Pemantauan ‘Blood Moon’ Terhalang Awan di Medan

Medan, IDN Times – Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah 1 Medan melakukan pemantauan gerhana bulan total ‘Blood Moon’, Selasa (3/3/2026). Pemantauan sudah dilakukan sejak petang.
Pemantauan ini dilakukan serentak dari wilayah Aceh hingga Papua. Fenomena astronomi ini termasuk langka karena hanya terjadi dalam periode tertentu.
1. Pemantauan terhalang awan tebal

Sejak petang, petugas BBMKG Wilayah 1 sudah melakukan pemantauan. Namun hingga fase puncak pada 18.33 WIB, bulan juga belum terlihat. Begitu juga pada fase umbra.
Semula, kondisi cuaca di sekitar lokasi pemantauan cukup cerah. Pantauan IDN Times, bulan baru terlihat pada pukul 19.37 WIB. Namun sayang, kondisi bulan tertutup awan yang cukup tebal. Sehingga, bulan hanya tampak samar. Gerhana bulan total terlihat secara sempurna di kawasan Timur Indonesia.
2. Harusnya jadi fenomena istimewa karena terjadi saat Ramadan

Kepala BBMKG Wilayah 1 Medan Hendro Nugroho menjelaskan, jika terpantau sempurna, harusnya Blood Moon merupakan fenomena istimewa. Apalagi terjadi saat bulan Ramadan.
Dia menjelaskan, Warna merah muncul akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi. cahaya biru tersebar, sementara cahaya merah diteruskan dan dipantulkan ke permukaan Bulan.
“Fenomena yang kelihatan merah itu adalah hari ini. Jadi bulannya seperti dimakan darah gitu ya,” kata Hendro disela pemantauan.
Di Indonesia, gerhana bulan bisa terjadi dua kali setahun. Namun fenomena Blood Moon langka terjadi. Mereka memrediksi, fenomena serupa akan terjadi pada 2028.
3. Tidak berkaitan dengan gempa hari ini

Hendro juga memastikan, fenomena gerhana hari ini tidak berkaitan dengan gempa yang terjadi di Pulau Simeulue, Aceh. Gempa berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah itu petang tadi.
“Secara astronomi dan secara tektonik itu tidak ada kaitanny. Jadi memang kebetulan talah terjadi gempa dan petang ini juga terjadi gerhana,” pungkasnya.


















