BNN mencatat, Sumut menjadi peringkat 1 penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalahkan Jakarta. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Arman Depari pun heran, kenapa peredaran narkoba tidak ada habisnya. Bahkan ada yang nekat mengendalikannya dari balik jeruji.
Arman menduga, narapidana masih memiliki aset baik itu uang atau lainnya yang dapat digunakannya untuk memudahkan menjalankan bisnis narkoba. Untuk mendatangkan narkoba dari Malaysia ke Indonesia dibutuhkan uang yang sangat banyak. Ancaman pidana hukuman mati tampaknya juga tak membuat takut bandar.
Pandemik COVID-19 ini, kata Arman juga dimanfaatkan para bandar. Modusnya seringkali menyelundupkan narkoba pada hasil-hasil pertanian.
"Saya ingin mengingatkan bahwa daerah Aceh dan Sumut adalah daerah paling rawan baik terhadap masuknya penyelundupan narkoba dari luar negeri dan juga daerah pengguna terbesar di Indonesia," pungkasnya.