Stasiun KAI Binjai (Dok. KAI Divre I Sumut)
Kini, peran Stasiun Binjai bergeser lebih strategis sebagai pendukung utama mobilitas harian masyarakat. Hal itu didukung hadirnya KA Srilelawangsa yang dikelola KAI Bandara dengan tarif terjangkau Rp5.000. Antusiasme warga terlihat dari volume harian tertinggi di Stasiun Binjai yang mencapai 9.985 penumpang pada hari kerja dan 9.730 penumpang pada akhir pekan.
Pergerakan harian juga tecermin dari penggunaan fasilitas parkir. Stasiun Binjai memiliki daya tampung 400 sepeda motor dan 35 mobil. Data KAI Services mencatat, pada hari kerja, angka tertinggi kendaraan yang parkir mencapai 600 sepeda motor dan 89 mobil, sementara pada akhir pekan jumlahnya menurun drastis.
"Dari kedua data tersebut menunjukkan bahwa peran Stasiun Binjai yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya ini telah bergeser, dari dulunya melayani angkutan perkebunan, sekarang telah beralih fungsi menjadi pendukung mobilitas harian masyarakat Kota Binjai," terang Anwar.
Menurutnya, perjalanan sejarah Stasiun Binjai menjadi bukti bahwa kereta api tidak hanya hadir sebagai saksi pembangunan, tetapi juga motor penggerak transformasi kawasan dari wilayah perkebunan menjadi pusat perkotaan yang dinamis.
"KAI Divre I Sumatra Utara berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian nilai sejarah dan cagar budaya Stasiun Binjai, sekaligus mengoptimalkan keandalan layanannya demi mendukung mobilitas harian masyarakat serta memperkuat konektivitas ekonomi wilayah Sumatra Utara secara berkelanjutan," pungkasnya.