ilustrasi PHK (pixabay.com/Mohamed_hassan)
Agum menilai indikator makro seperti pertumbuhan produk domestik bruto, inflasi, realisasi investasi, dan cadangan devisa tetap penting. Namun, indikator tersebut belum tentu menggambarkan realitas dunia usaha secara utuh.
Banyak perusahaan masih menghadapi pelemahan daya beli, biaya logistik, fluktuasi nilai tukar, kenaikan biaya energi, dan ketidakpastian rantai pasok global.
Karena itu, investasi yang meningkat belum otomatis menciptakan lapangan kerja besar. Sebagian investasi modern bersifat padat modal, mengandalkan teknologi dan otomatisasi, sehingga serapan tenaga kerjanya terbatas.
Di sisi lain, sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan manufaktur justru menghadapi tekanan berat dalam persaingan global.
Agum mengingatkan, PHK yang meningkat di kawasan industri seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta tidak bisa dianggap peristiwa biasa. Wilayah itu merupakan jantung manufaktur nasional. Jika sektor manufaktur kehilangan daya saing, dampaknya bisa menjalar ke logistik, transportasi, perdagangan, jasa keuangan, hingga usaha mikro dan kecil.
Menurutnya, bila Indonesia ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada investasi dan PDB.
“Pertumbuhan harus mampu menciptakan pekerjaan produktif, memperkuat industri nasional, meningkatkan daya saing usaha, dan memberi rasa aman bagi masyarakat untuk bekerja serta berusaha,” pungkasnya.