Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ketua IDAI Sumut Kritik Kebijakan Menkes Soal Kenaikan Harga Obat 20 Persen
Ilustrasi menggabungkan dua macam obat (freepik.com/pressfoto)
  • Ketua IDAI Sumut dr. Rizky Ardiansyah mengkritik kebijakan Menkes yang menormalisasi kenaikan harga obat 20%, menilai hal itu mencerminkan mentalitas pedagang dan melemahkan posisi negara di hadapan pasar.
  • Rizky menyoroti mandeknya kemandirian farmasi nasional karena BUMN seperti Kimia Farma dan Bio Farma belum optimal memproduksi obat secara mandiri, masih bergantung pada bahan baku impor.
  • Kenaikan harga obat disebut menjadi beban ganda bagi rakyat, sebab harga dasar obat di Indonesia sudah jauh lebih mahal dibanding pasar global dan kini dibiarkan naik lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
beberapa bulan lalu

Menteri Kesehatan mengakui harga obat di Indonesia sudah 2 hingga 6 kali lipat lebih mahal dibanding pasar global akibat tata kelola yang tidak efisien.

2024–2027

dr. Rizky Ardiansyah menjabat sebagai Ketua IDAI Sumut dan mengkritik kebijakan Menkes yang menormalisasi kenaikan harga obat hingga 20%.

kini

Rizky menilai kebijakan kenaikan harga obat mencerminkan lemahnya posisi pemerintah terhadap pasar dan menjadi beban ganda bagi rakyat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Ketua IDAI Sumut mengkritik kebijakan Menteri Kesehatan yang menormalisasi kenaikan harga obat hingga 20% akibat pengaruh nilai tukar dolar AS dan harga minyak dunia.
  • Who?
    dr. Rizky Ardiansyah, Sp.A(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Utara periode 2024–2027, serta Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Medan, Sumatera Utara, dengan konteks kebijakan nasional sektor kesehatan di Indonesia.
  • When?
    Kritik disampaikan pada tahun 2024, setelah pernyataan Menteri Kesehatan mengenai penyesuaian harga obat hingga 20% beredar di publik.
  • Why?
    Kritik muncul karena kebijakan tersebut dinilai melemahkan posisi negara terhadap pasar dan menambah beban ekonomi masyarakat di tengah krisis.
  • How?
    dr. Rizky menyampaikan pandangannya melalui pernyataan terbuka yang menyoroti lemahnya intervensi pemerintah serta mandeknya kemandirian industri farmasi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada dokter namanya Pak Rizky yang bilang harga obat mau naik sampai dua puluh persen karena uang dolar dan minyak mahal. Katanya itu bikin orang susah beli obat, apalagi yang tidak punya BPJS. Ia juga bilang pemerintah harusnya bantu buat obat sendiri biar murah. Sekarang orang takut obat makin mahal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun artikel ini berisi kritik tajam terhadap kebijakan kenaikan harga obat, pandangan dr. Rizky Ardiansyah dapat dilihat sebagai dorongan positif bagi transparansi dan tanggung jawab pemerintah dalam sektor kesehatan. Kritik tersebut menunjukkan kepedulian mendalam terhadap keadilan akses obat serta semangat memperkuat kemandirian farmasi nasional agar lebih berpihak pada kepentingan rakyat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi Anak sekaligus Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumut 2024–2027 dr. Rizky Ardiansyah menyebut pernyataan Menteri Kesehatan yang menormalisasi kenaikan harga obat hingga 20% akibat lonjakan dolar AS dan harga minyak dunia mencerminkan mentalitas para pedagang.

Di tengah krisis ekonomi, menurut Rizky, membiarkan harga obat melonjak dengan dalih "masuk akal" menunjukkan kegagalan negara memposisikan kesehatan sebagai hak dasar rakyat, bukan komoditas pasar bebas.

1. Kenaikan harga obat ini dinilai sebagai "Lampu Hijau" memperlemah negara

Ilustrasi berhenti minum obat (freepik.com/KamranAydinov)

Rizky menilai "lampu hijau" Kemenkes kepada industri farmasi swasta untuk menaikkan harga justru memperlihatkan posisi pemerintah lemah di hadapan pasar. "Alih-alih melakukan intervensi ketat untuk mengendalikan margin keuntungan korporasi di masa sulit, Kemenkes justru melegitimasi kenaikan tersebut," tegasnya.

Dia juga menyoroti klaim bahwa jaminan obat BPJS Kesehatan tetap aman. Menurut Rizky, klaim itu tidak menyelesaikan masalah.

"Rakyat kelas menengah rentan yang mendapat obat-obat tidak tercover BPJS tetap harus merogoh kocek lebih dalam dari kantong pribadi," ujarnya.

2. Kemandirian farmasi mandek

Obat (europeanpharmaceuticalreview)

Kebijakan ini, kata Rizky, menjadi rapor merah bagi mandeknya kemandirian farmasi nasional. Indonesia memiliki raksasa BUMN farmasi seperti PT Kimia Farma Tbk dan PT Bio Farma, namun gagal dioptimalkan untuk memproduksi obat secara mandiri dalam skala masif.

"BUMN farmasi seharusnya didorong menjadi benteng pertahanan lini depan untuk memproduksi obat serta alat penunjang kesehatan domestik. Faktanya BUMN farmasi justru ikut terseret dalam arus kapitalisme bahan baku impor," jelasnya.

3. Dinilai menjadi beban ganda rakyat

Ilustrasi terapi mikrobioma untuk pengobatan masa depan (freepik.com/freepik)

Aspek paling paradoks, lanjut Rizky, adalah pengakuan Menkes sendiri beberapa bulan lalu bahwa harga obat di Indonesia sudah 2 hingga 6 kali lipat lebih mahal dibandingkan harga pasar global akibat tata kelola pasar yang tidak efisien.

"Saat harga dasar obat di Indonesia sudah tergolong tidak masuk akal, membiarkannya naik lagi hingga 20% merupakan beban ganda yang harus dipikul rakyat miskin dan kelas menengah," kata Rizky.

Dia juga menegaskan bahwa, Kemenkes tidak boleh memposisikan diri sebagai regulator yang memaklumi pasar ketimbang penggerak produksi domestik.

Topics

Editorial Team

Related Article