Apakah Generasi Millenial dan Gen Z saat ini masih mengonsumsi berita? Generasi Milenial dan Gen Z ternyata belum berhenti mengonsumsi berita.
Namun mereka mengonsumsinya secara berbeda, mengikuti logika distribusi yang merupakan kebalikan dari era sebelumnya: berita tidak lagi dicari, berita datang kepada mereka.
Dalam Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 yang diluncurkan oleh IDN dan IDN Research Institute baru-baru ini, membeberkan fakta secara global berdasarkan data dari Global Web Index (GWI) mengungkapkan bahwa pengguna media sosial berusia 45 tahun ke atas menyebutkan penemuan dan membaca berita sebagai alasan kedua yang paling umum mereka gunakan media sosial.
Sementara itu, mereka yang berusia 25 hingga 34 tahun menempatkan membaca berita di urutan ketiga, setelah tetap berhubungan dengan keluarga dan teman, serta mengisi waktu luang.
Yuk simak hasil survei yang dilakukan oleh IDN Research Institute:
Informasi sampai kepada mereka bukan melalui kunjungan aktif ke portal berita, tetapi melalui unggahan ulang di Instagram Stories, klip yang direkomendasikan algoritma di TikTok, atau utas yang beredar luas di X. Sebuah survei Jakpat yang dilakukan pada Desember 2024, yang mencakup 1.155 responden berusia 15 hingga 27 tahun, menemukan bahwa 63% dari mereka lebih memilih menggulir media sosial sebagai aktivitas waktu luang utama mereka, jauh di depan aktivitas fisik atau interaksi sosial langsung. Ini bukan sekadar preferensi hiburan.
Ini adalah infrastruktur tempat informasi, berita, dan opini mengalir saat ini. Pola konsumsi media sosial di Indonesia sangat personal dan sangat rentan terhadap gelembung filter. YouTube adalah platform yang paling banyak digunakan: 8 dari 10 pengguna media sosial Indonesia menggunakannya, dengan proporsi serupa di kalangan Gen Z.
Instagram berada di peringkat kedua, digunakan oleh sekitar 3 dari 4 pengguna, baik secara keseluruhan maupun di kalangan Gen Z. TikTok berada di peringkat ketiga, digunakan oleh hampir 2 dari 3 pengguna di kedua kelompok, seperti yang dilaporkan oleh YouGov dalam Laporan Konsumsi Media Indonesia Tahun 2025.
Ketiga platform tersebut beroperasi melalui mekanisme kurasi algoritma yang sangat berbeda. Ini berarti dua individu Gen Z yang sama-sama “mengikuti berita” dapat berada di dua ekosistem informasi yang hampir tidak bersinggungan.
Yang paling signifikan, mereka jarang secara aktif memverifikasi sumber, tetapi sangat sensitif terhadap konsistensi narator. Para kreator yang telah mempertahankan perspektif yang konsisten selama berbulan-bulan mendapatkan kepercayaan, bahkan ketika konten spesifik mereka tidak terverifikasi. Ini adalah logika kepercayaan berdasarkan rekam jejak, bukan kepercayaan berdasarkan institusi. Ini bukan tentang siapa yang lebih besar, tetapi tentang siapa yang terasa jujur.
Pola ini juga tercermin dalam jenis konten yang mampu menghentikan perilaku menggulir. Dari survei yang dilakukan oleh IDN Research Institute menemukan bahwa format berbasis data adalah pemicu perhatian yang paling ampuh, dengan 41,4% responden menyebutkan “data dan fakta yang disajikan secara visual” sebagai konten yang membuat mereka berhenti.
Angka ini melampaui humor atau meme yang membahas isu-isu serius (33,9%) dan pernyataan resmi dari pemerintah atau lembaga (33,9%), yang masih memiliki daya tarik yang sama dengan konten hiburan. Format pengalaman pribadi seperti video cerita pribadi pendek dari netizen (23,8%) dan liputan berita formal (21,6%) berada di bawah ini.
