberi obat antibiotik, antiradang antiinflamasi dan pemberian obat cacing," sebut Ujang. 

Dilanjutkannya, setelah beberapa hari pengobatan secara intensif oleh tim medis BBKSDA Provinsi Riau, Diego terlihat mulai meningkat nafsu makannya. Selain itu, kotoran Diego juga sudah berbentuk. Meskipun begitu, tim medis BBKSDA Provinsi Riau terus memantau dan memberi pengobatan hingga Diego membaik. 

"Selanjutnya dilakukan pemeriksaan feses di Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru. Hasilnya dinyatakan negatif dari cacing," lanjut Ujang.

Pada Selasa (15/9/2026), Diego kembali dilaporkan oleh mahoutnya dalam kondisi sakit. Adapun gejalanya, tidak mau makan, diare, fisik lemah dan aktivitas minum yang minim.

"Tim medis BBKSDA Riau kembali melakukan pengobatan dengan pemberian cairan infus, obat-obatan supportif (vitamin) dan antiradang serta antiinflamasi. Kemudian dilakukan pengambilan sampel berupa feses untuk dilakukan pemeriksaan parasit," terang Ujang.

Pada Rabu (16/9/2026), tim medis BBKSDA Provinsi Riau kembali melakukan pengobatan lanjutan terhadap Diego. Saat tim medis hendak melakukan treatment dengan pengambilan sampel darah dan pemberian cairan infus serta obat-obatan lain, Diego tiba-tiba terduduk dan tumbang.

"Tak lama berselang tanda - tanda vital hilang dan Diego dinyatakan dalam kondisi mati," ujar Ujang.

2. Lakukan nekropsi, diduga infeksi saluran pencernaan kronis

Diego saat hendak dilakukan nekropsi setelah dinyatakan mati (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)

Dijelaskan Ujang, setelah Diego dinyatakan mati, tim medis BBKSDA Provinsi Riau melakukan nekropsi atau bedah bangkai.

"Berdasarkan hasil nekropsi, penyebab kematian Diego diduga akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis. Selanjutnya tim medis juga mengambil 

sampel organ utuk dilakukan pemeriksaan laboratoris guna peneguhan diagniosa," jelasnya.

Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan, gajah Diego kemudian dikubur sesuai prosedur yang berlaku.

3. Ini peran Diego di PLG Minas

Potret petugas memandikan gajah di PLG Minas (instagram.com/erfan_ssetiawan)

Diego diketahui merupakan gajah jantan jinak yang lahir pada 3 September 2009. Dia dibesarkan di PLG Minas dari induk betina gajah Vera dan induk jantan Reno.

Diego merupakan salah satu gajah binaan yang selama ini berperan dalam menyambut para pengunjung di PLG Minas.

Editorial Team

Related Article