Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) demonstrasi menyoroti kondisi rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana ekologis 2025 di Kantor Gubernur Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
Taufiq mengakui Pemerintah Aceh tidak mampu berjalan sendiri dalam melaksanakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Karena kita sadari Pemerintah Aceh sendiri tidak mampu melaksanakan ini,” kata Taufiq.
Ia mengatakan Pemerintah Aceh masih memiliki keterbatasan informasi mengenai kondisi masyarakat terdampak di lapangan. Karena itu, pemerintah terus membangun komunikasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan Pemerintah Pusat.
Taufiq menyebut Pemerintah Aceh juga telah membuka posko untuk memudahkan pengumpulan informasi terkait kondisi masyarakat terdampak.
“Karena kita tidak memiliki power, makanya kami membuka posko. Posko untuk memudahkan kita mendapatkan informasi-informasi yang pastinya hari ini masih banyak kekurangan informasi dari kita,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah berupaya menjangkau seluruh wilayah hingga pelosok Aceh agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat diketahui.
“Kami juga berusaha untuk bisa menjangkau semua lini, semua pelosok. Pemerintah Aceh harus memperhatikan semua daerah,” katanya.
Taufiq juga mengajak mahasiswa ikut membangun komunikasi dengan pemerintah dalam mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Menurutnya, kebutuhan masyarakat tidak bisa dilihat hanya dari satu sektor.
“Kesehatan wajib, pendidikan wajib, rumah juga harus. Itu yang harus kita laksanakan bersama,” ujarnya.
Terkait tuntutan mahasiswa mengenai percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, Taufiq mengakui progres pemulihan pascabencana di Aceh masih berjalan lambat.
“Terhadap apa yang disampaikan (massa mahasiswa) tadi kami menyadari bahwa sampai saat ini, Aceh dalam pemulihan pascabencana masih sangat lambat progres yang diterima oleh masyarakat kita,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Aceh bersama berbagai pihak akan terus mendorong percepatan pemulihan agar mencakup seluruh sektor kehidupan masyarakat.
“Yang sama-sama kita ingin semua ini agar bisa berjalan cepat semua lini, semua sektor kehidupan, baik pendidikan, kesehatan, rumah, dan lainnya,” ujarnya.
Selain itu, mahasiswa menilai persoalan anggaran menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rehabilitasi dan rekonstruksi belum berjalan maksimal.
“Pastinya terkait anggaran itu menjadi penyebab. Bahkan itu menjadi penyebab besar bahwa hari ini mandeknya rehabilitasi dan rekonstruksi itu terjadi,” ujar Ammar.
Dalam aksinya, mahasiswa juga mendesak Pemerintah Aceh membangun infrastruktur dengan prinsip ketahanan bencana, melibatkan masyarakat dan mahasiswa dalam mengawal progres rehabilitasi dan rekonstruksi, serta mengaudit perizinan industri ekstraktif di kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) Aceh.
Ammar menegaskan mahasiswa akan terus mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.
“Karena kami datang ke sini atas dasar tagline kami bersama, yakni pengawalan. Jika memang itu opsinya adalah aksi maupun audiensi, tentu ke depannya ada hal-hal yang kami lakukan secara berkala dan publikasi pastinya,” ujarnya.
Adapun lima tuntutan mahasiswa USK yakni:
1. Mendesak Pemerintah Aceh mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi dalam hal infrastruktur, kesehatan dan pendidikan, serta pemulihan ekonomi masyarakat terdampak.
2. Mendesak Pemerintah Aceh membuka rincian anggaran terkait proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh.
3. Mendesak Pemerintah Aceh membangun infrastruktur dengan prinsip ketahanan bencana.
4. Mendesak Pemerintah Aceh melibatkan masyarakat dan mahasiswa dalam pengawalan progres rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh.
5. Mendesak Pemerintah Aceh mengaudit perizinan industri ekstraktif di kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) Aceh.