Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pekerja Migran asal Riau Tewas di Malaysia, Ditemukan di Rumah Majikan
Jenazah PMI asal Riau yang tewas di Malaysia saat tiba di Terminal Cargo Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru (IDN Times/ Fanny Rizano)

Pekanbaru, IDN Times - JD (24), perempuan asal Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau, ditemukan sudah tak bernyawa di Malaysia. JD diketahui merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Negeri Jiran tersebut, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

"Kami mendapat informasi dari kementerian bahwa ada seorang PMI wanita yang meninggal dunia di Malaysia," ucap Kepala Balai Pelayanan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Riau Fanny Wahyu Kurniawan, Selasa (11/3/2025).

Lebih lanjut dikatakannya, JD meninggal dunia setelah ditemukan tergantung di rumah majikannya. "Korban meninggal dunia karena hanging atau gantung diri di rumah majikannya," lanjut Fanny.

Dijelaskan Fanny, hal ini diperkuat berdasarkan hasil autopsi yang dikeluarkan pihak rumah sakit setempat.

"Autopsi jenazah dilakukan di Hospital AL Sultan Abdullah UITM, Puncak Alam, Selangor, Malaysia. Dugaan kuat penyebab meninggalnya karena hanging atau gantung diri," jelasnya.

"Korban dinyatakan meninggal dunia hari Jumat (7/3/2025)," sambungnya.

Kini, jenazah JD telah tiba di Terminal Cargo Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, untuk selanjutnya dibawa ke kampung halamannya. 

1. Belum diketahui penyebabnya

Kepala BP3MI Riau Fanny Wahyu Kurniawan (IDN Times/ Fanny Rizano)

Terkait dengan hal itu, Fanny menerangkan bahwa pihaknya belum mengetahui apakah gantung diri tersebut bunuh diri, atau ada hal lainnya. BP3MI Provinsi Riau hingga saat ini masih melakukan koordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia. 

"Penyebab pastinya belum tahu kita. Pihak berwenang disana masih melakukan penyelidikan," terangnya.

2. Deportasi 31 PMI ilegal, terbanyak dari Aceh dan Sumut

31 PMI ilegal yang dideportasi Malaysia tiba di Pelabuhan Internasional Kota Dumai (IDN Times/ dok BP3MI Riau)

Di sisi lain, Malaysia kembali mendeportasi 31 PMI, yang dipulangkan melalui jalur laut dengan ketibaan di Pelabuhan Internasional Kota Dumai, Senin (10/3/2025). Para PMI yang dideportasi itu, terdiri dari 23 laki-laki dan 8 perempuan. Mereka masuk ke Malaysia dengan cara ilegal.

"Mereka masuk ke Malaysia tidak sesuai prosedur. Mereka dideportasi setelah menjalani hukuman di Depot Tahanan Imigresen (DTI) KLIA, Selangor, Malaysia," ujar Kepala BP3MI Provinsi Riau itu.

Berdasarkan data, PMI ilegal terbanyak berasal dari Aceh dengan jumlah 14 orang. Selanjutnya disusul dari Sumatera Utara (Sumut) sebanyak 10 orang, Jawa Timur (Jatim) 4 orang, serta Riau, Jambi dan Jawa Tengah (Jateng) masing-masing 1 orang.

Selanjutnya, seluruh PMI ilegal yang dideportasi ini dibawa ke selter atau rumah ramah PMI di kantor P4MI Kota Dumai untuk pendataan, pelayanan, dan pelindungan sambil menunggu untuk dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing.

3. Dua PMI wanita dalam kondisi hamil

Puluhan PMI ilegal yang dideportasi Malaysia saat di rumah tamah Kota Dumai (IDN Times/ dok BP3MI Riau)

Lebih lanjut dikatakannya, dari 31 PMI ilegal tersebut, dua wanita di antaranya dalam kondisi hamil. Kedua wanita itu berasal dari Kabupaten Asahan, Provinsi Sumut.

"Dari hasil pemeriksaan terdapat dua wanita yang sedang hamil tujuh bulan dan hamil tiga bulan," tutur Fanny.

Depresi bukanlah persoalan sepele

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.

Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:

RSJ Amino Gondohutomo Semarang(024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor(0251) 8324024, 8324025
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta(021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang(0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang(0341) 423444
Rumah Sakit Jiwa Prof.Dr.M. Ildrem Sumut (061) 8360542

Selain itu, layanan konseling kesehatan jiwa juga tersedia di rumah sakit umum, puskesmas, biro psikologi, dan juga melalui online. terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article