Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Pangan Turun saat Dapur MBG Libur, Pengamat: Sinyal Berbahaya
ilustrasi perempuan berbelanja (pexels.com/Helena Lopes)
  • Libur sekolah membuat dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti sementara, berdampak pada turunnya harga sejumlah komoditas pangan di Medan dan sekitarnya.
  • Data Juni 2026 menunjukkan harga daging ayam dan telur turun tajam hingga lebih dari 20%, sementara beberapa sayuran mengalami fluktuasi signifikan.
  • Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai penurunan harga bukan semata akibat liburnya MBG, melainkan bisa menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Maret 2026

Harga daging ayam di pasar Medan tercatat sekitar Rp43.000 per Kg sebelum mengalami penurunan pada bulan-bulan berikutnya.

Mei 2026

Harga buncis stabil di Rp13.000 per Kg sejak bulan ini. Di level produsen, harga ayam hidup berada di kisaran Rp21.000–Rp22.000 per Kg sebelum turun pada pekan berikutnya.

Juni 2026

Data menunjukkan wortel naik 37% secara bulanan, sementara kacang panjang, tomat, dan sawi hijau mengalami penurunan tajam. Telur ayam di Deli Serdang turun menjadi Rp28.300 per Kg sejak 19 Juni.

19 Juni 2026

Harga telur ayam di Deli Serdang mulai berlaku di tingkat Rp28.300 per Kg setelah sebelumnya lebih tinggi pada Mei.

Rabu (1/6/2026)

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menjelaskan bahwa penurunan harga pangan tidak bisa langsung dikaitkan dengan liburnya dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

kini

Harga daging ayam turun menjadi sekitar Rp33.000 per Kg di Medan dan Rp16% lebih rendah di Deli Serdang dibanding Maret, sementara pengamat menilai kondisi ini sebagai sinyal tekanan daya beli masyarakat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga sejumlah komoditas pangan, terutama daging ayam dan telur, mengalami penurunan tajam saat dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) libur selama masa libur sekolah.
  • Who?
    Penurunan harga ini diamati oleh pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, dengan data berasal dari pasar di Medan dan Deli Serdang serta pelaku usaha peternakan dan perdagangan pangan.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di wilayah Medan dan Deli Serdang, Sumatera Utara, berdasarkan pantauan harga di pasar tradisional dan tingkat produsen ayam hidup.
  • When?
    Perubahan harga tercatat pada Juni 2026, bertepatan dengan masa libur sekolah yang membuat dapur MBG berhenti sementara sejak awal bulan tersebut.
  • Why?
    Dapur MBG yang tidak beroperasi sementara menurunkan permintaan bahan pangan tertentu, namun penurunan juga diduga mencerminkan tekanan daya beli masyarakat menurut pengamat ekonomi.
  • How?
    Harga daging ayam turun sekitar 23% di Medan dan 16% di Deli Serdang; telur ayam turun menjadi Rp28.300 per Kg; beberapa sayuran seperti sawi hijau dan kacang panjang juga mengalami penurunan signifikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sekarang dapur Makan Bergizi Gratis libur karena anak-anak libur sekolah. Jadi harga makanan seperti ayam, telur, dan sayur banyak yang turun. Ayam jadi lebih murah, telur juga turun. Ada orang namanya Pak Gunawan bilang ini bisa tanda orang susah beli makanan. Katanya pemerintah harus hati-hati lihat keadaan ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun penurunan harga pangan disebut sebagai sinyal yang perlu diwaspadai, situasi ini juga membawa sisi positif bagi konsumen. Harga daging ayam, telur, dan beberapa jenis sayuran yang lebih terjangkau dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi dengan biaya lebih ringan selama masa libur sekolah, sekaligus memberi ruang bagi pasar untuk menyesuaikan keseimbangan permintaan dan pasokan secara alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Libur sekolah membuat dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) libur sementara. Dampaknya, harga sejumlah komoditas pangan ikut turun. Namun, pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyebut penurunan itu tidak bisa langsung dikaitkan dengan MBG.

“Jika melihat menu MBG yang pernah saya lihat langsung, umumnya terdiri dari telur ayam, daging ayam, buncis hingga wortel. Ada juga susu, buah, kacang-kacangan, dan pasti ada nasi,” kata Gunawan, pada Rabu (1/6/2026).

1. Sayur volatil, daging dan telur turun tajam

ilustrasi perempuan belanja bahan makanan (pexels.com/Gustavo Fring)

Data Juni 2026 menunjukkan harga sayur cukup fluktuatif. Wortel naik 37% secara bulanan. Buncis relatif stabil di Rp13.000 per Kg sejak bulan Mei 2026.

Sebaliknya, beberapa sayur justru anjlok: kacang panjang turun 36%, tomat turun 16%, dan sawi hijau turun 42%.

“ Sayuran adalah komoditas yang mudah disubstitusi. Dapur bisa mengganti menu dengan sayur jenis lain. Berbeda dengan daging ayam dan telur yang permintaannya cenderung konsisten saat dapur MBG beroperasi,” jelasnya.

2. Penurunan paling tajam pada daging, ayam dan telur

Potret daging (pexel.com/Los Muertos Crew)

Penurunan paling tajam terjadi pada daging ayam dan telur. Harga daging ayam di salah satu pasar Medan turun dari Rp43.000 per Kg pada Maret menjadi Rp33.000 per Kg saat ini, atau turun 23,3%. Di wilayah Deli Serdang turun 16% pada periode sama.

Di level produsen, ayam hidup turun dari Rp21.000–Rp22.000 per Kg pada Mei ke Rp16.500 per Kg pekan lalu. Telur ayam di Deli Serdang juga turun dari Rp30.600 per Kg pada Mei menjadi Rp28.300 per Kg sejak 19 Juni.

3. Bukan hanya efek MBG libur, tapi sinyal daya beli

ilustrasi orang belanja sayuran (pixabay.com/TungArt7)

Gunawan menegaskan penurunan harga daging dan telur tidak hanya karena dapur MBG libur.

“Penurunan harga daging ayam dan telur ayam bukan hanya dipicu oleh libur anak sekolah yang membuat dapur MBG libur sementara. Lebih dari itu pemerintah harus mewaspadai,” ujarnya.

Menurutnya, penurunan harga komoditas pokok ini bisa menjadi sinyal adanya tekanan besar pada daya beli masyarakat.

“Karena penurunan tersebut bisa saja mengindikasikan kemungkinan adanya tekanan besar pada daya beli masyarakat kita,” pungkasnya.

Editorial Team

Related Article