Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Stasiun Binjai, Jejak Rel Kolonial Saksi Perubahan Kota Rambutan

Kota Medan
3 min read
Stasiun Binjai, Jejak Rel Kolonial Saksi Perubahan Kota Rambutan
Stasiun KAI Binjai (Dok. KAI Divre I Sumut)
  • Stasiun Binjai awalnya bernama Timbang Langkat, dibangun melalui konsesi DSM pada 1883; jalur Medan-Timbang Langkat sepanjang 20,8 kilometer dibuka pada 1887.

  • Jaringan dari Binjai awalnya mendukung angkutan perkebunan tembakau dan lada, dengan lintasan ke Kuala yang aktif hingga 2002 serta ke Besitang sebagai titik transit menuju Aceh.

  • Kini Stasiun Binjai, bangunan cagar budaya, menopang mobilitas harian lewat KA Srilelawangsa; volume tertinggi mencapai 9.985 penumpang pada hari kerja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Jauh sebelum Binjai berkembang sebagai kota yang terhubung erat dengan Medan, kereta api telah lebih dulu hadir dan menjadi bagian penting dari perubahan kawasan tersebut. Manager Humas KAI Divre I Sumatra Utara, Anwar Yuli Prastyo, menjelaskan, keberadaan Stasiun Binjai memiliki akar sejarah yang kuat sejak era kolonial Belanda.

"Sebelum bernama Stasiun Binjai seperti sekarang, dulu namanya adalah Stasiun Timbang Langkat, sesuai dengan konsesi pembangunan jalur yang diberikan oleh Pemerintah Belanda kepada Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada 23 Januari 1883," ujar Anwar di Medan, Minggu (27/9/2026).

  1. 1. Jalur Medan-Timbang Langkat dibuka pada tahun 1887

    IMG-20260927-WA0039.jpg
    Stasiun KAI Binjai (Dok. KAI Divre I Sumut)

    Dalam konsesi tersebut, DSM diberi izin membangun jalur kereta api antara Medan, Deli Tua, dan berakhir di Stasiun Timbang Langkat dengan jarak 20,8 kilometer. Jalur Medan-Timbang Langkat kemudian dibuka pada tahun 1887.

    Sampai dengan tahun 1930-an, berdasarkan arsip foto yang tersimpan di beberapa museum perkeretaapian Belanda, stasiun yang kini berada di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai, tersebut masih bernama Stasiun Timbang Langkat.

    Namun, pasca-kemerdekaan saat proses nasionalisasi DSM dilakukan, stasiun tersebut berganti nama menjadi Stasiun Binjai.

    "Tidak ada arsip resmi yang mencatat kapan perubahan nama Stasiun Timbang Langkat menjadi Stasiun Binjai. Kemungkinan hal itu dilakukan seiring berkembangnya kawasan Langkat Hulu yang ikut tumbuh menjadi kota administrasi. Kereta api hadir ketika kawasan tersebut sedang tumbuh, lalu ikut mempercepat perubahan Timbang Langkat menjadi perkotaan," kata Anwar.

  2. 2. Hingga akhir 1919, dari Stasiun Binjai terdapat dua lintasan

    IMG-20260927-WA0037.jpg
    Stasiun KAI Binjai (Dok. KAI Divre I Sumut)

    Seperti jaringan kereta api pada umumnya di Sumatra Utara, jalur Medan menuju Timbang Langkat dibangun untuk memperkuat angkutan perkebunan, khususnya komoditas tembakau dan lada.

    Hingga akhir 1919, dari Stasiun Binjai terdapat dua lintasan. Satu lintasan menuju Stasiun Selesai hingga Stasiun Kuala di Kabupaten Langkat yang aktif hingga 2002 sebagai jalur angkutan CPO dan lateks. Sementara lintasan lainnya membentang dari Stasiun Binjai menuju Stasiun Besitang yang menjadi stasiun transit pertemuan jalur DSM dan Atjeh Tram (Atjeh Staatsspoorwegen) di Aceh.

  3. 3. Jadi penopang mobilitas harian

    IMG-20260927-WA0038.jpg
    Stasiun KAI Binjai (Dok. KAI Divre I Sumut)

    Kini, peran Stasiun Binjai bergeser lebih strategis sebagai pendukung utama mobilitas harian masyarakat. Hal itu didukung hadirnya KA Srilelawangsa yang dikelola KAI Bandara dengan tarif terjangkau Rp5.000. Antusiasme warga terlihat dari volume harian tertinggi di Stasiun Binjai yang mencapai 9.985 penumpang pada hari kerja dan 9.730 penumpang pada akhir pekan.

    Pergerakan harian juga tecermin dari penggunaan fasilitas parkir. Stasiun Binjai memiliki daya tampung 400 sepeda motor dan 35 mobil. Data KAI Services mencatat, pada hari kerja, angka tertinggi kendaraan yang parkir mencapai 600 sepeda motor dan 89 mobil, sementara pada akhir pekan jumlahnya menurun drastis.

    "Dari kedua data tersebut menunjukkan bahwa peran Stasiun Binjai yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya ini telah bergeser, dari dulunya melayani angkutan perkebunan, sekarang telah beralih fungsi menjadi pendukung mobilitas harian masyarakat Kota Binjai," terang Anwar.

    Menurutnya, perjalanan sejarah Stasiun Binjai menjadi bukti bahwa kereta api tidak hanya hadir sebagai saksi pembangunan, tetapi juga motor penggerak transformasi kawasan dari wilayah perkebunan menjadi pusat perkotaan yang dinamis.

    "KAI Divre I Sumatra Utara berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian nilai sejarah dan cagar budaya Stasiun Binjai, sekaligus mengoptimalkan keandalan layanannya demi mendukung mobilitas harian masyarakat serta memperkuat konektivitas ekonomi wilayah Sumatra Utara secara berkelanjutan," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More