Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bawa Isu Perempuan, Pentas Monolog Bias Lampu Kota Kuras Emosi Penonton

IMG_20260207_162522.jpg
Aucintia saat berlakon di teater monolog Bias Lampu Kota (IDN Times/Indah Permata Sari)
Intinya sih...
  • Munawar menjelaskan, perempuan dipilih sebagai fokus bukan semata-mata sebagai simbol, melainkan sebagai representasi masyarakat kota itu sendiri.
  • Kendala utama selama proses rampungnya pentas monolog Bias Lampu Kota ini, kata Munawar, hanyalah soal waktu latihan yang harus disesuaikan dengan berbagai aktivitas para pelaku teater.
  • Sementara itu, pemeran tunggal Bias Lampu Kota, Aucintia Agnes R. Manik, mengaku berusaha menampilkan yang terbaik di setiap babak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Gemerlap lampu kota tak selalu seindah janji yang ditawarkannya. Di balik hiruk-pikuk Medan yang tak pernah tidur, tersimpan cerita-cerita sunyi, pergulatan batin, dan perlawanan perempuan yang jarang terdengar. Realitas inilah yang dihadirkan secara kuat dalam pementasan monolog Bias Lampu Kota, karya seniman teater Medan bersama Atma Loka, yang sukses mengaduk-aduk emosi penonton.

Pertunjukan ini merekam pengalaman perempuan dari berbagai usia, ruang, dan waktu di kota—dari kegelisahan, harapan, luka, hingga keberanian untuk bertahan. Setiap adegan menjadi cermin yang memantulkan sisi lain kehidupan urban yang sering luput dari perhatian.

Sutradara Bias Lampu Kota, Munawar Lubis, menjelaskan bahwa proses kreatif pertunjukan ini berangkat dari riset terhadap peristiwa-peristiwa yang dekat dengan keseharian perempuan perkotaan. Berbagai isu dikumpulkan, diseleksi, lalu diolah menjadi peristiwa panggung yang kuat dan jujur.

“Proses ini terus mencari peristiwa dengan isu perempuan di kota—dari berbagai usia, berbagai waktu, dan berbagai ruang,” ujar Munawar di Taman Budaya Medan, Sabtu (7/2/2026) malam.

Ia menambahkan, meski problem perempuan menjadi pusat cerita, bentuk penyampaiannya sengaja dibuat beragam. Ada karakter yang tampil lugu, ada yang tampak tegar meski rapuh di dalam, ada yang mengendalikan, mengekang, hingga menahan diri.

Semua karakter tersebut, menurut Munawar, merupakan representasi dari bentuk-bentuk resistensi perempuan dalam menghadapi tekanan sosial dan personal.

“Resistensi yang datang terhadap perempuan—bagaimana dia mengelolanya, bagaimana ia meresponsnya—itulah yang kami pilih sebagai cara lain untuk berkomunikasi dengan penonton,” tuturnya

1. Perempuan dipilih sebagai fokus bukan semata-mata sebagai simbol, melainkan sebagai representasi masyarakat kota itu sendiri

IMG_20260207_171514.jpg
Munawar bersama Aucintia usai pentas (IDN Times/Indah Permata Sari)

Munawar menjelaskan, perempuan dipilih sebagai fokus bukan semata-mata sebagai simbol, melainkan sebagai representasi masyarakat kota itu sendiri. Kota, baginya, adalah pusat kekuasaan politik, yang membuat banyak orang berbondong-bondong datang dengan harapan impian mereka akan tercapai.

“Pada kenyataannya justru sebaliknya. Banyak yang tidak menemukan apa yang mereka cari. Isu-isu itu kami data, tapi kami memposisikan diri sebagai perempuan. Kadang kami masuk ke dalam isu itu, kadang berjarak melihatnya. Kadang menjawab, kadang mempertanyakannya,” ucap Munawar.

2. Disebutkan seni juga merupakan media politis dan kritik

Aucintia saat berlakon di teater monolog Bias Lampu Kota (IDN Times/Indah Permata Sari)
Aucintia saat berlakon di teater monolog Bias Lampu Kota (IDN Times/Indah Permata Sari)

Kendala utama selama proses rampungnya pentas monolog Bias Lampu Kota ini, kata Munawar, hanyalah soal waktu latihan yang harus disesuaikan dengan berbagai aktivitas para pelaku teater. Meski begitu, ia menyebut prosesnya tetap terasa menyenangkan bagi semua tim.

Melalui pementasan ini, Munawar berharap masyarakat semakin mengenal seni pertunjukan berbasis akting dan karya sastra yang dipentaskan secara langsung. “Bahwa ada seni pertunjukan yang basisnya akting, drama, karya sastra,” tuturnya.

Dia juga menyinggung pentingnya dukungan pemerintah, meski menyadari seni pertunjukan belum menjadi prioritas.

“Seni ini sebenarnya media politis juga, media kritik. Pemerintah harus tahu dan mensupport, walaupun kita sadar ini jauh dari prioritas mereka. Tapi kita nggak mungkin menuntut banyak tentang fasilitas ke pemerintah, ya bagaimana kita mencari alternatif yang baik terhadap apa yang disediakan,” ujarnya.

3. Diharapkan penonton dapat menangkap makna dari setiap pendar lampu yang hadir di panggung

Aucintia saat berlakon di teater monolog Bias Lampu Kota (IDN Times/Indah Permata Sari)
Aucintia saat berlakon di teater monolog Bias Lampu Kota (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sementara itu, pemeran tunggal Bias Lampu Kota, Aucintia Agnes R. Manik, mengaku berusaha menampilkan yang terbaik di setiap babak. Diharapkan penonton dapat menangkap makna dari setiap pendar lampu yang hadir di panggung.

“Setiap bias lampu, setiap pendar lampu, menerangi sesiapa saja yang punya peliknya sendiri-sendiri,” kata Aucintia.

Dalam pementasan yang digelar dua sesi itu, Aucintia melakoni enam karakter berbeda, mulai dari istri yang kesulitan menasihati suami, anak yang mengalami perundungan, perempuan yang tulus namun kesepian, hingga sosok-sosok lain yang kerap luput dari perhatian masyarakat kota yang cenderung individualis.

Aucin juga menyinggung isu kesetaraan gender yang hadir dalam pertunjukan ini. Menurutnya, kesetaraan bukanlah alat untuk saling melepaskan tanggung jawab, melainkan soal pembagian peran yang adil.

“Masa yang bagian enaknya nanti perempuan. Tiba yang susah ‘kau lah, aku kan perempuan’. Bagian yang enaknya ‘akulah, aku kan perempuan’. Maunya jangan seperti itu, harus rata,” ucapnya.

Sebagai seniman Gen Z, Aucintia mengakui jalan teater bukan pilihan yang mudah. Waktu dan perhatian banyak tersita, bahkan kerap dipertanyakan oleh lingkungan sekitarnya. Namun, ia memilih bertahan karena cinta dan euforia yang ia rasakan di dunia seni pertunjukan. “Orang lain mungkin tidak merasakan apa yang saya rasakan,” katanya.

Aucintia mengaku lega atas pementasan yang ia lakukan, dan berharap penonton pulang membawa sesuatu yang bukan hanya sekadar solusi tapi juga refleksi diri.

Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Siswi SMAN 1 Medan Jadi Duta Intelegensia Putri Pelajar Anti Narkoba

08 Feb 2026, 23:36 WIBNews