Banjir Hantam SDN 11 Linge, Anak-anak Diharap Bisa Sekolah di Tenda

- Kepala sekolah menjadi saksi malam mencekam
- Trauma datang setiap hujan turun
- Sekolah di tenda, demi hak belajar anak
Medan, IDN Times- Derasnya banjir bandang yang membawa gelondongan kayu raksasa pada 26 November 2025 lalu menyisakan trauma mendalam bagi warga Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Aceh Tengah . Luapan sungai yang datang tiba-tiba tak hanya merendam puluhan rumah, tetapi juga menghantam fasilitas pendidikan SD Negeri 11 Linge yang berdiri tepat di bantaran sungai.
Sedikitnya 57 Kepala Keluarga (KK) terdampak dalam peristiwa tersebut. Air bah mengalir dengan kekuatan luar biasa, menyeret material kayu besar yang menghantam bangunan sekolah dan rumah-rumah warga di sekitarnya.
1. Kepala sekolah jadi saksi malam mencekam

Pariah, Kepala SD Negeri 11 Linge, menjadi salah satu saksi hidup keganasan banjir bandang itu. Rumahnya yang berdampingan langsung dengan sekolah turut diterjang arus, membuat malam tersebut berubah menjadi pengalaman paling menakutkan sepanjang hidupnya.
“Air mulai naik sejak pagi tanggal 26 Desember, tapi puncaknya sekitar jam satu malam. Kami tidak pernah membayangkan air bisa setinggi itu, apalagi membawa kayu-kayu besar,” ujar Pariah dengan suara bergetar, Kamis (1/1/2026).
Hujan deras yang mengguyur wilayah Linge selama tiga hari berturut-turut tanpa jeda membuat debit sungai meningkat drastis. Sekitar pukul 04.30 WIB, air mulai memasuki area sekolah. Tak lama kemudian, arus kian tak terkendali.
2.Trauma datang setiap hujan turun

Atas arahan kepala desa, Pariah dievakuasi ke posko pengungsian. Namun kepanikan sempat memuncak ketika anaknya terjebak di dalam rumah dan tak mampu menembus derasnya arus.
“Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah SWT, anak saya bisa selamat. Tapi malam itu seperti mimpi buruk. Ini banjir bandang pertama yang benar-benar kami alami, bukan lagi sekadar tontonan di televisi,” tuturnya sambil mengusap air mata dengan jilbab yang dikenakannya.
Pasca-bencana, ketakutan belum sepenuhnya hilang. Setiap hujan deras turun, kecemasan kembali menghantui warga, termasuk Pariah. Ia mengaku sulit memejamkan mata meski hujan hanya turun sebentar.
“Sekarang kalau hujan deras, jantung rasanya langsung berdebar. Takut kejadian itu terulang lagi,” katanya lirih.
3. Sekolah di tenda, demi hak belajar anak

Di tengah trauma dan keterbatasan, Pariah tetap memikirkan masa depan murid-muridnya. Ia berharap pemerintah segera mendirikan tenda darurat, bukan hanya sebagai tempat tinggal sementara warga, tetapi juga sebagai ruang belajar agar pendidikan tidak terhenti.
“Insya Allah tanggal 5 Januari kami ingin kegiatan belajar sudah berjalan, meskipun di tenda. Yang penting anak-anak tidak kehilangan hak untuk belajar,” ujarnya penuh harap.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan empati mendalam kepada masyarakat dan para tenaga pendidik yang terdampak bencana.
“Di balik setiap musibah pasti ada hikmah. Namun keselamatan masyarakat dan keberlanjutan pendidikan anak-anak harus menjadi prioritas. Anak-anak tetap wajib bersekolah dan mengaji meskipun berada di tengah bencana,” tegasnya.
Saat ini, pihak sekolah bersama pemerintah kampung dan pemerintah daerah terus berkoordinasi untuk menentukan lokasi belajar sementara yang lebih aman. Opsi relokasi permukiman warga ke wilayah yang minim risiko banjir bandang juga mulai dibahas, sebagai langkah jangka panjang mencegah tragedi serupa terulang.

















