Comscore Tracker

Perjuangan Irma Sinaga, Guru Honorer Ajak Orangtua Bangun Literasi

Irma lahir di Batubara tapi mengabdi di Jambi

Jambi, IDN Times - Irma Sari Sinaga, anak perempuan ketiga dari empat bersaudara oleh pasangan Bapak Firman Sinaga dan Ibu Lameria Hasibuan.

Irma dilahirkan di salah satu kabupaten kecil di Sumatera Utara yaitu Indrapura, Kabupaten Batubara pada hari Senin, 16 Februari 1998.

Lahir di Kabupaten kecil dengan suasana pedesaan yang asri membuatnya menjalani hidup sesederhana tanah kelahirannya.

Sebagai manusia alam, Irma memiliki hobi traveling, camping, dan berolahraga. Irma menjadikan hobinya sebagai kegiatan untuk me-refresh kejenuhannya.

Yuk simak kisahnya:

Baca Juga: 35 Juta Token Digital Gamers Dalam Negeri $VCG Sold Out Dalam 6 Jam

1. Irma pribadi yang mandiri dan pekerja keras

Perjuangan Irma Sinaga, Guru Honorer Ajak Orangtua Bangun LiterasiIrma Sinaga, Guru Honorer Ajak Orangtua Bangun Literasi (Dok. IDN Times)

Lahir dalam keluarga sederhana membuat Ia menjadi pribadi yang mandiri, pekerja keras, dan selalu mewujudkan kemauan dan keinginannya sendiri melalui tabungan 2000-an yang rutin dimulai sejak Ia kelas 4 usia sekolah dasar.

Menjadi anak perempuan ketiga tidak membuatnya menjadi manja dan sesukanya dalam keluarga, justru menjadi anak perempuan ketiga membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk membanggakan orang tuanya setelah keberhasilan kedua kakaknya.

Irma menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 189/VIII Pematang Sapat pada tahun 2004-2010. Kemudian, atas permintaan ibunda tercinta, Irma menempuh pendidikan menengah pertamanya di SMPN 35 Kabupaten Tebo pada tahun 2010-2013.

Menjadi lulusan terbaik di SMP membuatnya memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan menengah atas di sekolah terbaik di Kabupaten Bungo.

“Pendidikan tetap nomor satu,” ujar Irma, Senin, (10/1/2021).

Tetapi lagi-lagi, setelah banyak pertimbangan ibunda tercinta memilih sekolah menengah atas yang menurutnya baik. Irma menempuh pendidikan menengah atas di SMA Negeri 3 Muara Bungo atau sekarang ganti nama menjadi SMA Negeri 4 Muara Bungo pada tahun 2013-2016.

Irma menamatkan studi S1 nya di Universitas Negeri Jambi dengan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Irma menamatkan pendidikan sarjana sesuai keinginan ibunya dengan bantuan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) pada tahun 2021 dengan masa studi 3,7 tahun dengan prestasi Cumlaude.

2. Mengabdi sebagai guru honorer di SDN 158/VIII Rimbo Mulyo Tebo

Perjuangan Irma Sinaga, Guru Honorer Ajak Orangtua Bangun LiterasiIrma Sinaga, Guru Honorer Ajak Orangtua Bangun Literasi (Dok. IDN Times)

Setelah lulus, Irma mendaftar di beberapa sekolah dan akhirnya diterima di SD Negeri 158/VIII Rimbo Mulyo. Menjadi guru muda yang belum memiliki pengalaman membuatnya sedikit kurang percaya diri dengan kemampuannya.

Tetapi, berkat dorongan kepala sekolah dan bimbingan rekan kerja membuatnya tetap semangat dan terus mencoba memberikan yang terbaik untuk peserta didik dan sekolah.

Salah satu kabar baik yang Irma dapatkan saat menjadi guru di SD Negeri 158/VIII Rimbo Mulyo adalah ketika tahu bahwa sekolah tersebut merupakan sekolah mitra program PINTAR Tanoto Foundation.

“Kemudian saya menjadi salah satu fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation,” katanya.

Mata pelajaran yang ia geluti saat ini adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ia tidak berhenti-henti mengucap syukur atas pencapaian yang sudah diperoleh.

3. Memilih menjadi pejuang literasi

Perjuangan Irma Sinaga, Guru Honorer Ajak Orangtua Bangun LiterasiIrma Sinaga, Guru Honorer Ajak Orangtua Bangun Literasi (Dok. IDN Times)

Sebagai tenaga honorer membuat Irma berkeinginan untuk memberikan sesuatu yang lebih untuk sekolah.

Atas dukungan dari kepala sekolah dan rekan kerja, Irma termotivasi untuk mengembangkan budaya baca dan literasi di sekolahnya.

“Kegiatan Literasi Bersama Orang Tua di Pondok Baca” adalah tema yang Irma kembangkan.

Atas dukungan dan motivasi yang diberikan, Irma mengajak orangtua untuk membaca buku 15 menit setiap hari di pondok baca yang telah dibuat oleh warga sekolah.

“Budaya baca harus diperkenalkan sejak dini, salah satunya harus mengajak orangtua, agar ketika mereka kembali ke rumah, sudah biasa baca buku,” tukas Irma.

Kegiatan literasi yang dilaksanakan di sekolah adalah kegiatan membaca bersama orang tua yang rutin dilaksanakan.

Kegiatan tersebut juga untuk memberikan ruang bagi guru, orang tua dan peserta didik untuk lebih dekat dan lebih memahami kemampuan peserta didik dalam membaca dan memahami makna bacaan.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan orang tua dan guru dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan kemampuan literasi peserta didik,” katanya.

Orangtua dan peserta didik sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Menurut orangtua, kegiatan literasi bersama orangtua di pondok baca ini membuat orang tua mengetahui perkembangan belajar anak, memberikan suasana literasi yang berbeda kepada peserta didik.

“Memberikan kesempatan untuk lebih dekat dengan lingkungan sekolah, dan memberikan motivasi kepada anak-anak kami lebih giat dalam belajar,” ujar Ricu Widyawati, salah satu orangtua.

Ke depan, Irma dan orang tua berharap kegiatan literasi bersama orangtua dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Jadwal dan memberikan motivasi kepada semua tenaga pendidik untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan. Prinsip belajar yang selalu menjadi pegangan Irma adalah bukan bagaiman peserta didik menjadi pintar, tetapi bagaimana peserta didik dapat memahami materi dan makna dari sebuah proses pembelajaran.

Baca Juga: Mengenal Bakhtiar Sibarani, Bupati Tapteng yang Bertabur Prestasi

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya