Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonomi Sumut Tumbuh 5,06 Persen di Triwulan II, Berikut Catatannya
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Muhammad Daudy)
  • Ekonomi Sumatra Utara tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sementara pertumbuhan kumulatif semester I mencapai 5,02 persen, menurut BPS.

  • Kontribusi Ramadan dan Idul Fitri terhadap ekonomi Sumut dinilai melemah; sektor perdagangan tumbuh 0,25 persen pada triwulan I dan 2,57 persen pada triwulan II 2026.

  • Pelemahan dikaitkan dengan penahanan belanja, kebutuhan sekolah, serta belanja pemerintah triwulan II; data menunjukkan masyarakat memprioritaskan kebutuhan dasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
triwulan I 2022

Sektor perdagangan Sumut tumbuh 0,74% secara kuartalan.

triwulan II 2022

Saat Ramadan dan Idul Fitri sepenuhnya berlangsung, sektor perdagangan tumbuh 3,61% secara kuartalan.

triwulan I 2024

Sektor perdagangan terkontraksi 1,93% secara kuartalan.

triwulan II 2024

Ketika sebagian Ramadan dan Idul Fitri berlangsung pada kuartal ini, sektor perdagangan tumbuh 2,54%.

triwulan I 2026

Saat Ramadan dan Idul Fitri sepenuhnya berlangsung, sektor perdagangan tumbuh 0,25%. Konsumsi rumah tangga tumbuh 1,3%.

triwulan II 2026

Ekonomi Sumut tumbuh 5,06% secara tahunan. Sektor perdagangan tumbuh 2,57%, sementara konsumsi rumah tangga meningkat 2,88%.

semester I 2026

Pertumbuhan ekonomi Sumut secara kumulatif tercatat 5,02%. Data ini dinilai menunjukkan kontribusi ekonomi Ramadan dan Idul Fitri melemah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BPS mencatat ekonomi Sumatra Utara tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Data menunjukkan kontribusi aktivitas ekonomi Ramadan dan Idul Fitri terhadap perekonomian daerah melemah.
  • Who?
    BPS mencatat data pertumbuhan ekonomi Sumut, sementara pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyampaikan penilaian mengenai pelemahan kontribusi konsumsi Ramadan dan Idul Fitri.
  • Where?
    Perkembangan ini terjadi di Sumatra Utara, dengan data mencakup sektor perdagangan, akomodasi, makanan-minuman, transportasi, pergudangan, serta konsumsi rumah tangga di daerah tersebut.
  • When?
    Pertumbuhan 5,06 persen tercatat pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Gunawan Benjamin menyampaikan penilaiannya pada Rabu, 5 Agustus 2026.
  • Why?
    Gunawan menyebut pelemahan diduga terkait masyarakat menahan belanja, pengeluaran yang berfokus pada kebutuhan anak sekolah pada triwulan II, serta belanja sosial dan konsumsi pemerintah yang lebih banyak mengalir pada triwulan II.
  • How?
    Pelemahan terlihat dari pertumbuhan sektor perdagangan yang hanya 0,25 persen secara kuartalan pada triwulan I 2026 saat Ramadan dan Idul Fitri berlangsung, lalu meningkat menjadi 2,57 persen pada triwulan II.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ekonomi Sumatra Utara tumbuh 5,06 persen pada tiga bulan kedua tahun 2026. Tapi saat Ramadan dan Idul Fitri, orang-orang tidak belanja sebanyak dulu. Gunawan Benjamin bilang banyak keluarga memilih beli kebutuhan penting. Mereka juga menyiapkan uang untuk anak sekolah. Sekarang, belanja saat hari raya tidak terlalu kuat membantu ekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah perubahan pola belanja, ekonomi Sumatra Utara tetap menunjukkan ketahanan melalui pertumbuhan tahunan 5,06 persen pada triwulan II 2026. Kenaikan konsumsi rumah tangga dari 1,3 persen menjadi 2,88 persen serta pertumbuhan perdagangan 2,57 persen mencerminkan aktivitas ekonomi masih bergerak, dengan pengeluaran masyarakat lebih terarah pada kebutuhan dasar dan pendidikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara (Sumut) sebesar 5,06 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan atau year on year. Secara kumulatif semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Sumut tercatat 5,02 persen.

Meski secara umum masih tumbuh, data BPS menunjukkan adanya pelemahan kontribusi geliat ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri terhadap perekonomian Sumut.

Hal itu terlihat dari kinerja sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor. Pada triwulan I 2026, saat Ramadan dan Idul Fitri sepenuhnya berlangsung di kuartal pertama, sektor tersebut tumbuh 0,25 persen secara kuartalan. Pertumbuhannya justru lebih tinggi pada triwulan II 2026, yakni 2,57 persen.

1. Tren melemah sejak 2022

Ilustrasi rupiah (IDN Times/Ita Malau)

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai jika dibandingkan 2024, ketika Ramadan dan Idul Fitri sebagian berlangsung di triwulan II, sektor yang sama justru terkontraksi 1,93 persen pada triwulan I dan tumbuh 2,54 perse pada triwulan II 2024.

"Pola serupa juga terlihat pada 2022. Saat Ramadan dan Idul Fitri sepenuhnya di triwulan II, sektor perdagangan tumbuh 0,74 persen pada triwulan I dan melonjak 3,61 persen pada triwulan II 2022. Tren yang sama juga tercermin dari sektor akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi dan pergudangan," jelasnya pada Rabu (5/8/2026).

Lanjutnya, dari sisi pengeluaran, rumah tangga di Sumut pada 2026 tumbuh 1,3 persen pada triwulan I dan meningkat signifikan menjadi 2,88 persen pada triwulan II.

"Dari data ini saya menarik kesimpulan bahwa kontribusi dari geliat ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri terus mengalami perlambatan atau melemah," ujar Gunawan.

2. Berikut tiga faktor penyebabnya

ilustrasi uang (pexels.com/Ahsanjaya)

Dia juga menyebutkan bahwa, pelemahan itu diduga dipicu tiga faktor utama. Pertama, masyarakat menahan belanja selama Ramadan dan Idul Fitri. Kedua, fokus pengeluaran masyarakat lebih diarahkan pada kebutuhan anak sekolah yang puncaknya terjadi pada triwulan II. Ketiga, belanja sosial pemerintah maupun belanja konsumsi pemerintah lebih banyak mengalir pada triwulan II.

"Dari pengalaman saya berdiskusi dengan pelaku usaha ritel, Ramadan dan Idul Fitri selalu jadi tolak ukur dalam menghitung proyeksi belanja masyarakat setelahnya. Artinya, jika ingin melihat bagaimana penjualan atau belanja masyarakat dalam periode setahun ke depan, maka lihatlah bagaimana masyarakat berbelanja selama Ramadan dan Idul Fitri," ucapnya.

3. Belanja masih tertekan

ilustrasi rupiah (pexels.com/Robert Lens)

Dikatakan Gunawan, rilis data pertumbuhan ekonomi ini memperlihatkan belanja masyarakat masih dalam tekanan. Berdasarkan data BPS, masyarakat lebih memprioritaskan belanja untuk kebutuhan dasar dibandingkan mengikuti pola pengeluaran selama Ramadan dan Idul Fitri.

"Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan kualitas hidup masyarakat yang terjadi belakangan ini," ujarnya.

Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat membaca tren ini sebagai sinyal untuk menyesuaikan strategi. Momentum Ramadan dan Idul Fitri yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi rumah tangga, kini tidak lagi menjadi faktor dominan dalam menggerakkan ekonomi Sumut.

Editorial Team

Related Article