Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Diskusi WALHI: Sumut Tempat Transit Sisik Tenggiling, Populasi Terancam

Kota Medan
3 min read
Diskusi WALHI: Sumut Tempat Transit Sisik Tenggiling, Populasi Terancam
Walhi Sumut menggelar diskusi publik bertema Melindungi Tenggiling, Menjaga Hutan (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • WALHI Sumut menggelar diskusi publik di Medan membahas maraknya perdagangan ilegal tenggiling, yang kini menjadi kasus satwa liar dilindungi tertinggi di Sumatra Utara.

  • Sumut disebut sebagai wilayah transit utama penyelundupan sisik tenggiling ke luar negeri, dengan modus bergeser dari pengiriman hewan hidup ke sisik dan daging bernilai tinggi.

  • Diskusi menekankan pentingnya kesadaran generasi muda serta kolaborasi multipihak untuk patroli habitat, kompensasi masyarakat sekitar hutan, dan harmonisasi regulasi internasional agar penyelundupan dapat ditekan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Maraknya perdagangan ilegal tenggiling di Sumatra Utara menjadi sorotan dalam Diskusi Publik “Melindungi Tenggiling, Menjaga Hutan” yang digelar WALHI Sumut di SABAH Coffee, Medan, pada Kamis (25/6/2026).

Diskusi ini menghadirkan pegiat lingkungan, akademisi, komunitas, serta Balai Besar KSDA (BBKSDA) Sumut untuk membahas kondisi perdagangan satwa liar dilindungi tersebut.

Data yang dihimpun menunjukkan tenggiling kini menjadi komoditas satwa liar ilegal paling tinggi di Sumut. Dari data SIPP PN di Sumut, kasus tenggiling mencapai 28%, melampaui harimau yang hanya 10%. Pada akhir April-awal Mei 2026 saja, ada 5 operasi penegakan hukum di Sidimpuan, Simalungun, dan Tapanuli Selatan yang menyita tenggiling.

“Tenggiling ini salah satu satwa yang paling banyak diperlukan. Tapi ironisnya belum ada rencana aksi konservasi khusus untuk tenggiling dari pemerintah. Yang ada orangutan, gajah, badak, tapir, rangkong, siamang. Tenggiling gak ada,” ujar M. Indra Kurnia, dari Orangutan Information Center (OIC).

  1. 1. Sumut menjadi pintu transit Internasional

    IMG_20260625_104557.jpg
    Walhi Sumut menggelar diskusi publik bertema Melindungi Tenggiling, Menjaga Hutan (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Dede Syahputra Tanjung dari BBKSDA Sumut membenarkan Sumut menjadi titik rawan. Sebab, wilayah Sumatra Utara ini menjadi pintu penyelundupan sisik tenggiling dari Pantai Timur, Asahan dan Tanjung Balai.

    "Modus yang diungkap aparat, Sumut jadi wilayah transit. Sisik dikumpulkan di sini lalu diselundupkan ke luar negeri, seperti negara Malaysia dan Thailand,” katanya.

    Menurut Dede, pola penyelundupan terus berubah. Tahun 2008 pernah melibatkan pesawat Rusia. Tahun 2010, 300 ekor tenggiling hidup gagal diselundupkan lewat laut. Selanjutnya 2-3 tahun terakhir, modus bergeser ke pengiriman sisik dan daging.

    “Sisik lebih mahal karena ada effort. Untuk dagingingnya satu ekor berat 7 kilo dijual Rp2,5 juta. Tapi sisik harganya jauh lebih tinggi. Banyak yang jual online,” jelas Dede.

    Kasus terakhir terungkap di J&T Tembung. Sisik dari Garut dikirim ke Medan untuk ditampung di Marelan, lalu dikumpulkan dan diselundupkan lewat pintu keluar dekat Selat Malaka.

  2. 2. Regulasi yang lemah dan aparat yang terjerat

    IMG_20260625_110510.jpg
    Walhi Sumut menggelar diskusi publik bertema Melindungi Tenggiling, Menjaga Hutan (IDN Times/Indah Permata Sari)

    OIC juga menyoroti celah regulasi Indonesia dengan negara tujuan seperti China, Vietnam, Kamboja. “Di Indonesia dilindungi, di tempat lain boleh. Ini jadi peluang bisnis ilegal,” kata Indra.

    BBKSDA mengaku upaya rehabilitasi sudah dilakukan. Satwa sitaan direhabilitasi dan dikembangbiakkan sebagai plan B jika populasi habis.

    “Di Jawa Timur sudah ada yang berhasil breeding. Ini coba kita duplikasi,” ujarnya.

    Dia juga menyinggung kasus aparat terjerat. “Setahun lalu ada anggota TNI yang terlibat. Tapi nggak sampai ke atasnya. Di pengadilan alasannya lupa ingatan,” ujarnya.

    Soal kesadaran masyarakat, Dede menambahkan sepanjang 2026 baru ada kurang dari 5 ekor tenggiling yang diserahkan warga ke BBKSDA.

    “Ada yang sadar karena dilindungi, ada juga karena nggak dapat pembeli. Saya belum tahu persis,” katanya.

  3. 3. Menargetkan kesadaran anak muda tentang tenggiling dilindungi dan terancam punah

    IMG_20260625_110145.jpg
    Walhi Sumut menggelar diskusi publik bertema Melindungi Tenggiling, Menjaga Hutan (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Sementara itu, Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba, menegaskan target diskusi adalah membangun kesadaran anak muda Medan bahwa tenggiling dilindungi dan terancam punah.

    “Sumut ini wilayah penjualan dan jalur distribusi ke negara tetangga. Kalau ekosistem tenggiling hilang, hama akan naik dan merusak hutan serta perkebunan warga,” kata Rianda.

    Diskusi ditutup dengan dorongan kolaborasi multipihak untuk melakukan patroli kolaboratif di habitat, strategi kompensasi ke masyarakat sekitar hutan, dan harmonisasi regulasi di forum CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) adalah perjanjian internasional antar pemerintah, agar tidak ada celah penyelundupan.