ilustrasi guru dan siswa (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
Wawan mengingatkan bahwa peran guru tidak berhenti pada kegiatan mengajar di kelas. Guru juga diharapkan membentuk karakter, menanamkan nilai kebangsaan, menjadi teladan, serta menciptakan lingkungan belajar yang menghargai perbedaan.
“Artinya bahwa anak-anak lebih banyak meniru daripada mendengar, cara kita menyikapi perbedaan cara kita bermedia sosial dan cara kita mencari informasi akan menjadikan pelajaran yang paling membekas,” ujarnya.
Ia meminta guru menjadi pendengar yang baik ketika siswa mengalami masalah atau menunjukkan perubahan perilaku. Menurutnya, siswa yang mulai menarik diri, memusuhi teman, atau menyimpan persoalan tanpa bercerita perlu mendapat perhatian dari lingkungan sekolah.
“Banyak dari awal keretakan muncul dalam bentuk sederhana yaitu anak yang menarik diri mulai memusuhi temannya atau menyimpan sesuatu yang tidak ia ceritakan, guru yang dekat dan dipercaya adalah benteng pertama yang paling efektif menangkal (ideologi kekerasan),” kata Wawan.
Selain membangun kedekatan dengan siswa, guru juga diminta menyebarkan pesan positif tanpa menghakimi atau memprovokasi. Wawan menilai nilai perdamaian, toleransi, dan kemerdekaan dapat menjadi narasi tandingan untuk menghadapi pesan kebencian yang beredar di ruang digital.
“Guru mestinya mengajak dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia siswa, nilai damai, toleransi dan kemerdekaan adalah bahan terbaik untuk narasi tandingan terhadap narasi-narasi kebencian,” tutupnya.