Ilustrasi gajah sumatra (elephas maximus sumatranus). (IDN Times/Prayugo Utomo)
EEHV menjadi ancaman bagi kepunahan gajah. Selain perburuan dan berbagai kasus kematian. Virus ini menyerang gajah berusia di bawah 12 tahun. EEHV sangat sulit dideteksi. Gajah yang terjangkit akan membuat daya tahan tubuhnya melemah.
Dilansir dari waykambas.org, EEHV pertama dideteksi pada gajah Afrika tahun 1970. Kasus pertama pada gajah Asia terjadi di kebun binatang Washington Amerika pada 1995.
Di Asia dugaan kasus EEHV terjadi pada tahun 1997 dan terdeteksi pertama kali pada 2006 di Elephant Sanctuaary Cambodia. Selanjutnya EEHV ditemukan di negara-negara lain seperti Thailand, India, Nepal, Myanmar (Asia), Kanada dan Inggris.
Di Indonesia, kasus EEHV ditemukan di Aras Napal pada tahun 2009, di Tangkahan Medan tahun 2011 dan di PKG Way Kambas pada tahun 2014.
Kasus EEHV dalam beberapa tahun, marak terjadi di Indonesia. Garda Animalia, lembaga yang concern pada satwa dilindungi mencatat sejumlah kasus kematian gajah karena EEHV. Antara lain; kematian gajah Intan Setia di CRU Trumon pada 2021; Gajah Dumbo di Kebun Binatang Surabaya pada Desember 2022; Gajah Damar di TWA buluh Cina, Riau pada Januari 2023 dan Gajah Ryu di Taman Nasional Tesso Nilo pada Februari 2023.
EEHV menjadi perhatian serius bagi para konservasionis dan ilmuwan gajah. Hingga saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan EEHV.
“Eropa bisa bertahan hingga usisa 8 tahun. Dan biasanya kalau dia tidak kambuh sampai usia 12 tahun, dia akan betul betul selamat. Kematian ini menjadi duka yang mendalam bagi kita semua,” pungkas Turnip.