Aksi Kamisan Medan 111, MEILAWAN: Seni Jadi Medium Merawat Ingatan

- Aksi Kamisan Medan ke-111 mengusung tema 'Meilawan' dengan memadukan seni musik, mural, dan monolog sebagai medium kritik sosial serta cara menarik partisipasi generasi muda.
- Dalam refleksinya, Deryl menyoroti maraknya pembungkaman terhadap kelompok kritis, kriminalisasi aktivis, dan minimnya partisipasi publik dalam perjuangan sosial seperti peringatan Hari Buruh.
- Aksi Kamisan ditegaskan akan terus berlangsung sebagai simbol konsistensi memperjuangkan hak warga dan kebebasan berpendapat di tengah kemunduran reformasi serta meningkatnya represi terhadap suara kritis.
Medan, IDN Times - Cloud No 3 menjadi penutup rangkaian Aksi Kamisan Medan ke 111, di Titik Nol Kota Medan, pada 21 Mei 2026 lalu. Massa seakan tidak habis energi. Tetap moshing saat distorsi gitar mulai berteriak lewat pengeras suara. Sebelumnya, ada beberapa penampil lainnya yang tidak kalah seru.
Aksi Kamisan kali ini jauh berbeda dengan biasa. Komunitas yang berdiri karena keresahan dengan kondisi negeri ini, mengemas kritik lewat berbagai seni.
Meilawan dipilih sebagai kata yang melekat pada Aksi Kamisan itu. Karena bagi massa, ada begitu banyak risalah tentang bagaimana perlawanan masyarakat terjadi di Mei.
Ada begitu banyak peristiwa pada Mei di beberapa belahan dunia. Sebut saja peristiwa Haymarket di Amerika Serikat pada awal Mei 1886 yang menjadi cikal bakal Hari Buruh Internasional. Kemudian ada peristiwa pengusiran rakyat Palestina dalam peristiwa Nakba pada 15 Mei 1948, perjuangan kelompok pro-demokrasi di Guangzhou pada 18 Mei 1980 dan peristiwa lainnya.
Di Indonesia sendiri, Mei juga meninggalkan jejak sejarah. Misalnya berdirinya Budi Utomo 1908, kekerasan dan pelanggaran HAM pada tragedy Trisakti pada 12 Mei 1998 hingga kerusuhan 13 – 15 mei sebelum lengsernya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998. Dan begitu banyak peristiwa lainnya.
Bagi Aksi Kamisan Medan, Mei menjadi momentum merawat ingatan. Karena seluruh peristiwa itu menjadi semangat global tentang tekad kolektif manusia dalam menentang eksploitasi, penjajahan dan tirani.
“Sepanjang sejarah dunia, perlawanan-perlawanan global banyak terjadi di bulan Mei. Begitu juga dengan berbagai tragedi Mei berdarah yang acap kali terjadi. Karena itu kami mengangkat tema Aksi Kamisan yakni; menghimpun sejarah panjang dan kebenaran yang tidak kunjung pulang,” kata Deryl.
1. Usung seni jalanan untuk menggaet semangat anak muda

Deryl menjelaskan, penyelenggaraan Aksi Kamisan kali ini sengaja dibuat berbeda untuk menjangkau lebih banyak anak muda. Jika biasanya aksi diisi dengan orasi dan pembacaan puisi, kali ini komunitas menambahkan berbagai kegiatan seni sebagai bagian dari medium penyampaian pesan.
Mulai dari panggung rakyat, pertunjukan musik, mural, hingga monolog ditampilkan selama aksi berlangsung.
Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan untuk memperkenalkan Aksi Kamisan kepada generasi muda sekaligus mengajak mereka terlibat dalam isu-isu sosial dan HAM. Mereka juga ingin Aksi Kamisan menjadi ruang inklusif untuk berbagai kalangan.
“Kami ingin memperkenalkan bagaimana sebenarnya Aksi Kamisan itu. Kami juga ingin menyadarkan dan mengajak kawan-kawan muda untuk mengetahui dan terlibat membersamai Aksi Kamisan. Karena itu formatnya kami ubah sedikit dengan menambahkan seni musik, mural, monolog, dan panggung rakyat,” ujarnya.
Deryl menilai seni dapat menjadi sarana yang lebih mudah diterima oleh anak muda untuk memahami berbagai persoalan sosial yang terjadi saat ini.
2. Soroti pembungkaman hingga kriminalisasi aktivis hingga kasus penyiksaan

Dalam refleksi yang dibangun melalui Aksi Kamisan ke-111, Deryl menilai ruang demokrasi dan kebebasan sipil saat ini menghadapi berbagai tantangan. Ia menyinggung maraknya praktik pembungkaman terhadap kelompok kritis hingga kriminalisasi aktivis.
Selain itu, ia juga menyoroti minimnya partisipasi kelompok masyarakat dalam sejumlah momentum perjuangan sosial, termasuk pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day beberapa waktu lalu.
“Tentu ini kami refleksikan sebagai situasi di mana pembungkaman semakin marak terjadi. Bagaimana perjuangan-perjuangan rakyat sering kali tidak mendapatkan dukungan yang luas,” katanya.
3. Aksi Kamisan akan selalu ada untuk menyuarakan ketidakadilan

Deryl menegaskan Aksi Kamisan akan tetap berlangsung meskipun jumlah peserta yang hadir tidak selalu besar. Baginya, aksi tersebut merupakan simbol konsistensi dalam memperjuangkan hak-hak warga negara dan kebebasan berpendapat.
“Aksi Kamisan, walaupun berganti orang, walaupun hanya lima, tiga, dua, bahkan satu orang, akan tetap berdiri. Kami akan tetap membersamai kawan-kawan yang tertindas, baik karena kebebasan berpendapat maupun keadaan ekonomi yang semakin mencekik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Aksi Kamisan terbuka bagi siapa saja yang ingin menyampaikan keresahan dan memperjuangkan keadilan.
Dalam kesempatan itu, Deryl turut mengkritik kondisi reformasi yang menurutnya mengalami kemunduran. Ia menyinggung munculnya kembali gejala remiliterisasi, meningkatnya pembungkaman terhadap suara kritis, hingga kriminalisasi terhadap aktivis.
“Kami harus mengakui bahwa reformasi hari ini telah dikorupsi. Banyak tuntutan reformasi yang hampir nihil. Kami melihat reformasi telah kehilangan marwahnya,” kata Deryl.
Melalui Aksi Kamisan ke-111, para peserta berharap ruang-ruang ekspresi publik tetap terbuka dan menjadi wadah untuk merawat ingatan kolektif atas berbagai persoalan keadilan yang hingga kini dinilai belum terselesaikan.
















