Diduga Dianiaya Senior di Papua, Anggota TNI Asahan Dimakamkan

- Pratu Farkhan Sauqi Marpaung dimakamkan di Asahan setelah diduga dianiaya senior di Papua.
- TNI melakukan penyelidikan serius atas dugaan kekerasan yang dialami Pratu Farkhan sebelum meninggal dunia.
- Salah satu terduga pelaku telah ditahan di POM Timika, keluarga sedih karena diduga tewas di tangan rekan sendiri.
Asahan, IDN Times- Pratu Farkhan Sauqi Marpaung, anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang meninggal dunia di Papua dimakamkan di kampung halamannya, Asahan, Sumatra Utara, Sabtu (31/1/2026). Sauqi dimakamkan di Dusun V, Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan.
Isak tangis keluarga pecah. Sauqi dimakamkan dengan upacara militer. Upacara dipimpin Komandan Brigif 25/Siwah, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, yang hadir mewakili institusi TNI Angkatan Darat.
1. Diduga dianiaya senior, TNI lakukan penyelidikan

Sauqi adalah anggota Yonif 113/Jaya Sakti, Aceh, yang tengah menjalani satuan tugas (satgas) di Papua. Peristiwa tragis ini disebut terjadi pada 31 Desember 2025.
Kolonel Inf Dimar Bahtera membenarkan adanya dugaan kekerasan yang dialami Pratu Syauqi sebelum meninggal dunia. Ia menegaskan, kasus ini tengah ditangani serius oleh TNI dan menjadi perhatian langsung pimpinan tertinggi.
“Adik kita ini meninggal karena sakit, namun memang ada dugaan kekerasan. Kejadiannya berada di daerah penugasan, sehingga proses pemeriksaan dilakukan sesuai mekanisme militer,” ujar Dimar kepada wartawan.
2. Salah seorang terduga pelaku ditahan di POM Timika

Menurutnya, penyelidikan dilakukan atas perintah langsung Panglima TNI Agus Subiyanto, melibatkan jajaran KASAD, Pangdam, hingga Polisi Militer (POM). Bahkan, kata dia, proses ini turut dikawal oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
“Kami juga orang tua bagi mereka. Kami kehilangan. Karena itu proses ini akan dilakukan secara profesional dan transparan,” tegasnya.
Saat ini, satu orang terduga pelaku telah ditahan di POM Timika. Namun penyelidikan belum berhenti. “Sejauh ini satu orang, tapi tidak menutup kemungkinan ada pelaku lain. Pemeriksaan masih berjalan,” jelas Dimar.
3. Keluarga sedih karena diduga tewas di tangan rekan sendiri

Sementara Ayah korban, Zakaria Marpaung, mengungkapkan bahwa keluarga awalnya mendapat informasi bahwa anaknya meninggal karena sakit.
“Kabar awal dari sepupunya, katanya Farkhan sedang sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian,” kata Zakaria, Jumat (2/1/2026).
Namun seorang senior berpangkat kompol diduga memanggil Pratu Farkhan untuk menjauh dari perapian hingga kemudian dugaan penganiayaan terjadi.
“Anak saya disuruh tunduk, lalu dipukul pakai ranting ke punggung. Dia sempat disuruh duduk tobat, lalu ditendang sampai jatuh. Katanya dia sempat melawan untuk mempertahankan diri,” pungkasnya.
















