Ilustrasi jenazah. (IDN Times/Mia Amalia)
Sementara itu, hasil pemeriksaan dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara menjadi bagian penting dalam perkara tersebut. Dokter forensik Mistar Ritonga sebelumnya mengatakan tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh W dalam pemeriksaan awal.
"Dari pemeriksaan awal, saya tidak menjumpai tanda-tanda kekerasan," kata Mistar saat diwawancarai di Polrestabes Medan pada Kamis (6/8/2026) lalu.
Mistar juga menjelaskan mengenai kondisi lebam pada sejumlah bagian tubuh W yang dipertanyakan keluarga. Menurut dia, lebam pada bagian leher dan mata tidak otomatis menunjukkan adanya penganiayaan.
"Kalau mata lebam secara fisiologis bukan oleh karena kekerasan. Yang terjadi seperti kita ketahui bahwa luka tembaknya itu berjalan ataupun menelusuri juga di dasar tengkoraknya. Di sana, ada pembuluh darah yang disebut dengan sirkulus willisi, yang mempunyai tiga percabangan, salah satunya mendarahi ke kelopak mata. Jadi, kalau dia pecah terjadi hematom namanya. Itu istilahnya lebih khas dia hematom kacamata," sambungnya.
Ia juga menerangkan mengenai jahitan yang terlihat di bagian bawah dagu hingga dekat tenggorokan. Menurut Mistar, bagian tersebut merupakan dampak dari proses autopsi yang dilakukan terhadap jenazah W.
"Bukan hanya leher, kepala juga. Jadi, kami buka dari insisi sampai simfisis, atau perut bawahnya. Sesudah itu, kami keluarkan organ, diperiksa semua, baru kami jahit kembali," sebutnya.
Di sisi lain, Polda Sumut menyatakan telah menerima laporan dugaan pembunuhan dari keluarga W. Ferry mengatakan pihaknya juga memberikan pendampingan terhadap dua anak W dan Brigadir IH yang kini berada dalam situasi keluarga yang terdampak perkara tersebut.
"Tetap itu, pasti kita laksanakan seperti pendampingan dan trauma healing. Biar bagaimanapun, kan mereka itu keluarga kita juga kan, ya, keluarga besar Polri," pungkasnya.