Selasa Diskusi digelar dengan pembagian pembalut dan diskusi (IDN Times/Indah Permata Sari)
Sementara itu, peserta aksi dari kalangan anak muda, Akim, mengatakan aksi tersebut berangkat dari keresahan karena pembalut sebagai kebutuhan biologis berulang justru dipajaki.
"Ada beban ekonomi kalau misalnya itu dipajaki dan itu terus berulang di dalam siklus teman-teman yang mengalami menstruasi," kata Akim.
Akim yang sebelumnya terlibat dalam Aksi Kamisan Medan mengaku ikut terlibat karena kesadaran sebagai laki-laki yang memiliki ibu, kakak, dan teman perempuan untuk ikut bersuara.
"Pesan aku, pemerintah harus lebih jeli lagi melihat kebutuhan masyarakat, terutama kelompok perempuan atau kelompok yang mengalami menstruasi," ujarnya.
Dia juga mengajak masyarakat, khususnya laki-laki, untuk menghilangkan stigma tabu terkait menstruasi dan menghindari istilah yang merendahkan.
"Gunakan bahasa yang lebih biasa, supaya stigmanya hilang dan bisa didekonstruksi lagi nilai-nilainya, supaya kebijakan yang dibuat memang berdasarkan pengalaman teman-teman perempuan terkait hak sanitasi, terutama pembalut," kata Akim.
Pembalut yang dibagikan merupakan hasil donasi kolektif masyarakat. Selain uang, panitia juga menerima donasi pembalut yang masih layak dan belum digunakan. Jumlah penerima menyesuaikan donasi yang terkumpul berdasarkan pemetaan panitia.
Lapangan Merdeka dipilih sebagai ruang publik agar isu tersebut dapat diketahui dan diikuti lebih banyak masyarakat. Kegiatan terbuka untuk umum tanpa pembatasan jumlah peserta.