Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Orang Bertato Tidak Bisa Donor Darah? Ini Penjelasannya

Kota Medan
3 min read
Benarkah Orang Bertato Tidak Bisa Donor Darah? Ini Penjelasannya
Ilustrasi tatto (pexels/Kevin Bidwell)
  • Pemilik tato tidak dilarang donor darah seumur hidup; perhatian medis berfokus pada proses pembuatan tato yang melibatkan jarum dan potensi kontaminasi.
  • Setelah membuat tato, tindik, atau rias permanen, calon pendonor perlu menunggu minimal 6–12 bulan untuk meminimalkan risiko infeksi seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV.
  • Usai masa tunggu, pemilik tato tetap harus lolos pemeriksaan kesehatan, termasuk Hb, tekanan darah, dan uji laboratorium; studio tato steril membantu menjaga keamanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak orang mengira bahwa orang yang memiliki tato di tubuhnya secara otomatis dilarang untuk mendorokan darah. Anggapan inilah yang membuat para pemilik tato ragu untuk mendorkan darah mereka sebagai aksi kemanusiaan.

​Namun, apakah hal tersebut benar adanya menurut sudut pandang medis? Ternyata, pemilik tato tetap bisa menjadi mendonorkan darahnya asalkan memenuhi persyaratan dan masa tunggu tertentu. Simak 5 penjelasannya di bawah ini agar kamu tidak keliru lagi!

  1. 1. Anggapan dilarang seumur hidup adalah Mitos

    Ilustrasi orang bertatto
    Ilustrasi orang bertatto (pexels/Tima Miroshnichenko)

    Secara medis, anggapan bahwa orang bertato dilarang melakukan donor darah selamanya adalah tidak benar. Lembaga donor darah resmi, seperti Palang Merah Indonesia (PMI) juga Palang Merah Internasional, tidak pernah melarang pemilik tato untuk mendonorkan darah mereka secara permanen.

    ​Hal yang menjadi perhatian khusus tim medis bukanlah keberadaan tinta tatonya, tetapi proses pembuatan tato yang melibatkan penggunaan jarum suntik dan risiko kontaminasi pada kulit.

  2. 2. Adanya masa tunggu (deferral period) demi keselamatan

    Ilustrasi orang bertatto
    Ilustrasi orang bertatto (pexels/cottonbro studio)

    Mesikpun diperbolehkan, orang yang bertato tidak boleh langsung mendonorkan darah tepat selesai ditato. Berdasarkan standar Palang Merah Indonesia (PMI) dan World Health Organization (WHO), orang yang baru membuat tato harus melewati masa jeda atau waktu tunggu minimal 6 hingga 12 bulan.

    Jeda waktu ini sama halnya berlaku dengan orang yang baru saja melakukan prosedur piercing (tindik tubuh) ataupun rias permanen seperti sulam alis.

  3. 3. Alasan medis: meminimalisir risiko infeksi

    Ilustrasi donor darah
    Ilustrasi donor darah (pexels/Pavel Danilyuk)

    Nah, kamu pasti bertanya "kenapa harus menunggu waktu 6-12 bulan?" Karena proses pembuatan tato melibatkan luka tusukan jarum pada lapisan kulit. Jika peralatan tato yang digunakan tidak steril atau tinta terkontaminasi, ada risiko penularan penyakit infeksi menular lewat darah.

    ​Beberapa risiko infeksi penyakit seperti Hepatitis B, Hepatitis C, hingga HIV bisa ditularakan melalui jarum suntik. Masa jeda bertujuan memberi waktu bagi tubuh untuk memastikan pendonor bebas dari window period (periode jendela), yaitu rentang waktu saat infeksi sudah masuk ke tubuh tetapi belum terdeteksi oleh alat tes laboratorium.

  4. 4. Wajib lolos screening kesehatan resmi

    Ilustrasi cek kesehatan
    Ilustrasi cek kesehatan (pexels/MedPoint 24)

    Jika masa tunggu 6–12 bulan sudah dilalui, calon pendonor bertato tetap wajib melakukan serangkaian tes screening kesehatan secara resmi.

    ​Tim medis akan melakukan pemeriksaan fisik awal, pengecekan kadar hemoglobin (Hb), tekanan darah, serta uji saring sampel darah di laboratorium untuk memastikan darah yang didonorkan benar-benar steril dan aman bagi penerima donor.

  5. 5. Pastikan membuat tatto di studio steril

    Ilustrasi pembuatan tatto
    Ilustrasi pembuatan tatto (pexels/Matt Jerome Connor)

    Sangat penting sekali memilih studio tato yang menerapkan standar higienitas yang tinggi untuk keamanan jangka panjang diri sendiri ataupun orang lain (penerima donor). Studio tato yang profesional selalu menggunakan jarum sekali pakai, jarum yang dibungkus steril, tinta berlisensi, serta peralatan yang didisinfeksi secara medis.

    ​Proses pembuatan tato yang aman dan steril tidak hanya menjaga kesehatan kulitmu, tetapi juga memudahkanmu saat ingin mendonorkan darah di kemudian hari.

    ​Jadi, jika kamu yang memiliki tato di tubuh, jangan pernah ragu untuk mendonorkan darahmu selama masa jeda pembuatan tatomu sudah melampaui batas minimal dan lolos tes kesehatan dari PMI ataupun rumah sakit setempat. Dengan melakukan donor darah, kamu sudah melakukan hal yang terpuji untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Sudah pernah donor darah?

    ​Referensi :

    1. ​Palang Merah Indonesia (PMI):Syarat dan Ketentuan Umum Calon Pendonor Darah PMI (Masa Penundaan Donor/Deferral Period untuk Tato & Tindik).

    2. ​World Health Organization (WHO):Blood Donor Selection: Guidelines on Assessing Donor Suitability for Blood Donation (Section on Tattoos, Body Piercings, and Tattooing).

    3. ​American Red Cross:Eligibility Criteria: Tattoos, Piercings, and Blood Donation Regulations.

    4. ​Centers for Disease Control and Prevention (CDC):Blood Safety & Blood-borne Pathogen Transmission Risks

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More