Istana Maimun (IDN Times/Prayugo Utomo)
Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah lahir pada 5 September 1864 di Istana Kota Batu, Labuhan Deli. Ayahnya adalah Sultan Mahmud Perkasa Alamsyah, Sultan Deli ke-8. Ibunya bernama Tengku Raja Dewi yang merupakan putri Sultan Mahmud Syah dari Kesultanan Siak.
Sultan Ma’mun wafat pada 10 September 1924 di Batavia dan dimakamkan di pelataran Masjid Raya Al-Mashun Medan. Karena itu beliau bergelar anumerta Marhum Mangkat di Batavia.
Sultan Ma’mun dinobatkan pada 6 Agustus 1873 dalam usia 8 tahun 9 bulan. Penyebabnya karena ayahnya wafat mendadak akibat wabah kolera. Kesultanan Deli menganut sistem monarki turun-temurun. Takhta tidak boleh kosong dan harus langsung diisi putra mahkota yang sah. Maka walau masih bocah, Sultan Ma’mun langsung ditabalkan jadi sultan.
Namun, dikarenakan belum akil baligh, dia belum memerintah sendiri. Dari tahun 1873 sampai 1886, pemerintahan Kesultanan Deli dijalankan oleh Dewan Perwalian.
Ketua dewannya adalah pamannya, Tengku Soelaiman. Anggotanya ada Tengku Raja Muda Osman dan Raja Mahkota Tengku Mahdar. Pemerintah Hindia Belanda ikut mengawasi lewat Residen Sumatra Timur. Sultan Ma’mun baru pegang kuasa penuh setelah dinobatkan ulang pada 13 Mei 1886 saat usianya 21 tahun. Jadi masa takhtanya tercatat 6 Agustus 1873 sampai 10 September 1924, total 51 tahun.
Karena disiapkan jadi sultan, pendidikan Sultan Ma’mun diatur ketat oleh keluarga istana dan Belanda. Pendidikan awalnya tahun 1870 sampai 1878 berlangsung di Istana Kota Batu. Di sana ia belajar mengaji Al-Qur’an, fikih mazhab Syafi’i, dan bahasa Arab dari ulama Deli dan Siak. Urusan adat istiadat dan tata cara pemerintahan diajarkan langsung oleh pamannya Tengku Soelaiman. Karena Kesultanan Deli banyak kontrak tembakau dengan perusahaan Eropa, ia juga sudah diajar dasar bahasa Belanda dan huruf Latin oleh guru yang ditunjuk Residen.
Setelah cukup umur, tahun 1878 Dewan Perwalian mengirimnya ke Batavia untuk sekolah modern. Pertama ia masuk Europesche Lagere School atau ELS, yaitu sekolah dasar untuk anak bangsawan dan Eropa. Pelajarannya meliputi bahasa Belanda, bahasa Melayu, ilmu bumi, berhitung, dan menulis halus. Lulus dari ELS, ia lanjut ke Gymnasium Koning Willem III yang juga disebut HBS. Itu setara SMA sekarang. Di HBS ia ambil jurusan bestuur atau pemerintahan. Teman sekelasnya anak bangsawan Jawa dan anak pegawai Belanda.
Selain sekolah formal, Sultan Ma’mun juga ikut kursus privat tentang hukum Hindia Belanda, ekonomi perkebunan, dan tata negara Eropa. Ilmu ini penting karena Deli saat itu jadi pusat tembakau dunia.
Sebelum pulang, tahun 1884 sampai 1886 ia magang di Kantor Residen Sumatra Timur. Ia juga belajar langsung ke Sultan Siak soal cara mengelola kerajaan modern. Tahun 1886 ia pulang ke Deli dan langsung dinobatkan sebagai sultan yang berkuasa penuh. Bekal pendidikan inilah yang bikin ia bisa memindahkan ibu kota ke Medan tahun 1888, membangun Istana Maimun 1888 sampai 1891, mendirikan Masjid Raya Al-Mashun 1906 sampai 1909, dan menata sistem sewa tanah yang bikin Deli kaya raya.