Medan, IDN Times - Pengamat Ekonomi, Wahyu Ario Pratomo sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara (USU) menyoroti dampak untuk wilayah Sumatra Utara dalam kebijakan yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dikatakannya kebijakan tarif tinggi dari Presiden Donald Trump menjadi pukulan berat bagi ekspor Indonesia, termasuk Sumatra Utara. Namun, alih-alih terpuruk, Provinsi Sumut justru menjadikan krisis ini sebagai titik balik untuk membangun kekuatan ekonomi dari dalam. Diantaranya, UMKM, industri pengolahan, pertanian, pariwisata, hingga ekonomi kreatif kini jadi motor penggerak baru menuju ketahanan ekonomi daerah.
Kenaikan tarif impor produk dari Indonesia sebesar 32 persen, oleh pemerintahan Presiden Donald Trump menimbulkan efek domino terhadap perekonomian nasional.
"Sumatera Utara, salah satu provinsi dengan nilai ekspor tinggi ke Amerika Serikat, tak luput dari dampaknya. Pada 2024, ekspor Sumut ke AS tercatat mencapai USD 1,38 miliar, dengan neraca perdagangan yang menunjukkan surplus hampir USD 1 miliar. Kebijakan tarif tersebut mengancam menurunnya ekspor dan pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, alih-alih larut dalam kekhawatiran, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara perlu mengambil langkah strategis dengan memperkuat sektor-sektor ekonomi lokal," katanya pada IDN Times, Rabu (9/4/2025).
Dia menilai bahwa Gubernur Sumut, Bobby Nasution dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun ketahanan ekonomi berbasis potensi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
